Tuesday, June 7, 2016

Mate - Mati(12+1+2) - Kah?

Hai, kemarin sempet coba ikut lomba buat cerpen dalam rangka hari ultah jurusan Pend. Matematika...., temanya di sesuaikan dengan Matematika.

     Miris, bukan main sulitnya mendapatkan juara, aku sebenarnya juga sadar sih kalau cerpen ini, standar, nggak nge-fell atau nggak bisa masuk nominasi 3 besar. Dari awal memang sebenarnya kurang PD sama cerpen buatan sendiri ini, pasalnya gaya penulisannya bukan cerpen sih.... melainkan kayak nulis diary.

    Cerpen ini aku buat atas permintaan sabahat besar-ku, Ghina Fathira Pasaribu. cerpen ini adalah kisah compang-camping dari kami ber 12+1+2.....

Oh iya.... maaf ya teman-temin dukungan kalian jadi sia-sia, soalnya cerpennya gak menang....
Tapi reaksi kalian pas aku kasih filenya buat dibaca, buat aku terharu....., kita bersama begitu eksprektif.....

Selamat menikmati membaca...., 


*****
Dua belas ditambah satu ditambah dua hasil akhirnya adalah lima belas. Bagaimana jika lima belas itu kehilangan satu?, apakah dia akan berubah menjadi empat belas?... Bagaimana jika dia kehilangan dua lagi?, apakah akan menjadi dua belas?... Bagaimana jika lima belas itu kehilangan semuanya?, apa lima belas itu akan kehilangan tempatnya?, kehilangan takdirnya dari ada menjadi hampa?, dari sesuatu yang bermakna menjadi sesuatu tak berarti?...

Ini kisah ku, menemukan sebuah takdir yang mempersatukan lima belas itu. Dan, takdir itu dimulai dari sini…

Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara
Gedung Tarbiyah II, 2013

Matahari belum sepenuhnya muncul dari persembunyiannya, masih mengintip-intip di balik celah awan yang berarak cukup lebar diatas sana. Untuk situasi yang masih gelap, seharusnya orang-orang masih enggan untuk melakukan aktivitasnya, ditambah cuaca dingin yang mumpuni untuk berleha-leha dibawah atap rumah. Tapi, ini berbanding terbalik dengan mahasiswa baru yang sudah menunggu sejak kemarin hari untuk memulai perkuliahan mereka yang pertama.

Aku salah satu mahasiswa baru itu, dengan pakaian yang sudah tidak diatur untuk seragam lagi saat belajar, dengan bangganya berjalan bersisiran dengan mahasiswa lainnya. Bersemangat untuk memulai hidup ini secara dewasa.

Semua mahasiswa baru dikumpulkan sesuai jurusannya, dibentuk beberapa barisan panjang kebelakang, diberi pengarahan singkat sebelum mereka melangkah lebih maju untuk mendapatkan pelajaran. Ada ratusan wajah yang sedang berbaris sekarang. Wajah-wajah ini, akan menemaniku di tahun-tahun mendatang sebagai mahasiswa jurusan pendidikan matematika. Mungkin aku bisa menghapal beberapa wajah diantaranya, siapa yang tahu, bisa jadi mereka akan menjadi teman sekelasku kelak.

Terlihat beberapa mahasiswa baru sudah terlihat akrab, mungkin keakraban mereka di dapatkan dari masa pengospekan beberapa hari yang lalu. Ada yang mencoba peruntungan untuk mengenalkan diri dahulu kemudian menjadi akrab setelahnya. Sedangkan, aku mungkin satu-satunya mahasiswa yang belum berani unjuk gigi memperkenalkan diri, sehingga sampai sekarang aku hanya mempunyai satu teman. Teman se-SMA ku yang juga ternyata mengambil jurusan yang sama di universitas yang sama pula. Dan dia sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya.

Sampai pengarahan selesai, aku masih tetap sendiri. Terpaku menatap nanar ke banyak mahasiswa yang sudah mulai membentuk kelompok-kelompok kecil, pertanda mereka sudah mendapatkan temannya masing-masing.

Matahari sudah mulai beranjak naik saat kami mulai digiring ke gedung kelas untuk mencari di kelas mana kami di tempatkan. Putri –teman se-SMA ku itu, sudah terlihat saat aku memasuki kelas yang beberapa semester kedepan akan menjadi kelasku. Ternyata kami sekelas, satu kelegaan yang sangat luar biasa. Setidaknya aku tidak akan canggung karena mempunyai minimal satu teman. Aku mengambil tempat duduk disamping Putri. Beberapa wajah yang tadi ku hapal ternyata memasuki kelas yang sama. Tinggal menunggu saat pengenalan diri dan aku akan dipusingkan untuk menghapal nama mereka. Dosen telah masuk, dan absen bergilir telah dimulai.

“Kania Ulfah”.

Aku mengangkat tangan sembari berucap, “Saya bu” namaku telah dipanggil, ini saatnya unjuk gigi. Aku memperkenalkan asal sekolah ku, kemudian alamat rumahku dan menjawab beberapa hal yang ditanya asal oleh dosennya.

Perkenalan itu berakhir, dan sedikit membuatku mengerti bahwa sekarang aku harus mekar sebagai seseorang yang sudah mulai beranjak dewasa.  Tidak ada lagi sifat manja, mengingat ternyata banyak temanku yang mencoba hidup mandiri menjadi anak kost hanya untuk mengenyam pendidikan. Tidak sedikit dari mereka yang berasal dari kota yang benar-benar jauh dari universitas ini.

Sebagai warga asli kota ini aku harus menyambut mereka dengan baik. Teman-teman, ayo kita bentuk pertemanan kita.

***

Akhirnya aku menemukan “dua belas” itu… (12)

Gedung Tarbiyah II, Pendidikan Matematika-2, 2013
7 bulan setelah menjadi mahasiswa baru

Aku kira menjadi mahasiswa itu sangat menyenangkan, ternyata semua tayangan sinetron yang menunjukkan bahwa mahasiswa itu hanya “ngampus-pulang”, itu salah. Aslinya, aku harus banting mata saat ada tugas yang harus dikerjakan semalam suntuk, terlebih Kalkulus I yang buat pusing, membuat otak harus ekstra dua kali lipat untuk berpikir.

Belum lagi harus mengejar pelajaran, mengingat bahwa cara dosen dan guru mengajar itu berbeda, tidak ada pengertian dosen kepada mahasiswa yang tidak mengerti. Semua pelajaran harus diselesaikan tepat dengan masa16 kali pertemuan dalam satu semester. Dan aku hampir menyerah menjadi seorang mahasiswa di jurusan pendidikan matematika.

Tapi, siapa yang menyangka kalau selain pelajaran aku mendapatkan teman-teman yang cukup solid di kelas ini. Walau jika di lihat-lihat, kami sebenarnya membentuk kelompok kecil di dalamnya. Seperti kelompok kecil yang aku dapatkan, mereka adalah aku, Putri, Ufli, Mawa dan Ningsih. Walau aku hanya mendapat 4 teman yang mungkin kami bisa akrab karena cara berteman yang sama, tapi itu tidak masalah karena pertemanan kami cukup indah terhitung selama aku menjadi mahasiswa disini.

“Ira ultaaah, Ira ultaaah…., nanti jangan pulang dulu ya!” Zahwa sang bendahara berkoar-koar di kelas, tentu saja setelah Ira keluar untuk permisi ke kamar mandi. Zahwa mengkoordinir kalau dia dan beberapa teman lainnya yang sudah bergabung dalam kelompok kecil yang lain, sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Ira. Aku sebenarnya tidak berharap untuk ikut merayakannya, terlebih karena kami mempunyai perbedaan dalam cara berteman.

Tiba-Tiba, Ufli menyekut lenganku, menyatukan pendapat bahwa kami akan ikut memeriahkan acara ultah Ira. Baiklah, sepertinya aku juga ingin melihat seperti apa jika anak-anak mahasiswa merayakan ulang tahun. Apakah sama seperti saat aku merayakannya dengan teman-teman SMA ku dahulu, apakah ada acara lumur-lumuran tart di penghujung acara?, atau adakah nanti prosesi pembuatan adonan kue –tepung, telur dan air di kepala Ira?. Kita lihat saja nanti.

***

Berhari-hari setelah ultah Ira berlangsung, Zahwa membawa catatan kecil kemudian berkeliling kelas dan menanyakan masing-masing diantara kami, apakah kami ikut saat merayakan ultah Ira dan jika ya, maka kami harus ikut membayar patungan untuk membeli kado Ira. Aneh sekali, aku pikir bahwa kami bisa ikut memeriahkan secara gratis. Tapi, ternyata memang anak matematika tidak bisa di hindari dari hitung-menghitung, apalagi menyangkut tentang menghitung uang.

Aku membayar sesuai permintaan. Kalau di pikir-pikir tidak ada salahnya karena, toh aku mendapatkan kesenangan saat acara itu berlangsung. Ternyata pertemanan kelompok kecil yang Zahwa ikuti dengan kelompok kecilku bisa akrab juga. Pikiranku yang menyetujui kalau berteman itu harus mempunyai prinsip yang sama, sepertinya perlu di pertanyakan lagi. Ada beberapa kelompok kecil lain yang kemarin ikut bergabung dan kami bisa sangat akrab.

Ultah Ira di hadiri empat orang dari kelompok kecil kami –Mawa tidak bisa hadir kemarin, tiga orang dari kelompok kecil lain yaitu Nisa, Tika dan Sari, dan kelompok kecil lainnya Wina, Nur, Zahwa, Vana dan tentu saja yang berulang tahun yaitu Ira.

Tidak tahu apa alasannya, tetapi ke dua belas orang ini selalu patungan bersama saat ada yang berulang tahun setelahnya. Mulai saat itu kami ber-dua belas, membentuk pertemanan baru yang sangat solid.

Untuk menciptakan sebuah angka dua belas, bukan hanya operasi penjumlahan saja yang dapat di gunakan, tetapi operasi pengurangan yang mempunyai keududukan penting sama hal nya seperti penjumlahan. Seperti kami, si “dua belas”, kelompok kecilku berkurang satu dengan terseleksinya Mawa . Dalam pertemanan, kami dua belas adalah lima dikurang satu di tambah tiga ditambah lima. Maka, kami adalah dua belas (12).

***

Kami mendapatkan si kecil “satu” yang tangguh (+1)

Mei 2014, 2 bulan setelah dua belas terbentuk

Semakin hari, semakin indah saja pertemanan yang terjalin di antara kami ber-dua belas, dihinggapi rasa bahagia setiap hari, tentu saja tanpa di kurangi dengan hari Sabtu dan Minggu –hari tidak aktif kuliah. Walau tak bertemu, kami masih bisa saling sapa via sms, telepon bahkan facebook.
Selalu saja ada guyonan aneh disetiap pembicaraan, celetukan yang sedikit mengiris hati keluar dari beberapa mulut indah teman-temanku. Tetapi, itu tidak menjadi masalah, bukankah dalam pertemanan harus ada bumbu-bumbu tertentu sehingga pertemanan itu terasa lebih gurih?.

Kami tidak pernah membuka audisi untuk masuk ke dalam pertemanan kami, seperti mahasiswa-mahasiswa lainnya, walaupun kami membuat kelompok besar bermain bersama, tetapi kami juga tidak melupakan teman-teman lainnya dikelas, kami tidak cukup egois untuk memilih-milih teman, hanya saja situasi seperti selalu memihak kalau kami ber-dua belas ini untuk bisa mempunyai waktu bersama dalam bermain.

Pada suatu hari, berhari-hari setelah tanggal 1 Mei terlewati, kami mendapatkan si kecil tangguh “satu”. Dia adalah Alia, ditambah dengan keberadaannya, makin berwarnalah pertemanan ini. Awalnya, dia selalu saja bisa hadir saat kami memutuskan untuk pergi bermain, terlampau sering sehingga kami bukan lagi ber-dua belas tetapi berjumlah tiga belas.

Jadi lah kami, dengan nama kelompok yang sudah terkenal seantero jurusan pendidikan matematika. “12+1” siapa senior yang tidak mengenal kelompok kami?

Terkadang dalam matematika, hasil adalah sesuatu yang paling menentukan kebenaran dari suatu pengoperasian angka. Tetapi dalam pertemanan, kita harus menikmati proses bagaimana hasil itu di dapat, sama seperti saat kita mengerjakan sebuah soal matematika, dari pada memikirkan hasilnya, bukankah kau lebih bersemangat saat hasil itu masih mengambang di depan rumus-rumus yang sedang di kerjakan?. Kami memang sekarang berjumlah tiga belas, tetapi tiga belas itu akan kehilangan makna saat kita tidak menuliskan proses mendapatkannya. Maka kami bukanlah si “tiga belas”, melainkan kami adalah “dua belas di tambah satu (12+1)”sehingga akan menghasilkan tiga belas.

***

Kami mempunyai dua bodyguard yang memesona (+2)

Pertengahan bulan dalam tahun. Musim hujan mulai menampakan diri, Juni 2014.

       13 orang cewek yang rentan terhadap kejahatan, ternyata tidak cukup tangguh menjalani hari-hari secara mulus. Kami butuh sang pemberani untuk menemani di setiap perjalanan, mengiringi disetiap candaan dan menjadi tameng saat kami akan terluka.

       Setelah perjalanan panjang pertemanan kami, akhirnya kami menemukan sang pemberani itu. Dua orang lelaki yang sejatinya memesona khalayak umum. Kami tidak memilih, dan memang sebenarnya kami tidak berhak untuk memilih siapa yang ingin berteman dengan kami. Mungkin takdir Tuhan yang mengenalkan kami si “12+1” itu kepada dua pria yang memang selayaknya di peruntukkan untuk menjaga kami.

       Dua orang sempurna untuk melengkapi, mereka adalah Putra dan Wigun. Benar-benar lengkap sudah pertemanan ini, tidak perlu hal mewah saat kami bersama. Ini adalah pertemanan sederhana yang semua orang bisa dapatkan dengan cara mereka masing-masing, dan cara kami adalah dengan seperti ini, semua orang yang terikat di dalamnya pasti menginginkan hal yang sama, yaitu selalu bersama sampai akhir.

“hahaha, si Putra akhirnya kena juga”. Nur berseru kegirangan di  tempat duduknya. Ujung botol salah satu merk minuman bersoda yang isinya sudah kami habiskan sebelumnya itu tepat menunjuk ke arah Putra, semua mata teralihkan langsung ke arahnya. Sedang orang yang menjadi sosok perhatian bersiap diri menerima pertanyaan yang nantinya harus dijawab dengan jujur.

       Kami semua, sedang menginap di rumah Ira, di kamar yang selalu kami tempati jika tiba-tiba saja ada tugas dadakan yang membuat kepala melejit pusing kalau memikirkan tugas itu. Jadi, semua bekerja sama dalam menyelesaikannya.

       Awalnya, semua sudah siap dengan laptop masing-masing untuk mengerjakan tugas. Tapi, setelah cemilan malam datang, semua seakan lupa dengan tugasnya dan malah mempersiapkan diri untuk bermain TOD. Permainan yang mengharuskan, jika seseorang memilih “T” maka ia harus siap menjawab segala pertanyaan dengan jujur, dan jika memilih “D” maka dia harus siap untuk dijahili sedemikian bentuknya.

       Satu jagoan kami, Wigun sudah menjawab pertanyaan itu, dan hasilnya adalah jawabannya membuat semua orang jadi terlihat cengeng. Ternyata, jagoan kedua kami, Putra, juga sama saja, membuat tangisan serempak di tengah malam kedua. Di balik tampang memesona kedua bodyguard kami, ternyata mereka menyimpan hati yang melankolis.

       Sekarang kami sudah menjadi “12+1+2”, masih bisakah ikatan ini disebut ikatan pertemanan, atau aku terlalu munafik kalau mengalihkannya menjadi ikatan persahabatan. Teman-teman yang tidak pernah aku miliki sebelumnya. Mari kita saling menguatkan.

Kalian bisa bantu aku menjawab, kenapa nilai mutlak itu selalu menghasilkan hasil yang positif?, apa yang membuatnya bisa begitu?. Mungkin jawabannya sama seperti, kenapa di persahabatan kami harus di tambah dua orang lelaki?, bukankah jika isinya semua perempuan, kalian bisa lebih bebas untuk memasukkan tema apa saja dalam pembicaraan?. Kalau melihat keterkaitannya maka, semua hal memiliki porsi dan tempatnya masing-masing. Jika memang seperti itu, maka keberadaan dua orang itu mutlak harus ada di kelompok besar kami.

***

Kami kehilangan 1?, 2? Dan banyak lagi. Apakah ada kegagalan dalam “Persahabatan”?.

Beberapa bulan setelah Indonesia memiliki Presiden Baru.

“Anggap aku kayak biasa aja ya!”

“kalau kalian milih dia, yaudah mending aku yang menjauh!”

“kok tiba-tiba, kau diamin aku?”

“eh, dia kenapa?, lagi marahan ya?”

       Hampir beberapa bulan ini, persahabatan ini penuh dengan intrik. Aku kira ini hanya emosi sesaat saja. Aku rasa tidak ada yang salah disini, semua orang berhak marah, semua orang berhak merasakan butuh perhatian terlebih jika melihat persahabatan kami yang memiliki anggota cukup banyak di dalamnya. Beberapa telah pergi tanpa kepastian, beberapa sepertinya sudah melupakan masalah itu tetapi enggan untuk kembali. Dan yang tersisa yang terus mencoba berusaha agar “12+1+2” itu tidak hanya tinggal nama, sepertinya juga sudah mulai bosan berdiri kokoh.

       Mungkin di dalam hati masing-masing tidak bisa saling melupakan. Bagaimanapun disela-sela waktu tertentu bayangan saat kita bersama-sama, tertawa, menangis, bahagia, menderita, pasti pernah masing-masing rasakan. Kita sudah pernah saling terbuka. Sudah mengetahui ego masing-masing, masih bisa mengalami hal seperti ini.

       Orang-orang yang selalu meilihat kita bersama, sekarang mulai mempertanyakan.

“kalian marahan ya?”

“kok, kalian jarang ngumpul kayak biasanya?”

       Mungkin beberapa mencemooh, karena kita yang terlalu terlihat sombong dengan ikatan persahabatan kita, seperti selalu menunjukkan bahwa “kami nggak mungkin berpisah”. Dan kenyataannya…, kita tetap “12+1+2” kan?

Kau mungkin bisa kehilangan temanmu, dan kemudian membuangnya. Tetapi untuk sebuah persahabatan, saat “satu” menghilang, maka satu itu akan tersimpan cukup dalam, di jiwamu, di hatimu, bahkan menempel di setiap sel saraf penghubung otakmu dia tidak akan pernah berubah menjadi nol. Dan kamu berharap “satu” itu bisa naik kepermukaan kembali. Seperti angka 0 (nol) yang seharusnya tidak terlihat, tetapi akan cukup berharga saat angka 0 (nol) tersebut diletakkan di kanan angka satu, bukankah dia mengenalkan kita bahwa ada angka setelah 9, yaitu sepuluh (10), kemudian mengenalkan kita seratus (100) dan mengenalkan kita lebih banyak lagi sebanyak angka 0 (nol) itu di letakkan terus di posisi kanan. Yang tadi awalnya nihil akan berubah menjadi hasil.

***

“eh, itu make-up mu tebel amat, Win?” Alia terus saja mencemooh berbagai wajah yang lain, karena hampir semua dari kami sekarang serupa dengan badut. Pipi merah, hidung dengan lapisan warna gelap agar terlihat mancung, belum lagi eye shadow yang warnanya sampai menyamarkan besar mata, di tambah bulu mata palsu aduhai ala Syahrini, lengkap sudah satu hari ini, semua orang tampak berbeda. Mungkin Alia juga tidak sadar seberapa tebal make-up yang tengah tertempel di wajahnya.

“Ish iri aku kebayamu kok bisa cantik gitu, Nis?, tau gitu aku jahit di sana juga!” Sekarang malah Nur yang mulai menilai-nilai masing-masing kebaya yang tergantung sekarang di manekin hidup seperti badut tadi.

“Eh, udah ada pendamping wisuda belom nih yang lain?” Ningsih selalu mengungkit pasal pendamping wisuda. Hahaha, ini adalah pertanyaan yang selalu bikin hati-hati para jomblo teriris perih. Sari tentu saja tidak merasa risih dengan pertanyaan ini, karena dia sudah memiliki calon pendamping hidup yang sebentar lagi akan melamarnya secara sah, Wina juga masih di dampingi pacar setianya. Kedua lelaki melankolis kami juga sudah mantap dengan pasangannya. Dan beberapa diantaranya dari dulu juga sudah punya pacar.

       Hanya beberapa dari kami yang belum bisa memilih, dan harus merasakan keganasan aura mahasiswa yang mengikuti wisuda di damping pacar masing-masing. Tetapi tenang saja aku tentu saja sudah mempunyai pacar. Jangan salah, jelek-jelek gini seorang Kania Ulfah mempunyai daya pikat tersendiri, dan ini masih menjadi rahasia untuk mereka.

       Putri menyenggol bahu sebelah kiriku dan mengulang pertanyaan Ningsih secara pribadi. “kamu Ulfah, gimana?... ada pasangannya nggak hari ini?”. dan aku cuma bisa senyum-senyum sambil mengangguk. Serempak mereka ber-empat belas langsung bersorak riuh.

“Cieeeeee……, akhirnya Ulfah!”

“mana nih orangnya?” sambung Vana.

“kenalin ke kita-kita dong” timpal Alia.

“atau jangan-jangan, kita kenal ya orangnya?” Zahwa terlihat sangat antusias.

“stop!, stop!, stop!... kalian nggak kenal sama orangnya, nanti dia juga datang, liat sendiri aja, PUASSS…” dasar, semua orang berubah jadi kepo kalau menyangkut tentang pacar.

“ahhhhh, Ulfah, nggak seru!, sok misterius…” Ufli sepertinya kebelet untuk melihat siapa orang yang akhirnya bisa menaklukkan hati ini.

       Acara wisuda mulai memasuki puncaknya, saat satu persatu mahasiswa maju kedepan dan mendapatkan kehormatan untuk menyandang gelar masing-masing. Betapa harunya hati ini, lebih kurang empat tahun sudah berlalu, dan kami ber-lima belas masih tetap bisa bersama-sama, pernah terjadi intrik yang rumit, tetapi akhirnya semua bisa bersatu kembali.

“Eh, kita photo yok! Nanti suruh abang itu cetak sampai lima belas, biar kebagian semua, kenang-kenanganlah” Wigun sudah bersiap mengatur posisi toganya, sedikit memamerkan senyum bahagianya, sedangkan semua wanita terlalu ribet untuk berjalan kedepan papan bunga di karenakan sempitnya rok kebaya yang di pakai.

“Cepat woi, nanti keburu rame, tenaaang, akulah nanti yang bayarin photo yang ini” Putra mendukung dengan keadaan materinya. Dia memang salah satu donatur kami kalau sedang berkumpul.

       Betapa rindunya nanti aku dengan keluarga kecil ku di kampus ini, bisakah aku berharap persahabatan kita ini akan beranak cucu.

“eh, Ul, tuh ada cowok yang manggil-manggil kamu!” Nisa menunjuk sudut lapangan sebelah kanan, ada sosok pria yang sedang melambai ke arah ku. “jadi itu tuh cowok barunya?”

“hehehehe”. Aku mengangguk, lalu membalas lambaian tangan pria itu.

“Ulfah” cowok itu memanggil lagi.

“ya… aku kesana!” aku sedikit berteriak.

“Ulfaaahhh” aduh, ini pacar nggak sabaran amat sih.

“iya… iya!”

“ULFAAAAHHH!!!!”

“BANGUUUNNN!!!”

       Loh, kok malah ada mama? “huh, anak gadis kok susah banget dibanguninnya” mama, keluar kamar dan terus saja tetap mengomel.

       Kenapa aku ada di kamar?, Terus, kebaya cantik yang sedang ku kenakan tadi malah berubah menjadi piyama biru kedodoran. Aku mengecek layar ponselku, beberapa pesan masuk sudah menunggu untuk di buka, beberapa panggilan tak terjawab sudah bermunculan sejak satu jam yang lalu.

Jadi nggak nih kita kerumahnya?, biar nanti kita omongin semuanya siapa tau masalah bisa cepat selesai – Ira-

Ul, nanti langsung kerumahnya aja ya, kita udah gerak soalnya –Ufli-

Klo nanti kami udah nggak ada dirumahnya, jangan nyesal ya –Alia-

Eh, klo nggak ada pulsa buat jawab, angkat dong telfonnya –Ira-

       Dan masih banyak lagi pesan masuk dari teman-temanku yang lain yang intinya menyuruhku untuk segera berangkat dalam rangka memecahkan masalah di “12+1+2”. Aku melirik layar ponsel sekali lagi, ternyata ini masih tanggal 27 Mei 2016. Masih setahun lagi sampai aku benar-benar bisa wisuda.

       Tapi, tadi adalah mimpi yang sangat indah, kami bisa berkumpul bersama lagi, tersenyum bersama. Aku rindu guyonan yang bisa buat aku tertawa. Semuanya, aku harap saat wisuda nanti, kita benar-benar bisa bersama kembali, seperti mimpi indahku ini.

       Satu-satunya hal menyebalkan tentang mimpi ini adalah huaaaa, aku belum sempat melihat wajah pendamping wisudaku secara jelas, ah mama sih!.

***

Mungkin kami sekarang memang menghilang satu persatu, dan aku percaya “12+1+2” akan menjadi kesatuan utuh lagi nantinya. Walau sekarang kemana-mana tidak berjumlah lima belas, tetapi kami selalu merasa kami berlima belas, kami akan selalu merasakan kehadiran kalian yang menghilang.
*****
“Bagaimanapun saat seseorang menanyakan berapakah “12+1+2” itu, semua orang akan mengerti dan akan menjawab bahwa “12+1+2” itu adalah lima belas, karena itu adalah jawaban yang paling benar, lima belas yang luar biasa yang bisa aku temukan dalam hidupku”

Create by "orang yang merindukan kebersamaan"

2 comments:

  1. Boleh lah...
    Tapi kurang dapet fell greget nya..
    Try again..
    Suatu hari nanti akan jadi penulis terkenal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamu harus ngerasa kehilangan sahabat dulu, baru berasa nge fellnya...
      iya, semoga cerita2 selanjutnya lebih baik...
      aminn, thanks ya ^_^

      Delete