Hai, kemarin sempet coba ikut lomba buat cerpen dalam rangka hari ultah jurusan Pend. Matematika...., temanya di sesuaikan dengan Matematika.
Miris, bukan main sulitnya mendapatkan juara, aku sebenarnya juga sadar sih kalau cerpen ini, standar, nggak nge-fell atau nggak bisa masuk nominasi 3 besar. Dari awal memang sebenarnya kurang PD sama cerpen buatan sendiri ini, pasalnya gaya penulisannya bukan cerpen sih.... melainkan kayak nulis diary.
Cerpen ini aku buat atas permintaan sabahat besar-ku, Ghina Fathira Pasaribu. cerpen ini adalah kisah compang-camping dari kami ber 12+1+2.....
Oh iya.... maaf ya teman-temin dukungan kalian jadi sia-sia, soalnya cerpennya gak menang....
Tapi reaksi kalian pas aku kasih filenya buat dibaca, buat aku terharu....., kita bersama begitu eksprektif.....
Selamat menikmati membaca....,
*****
Dua belas ditambah satu ditambah dua hasil akhirnya adalah lima
belas. Bagaimana jika lima belas itu kehilangan satu?, apakah dia akan berubah
menjadi empat belas?... Bagaimana jika dia kehilangan dua lagi?, apakah akan
menjadi dua belas?... Bagaimana jika lima belas itu kehilangan semuanya?, apa
lima belas itu akan kehilangan tempatnya?, kehilangan takdirnya dari ada
menjadi hampa?, dari sesuatu yang bermakna menjadi sesuatu tak berarti?...
Ini kisah ku, menemukan sebuah takdir yang mempersatukan lima belas
itu. Dan, takdir itu dimulai dari sini…
Institut Agama
Islam Negeri Sumatera Utara
Gedung Tarbiyah II, 2013
Matahari belum sepenuhnya muncul
dari persembunyiannya, masih mengintip-intip di balik celah awan yang berarak
cukup lebar diatas sana. Untuk situasi yang masih gelap, seharusnya orang-orang
masih enggan untuk melakukan aktivitasnya, ditambah cuaca dingin yang mumpuni
untuk berleha-leha dibawah atap rumah. Tapi, ini berbanding terbalik dengan
mahasiswa baru yang sudah menunggu sejak kemarin hari untuk memulai perkuliahan
mereka yang pertama.
Aku salah satu mahasiswa baru itu,
dengan pakaian yang sudah tidak diatur untuk seragam lagi saat belajar, dengan
bangganya berjalan bersisiran dengan mahasiswa lainnya. Bersemangat untuk memulai
hidup ini secara dewasa.
Semua mahasiswa baru dikumpulkan
sesuai jurusannya, dibentuk beberapa barisan panjang kebelakang, diberi
pengarahan singkat sebelum mereka melangkah lebih maju untuk mendapatkan
pelajaran. Ada ratusan wajah yang sedang berbaris sekarang. Wajah-wajah ini,
akan menemaniku di tahun-tahun mendatang sebagai mahasiswa jurusan pendidikan matematika.
Mungkin aku bisa menghapal beberapa wajah diantaranya, siapa yang tahu, bisa
jadi mereka akan menjadi teman sekelasku kelak.
Terlihat beberapa mahasiswa baru
sudah terlihat akrab, mungkin keakraban mereka di dapatkan dari masa
pengospekan beberapa hari yang lalu. Ada yang mencoba peruntungan untuk
mengenalkan diri dahulu kemudian menjadi akrab setelahnya. Sedangkan, aku
mungkin satu-satunya mahasiswa yang belum berani unjuk gigi memperkenalkan
diri, sehingga sampai sekarang aku hanya mempunyai satu teman. Teman se-SMA ku
yang juga ternyata mengambil jurusan yang sama di universitas yang sama pula.
Dan dia sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya.
Sampai pengarahan selesai, aku masih
tetap sendiri. Terpaku menatap nanar ke banyak mahasiswa yang sudah mulai
membentuk kelompok-kelompok kecil, pertanda mereka sudah mendapatkan temannya
masing-masing.
Matahari sudah mulai beranjak naik
saat kami mulai digiring ke gedung kelas untuk mencari di kelas mana kami di
tempatkan. Putri –teman se-SMA ku itu, sudah terlihat saat aku memasuki kelas
yang beberapa semester kedepan akan menjadi kelasku. Ternyata kami sekelas,
satu kelegaan yang sangat luar biasa. Setidaknya aku tidak akan canggung karena
mempunyai minimal satu teman. Aku mengambil tempat duduk disamping Putri. Beberapa
wajah yang tadi ku hapal ternyata memasuki kelas yang sama. Tinggal menunggu
saat pengenalan diri dan aku akan dipusingkan untuk menghapal nama mereka. Dosen
telah masuk, dan absen bergilir telah dimulai.
“Kania Ulfah”.
Aku mengangkat tangan sembari berucap, “Saya bu” namaku telah
dipanggil, ini saatnya unjuk gigi. Aku memperkenalkan asal sekolah ku, kemudian
alamat rumahku dan menjawab beberapa hal yang ditanya asal oleh dosennya.
Perkenalan itu berakhir, dan sedikit
membuatku mengerti bahwa sekarang aku harus mekar sebagai seseorang yang sudah
mulai beranjak dewasa. Tidak ada lagi
sifat manja, mengingat ternyata banyak temanku yang mencoba hidup mandiri
menjadi anak kost hanya untuk mengenyam pendidikan. Tidak sedikit dari mereka
yang berasal dari kota yang benar-benar jauh dari universitas ini.
Sebagai warga asli kota ini aku
harus menyambut mereka dengan baik. Teman-teman, ayo kita bentuk pertemanan
kita.
***
Akhirnya aku menemukan “dua belas” itu… (12)
Gedung Tarbiyah
II, Pendidikan Matematika-2, 2013
7 bulan setelah menjadi mahasiswa
baru
Aku kira menjadi mahasiswa itu
sangat menyenangkan, ternyata semua tayangan sinetron yang menunjukkan bahwa
mahasiswa itu hanya “ngampus-pulang”, itu salah. Aslinya, aku harus banting
mata saat ada tugas yang harus dikerjakan semalam suntuk, terlebih Kalkulus I yang
buat pusing, membuat otak harus ekstra dua kali lipat untuk berpikir.
Belum lagi harus mengejar pelajaran,
mengingat bahwa cara dosen dan guru mengajar itu berbeda, tidak ada pengertian
dosen kepada mahasiswa yang tidak mengerti. Semua pelajaran harus diselesaikan
tepat dengan masa16 kali pertemuan dalam satu semester. Dan aku hampir menyerah
menjadi seorang mahasiswa di jurusan pendidikan matematika.
Tapi, siapa yang menyangka kalau
selain pelajaran aku mendapatkan teman-teman yang cukup solid di kelas ini.
Walau jika di lihat-lihat, kami sebenarnya membentuk kelompok kecil di
dalamnya. Seperti kelompok kecil yang aku dapatkan, mereka adalah aku, Putri,
Ufli, Mawa dan Ningsih. Walau aku hanya mendapat 4 teman yang mungkin kami bisa
akrab karena cara berteman yang sama, tapi itu tidak masalah karena pertemanan
kami cukup indah terhitung selama aku menjadi mahasiswa disini.
“Ira ultaaah, Ira ultaaah…., nanti jangan pulang dulu ya!” Zahwa
sang bendahara berkoar-koar di kelas, tentu saja setelah Ira keluar untuk
permisi ke kamar mandi. Zahwa mengkoordinir kalau dia dan beberapa teman
lainnya yang sudah bergabung dalam kelompok kecil yang lain, sudah menyiapkan
sebuah kejutan untuk Ira. Aku sebenarnya tidak berharap untuk ikut
merayakannya, terlebih karena kami mempunyai perbedaan dalam cara berteman.
Tiba-Tiba, Ufli menyekut lenganku,
menyatukan pendapat bahwa kami akan ikut memeriahkan acara ultah Ira. Baiklah,
sepertinya aku juga ingin melihat seperti apa jika anak-anak mahasiswa
merayakan ulang tahun. Apakah sama seperti saat aku merayakannya dengan
teman-teman SMA ku dahulu, apakah ada acara lumur-lumuran tart di penghujung
acara?, atau adakah nanti prosesi pembuatan adonan kue –tepung, telur dan air
di kepala Ira?. Kita lihat saja nanti.
***
Berhari-hari setelah ultah Ira
berlangsung, Zahwa membawa catatan kecil kemudian berkeliling kelas dan
menanyakan masing-masing diantara kami, apakah kami ikut saat merayakan ultah
Ira dan jika ya, maka kami harus ikut membayar patungan untuk membeli kado Ira.
Aneh sekali, aku pikir bahwa kami bisa ikut memeriahkan secara gratis. Tapi,
ternyata memang anak matematika tidak bisa di hindari dari hitung-menghitung,
apalagi menyangkut tentang menghitung uang.
Aku membayar sesuai permintaan.
Kalau di pikir-pikir tidak ada salahnya karena, toh aku mendapatkan kesenangan
saat acara itu berlangsung. Ternyata pertemanan kelompok kecil yang Zahwa ikuti
dengan kelompok kecilku bisa akrab juga. Pikiranku yang menyetujui kalau
berteman itu harus mempunyai prinsip yang sama, sepertinya perlu di pertanyakan
lagi. Ada beberapa kelompok kecil lain yang kemarin ikut bergabung dan kami
bisa sangat akrab.
Ultah Ira di hadiri empat orang dari
kelompok kecil kami –Mawa tidak bisa hadir kemarin, tiga orang dari kelompok
kecil lain yaitu Nisa, Tika dan Sari, dan kelompok kecil lainnya Wina, Nur,
Zahwa, Vana dan tentu saja yang berulang tahun yaitu Ira.
Tidak tahu apa alasannya, tetapi ke
dua belas orang ini selalu patungan bersama saat ada yang berulang tahun
setelahnya. Mulai saat itu kami ber-dua belas, membentuk pertemanan baru yang
sangat solid.
Untuk menciptakan sebuah angka dua belas, bukan hanya operasi
penjumlahan saja yang dapat di gunakan, tetapi operasi pengurangan yang mempunyai
keududukan penting sama hal nya seperti penjumlahan. Seperti kami, si “dua
belas”, kelompok kecilku berkurang satu dengan terseleksinya Mawa . Dalam
pertemanan, kami dua belas adalah lima dikurang satu di tambah tiga ditambah
lima. Maka, kami adalah dua belas (12).
***
Kami mendapatkan si kecil “satu” yang tangguh (+1)
Mei 2014, 2 bulan setelah dua belas terbentuk
Semakin hari,
semakin indah saja pertemanan yang terjalin di antara kami ber-dua belas, dihinggapi
rasa bahagia setiap hari, tentu saja tanpa di kurangi dengan hari Sabtu dan
Minggu –hari tidak aktif kuliah. Walau tak bertemu, kami masih bisa saling sapa
via sms, telepon bahkan facebook.
Selalu saja ada
guyonan aneh disetiap pembicaraan, celetukan yang sedikit mengiris hati keluar
dari beberapa mulut indah teman-temanku. Tetapi, itu tidak menjadi masalah,
bukankah dalam pertemanan harus ada bumbu-bumbu tertentu sehingga pertemanan
itu terasa lebih gurih?.
Kami tidak
pernah membuka audisi untuk masuk ke dalam pertemanan kami, seperti
mahasiswa-mahasiswa lainnya, walaupun kami membuat kelompok besar bermain
bersama, tetapi kami juga tidak melupakan teman-teman lainnya dikelas, kami
tidak cukup egois untuk memilih-milih teman, hanya saja situasi seperti selalu memihak
kalau kami ber-dua belas ini untuk bisa mempunyai waktu bersama dalam bermain.
Pada suatu
hari, berhari-hari setelah tanggal 1 Mei terlewati, kami mendapatkan si kecil
tangguh “satu”. Dia adalah Alia, ditambah dengan keberadaannya, makin
berwarnalah pertemanan ini. Awalnya, dia selalu saja bisa hadir saat kami
memutuskan untuk pergi bermain, terlampau sering sehingga kami bukan lagi
ber-dua belas tetapi berjumlah tiga belas.
Jadi lah kami,
dengan nama kelompok yang sudah terkenal seantero jurusan pendidikan
matematika. “12+1” siapa senior yang tidak mengenal kelompok kami?
Terkadang dalam matematika, hasil
adalah sesuatu yang paling menentukan kebenaran dari suatu pengoperasian angka.
Tetapi dalam pertemanan, kita harus menikmati proses bagaimana hasil itu di
dapat, sama seperti saat kita mengerjakan sebuah soal matematika, dari pada
memikirkan hasilnya, bukankah kau lebih bersemangat saat hasil itu masih
mengambang di depan rumus-rumus yang sedang di kerjakan?. Kami memang sekarang
berjumlah tiga belas, tetapi tiga belas itu akan kehilangan makna saat kita
tidak menuliskan proses mendapatkannya. Maka kami bukanlah si “tiga belas”,
melainkan kami adalah “dua belas di tambah satu (12+1)”sehingga akan menghasilkan
tiga belas.
***
Kami mempunyai dua bodyguard yang
memesona (+2)
Pertengahan bulan dalam tahun. Musim
hujan mulai menampakan diri, Juni 2014.
13
orang cewek yang rentan terhadap kejahatan, ternyata tidak cukup tangguh
menjalani hari-hari secara mulus. Kami butuh sang pemberani untuk menemani di
setiap perjalanan, mengiringi disetiap candaan dan menjadi tameng saat kami akan
terluka.
Setelah
perjalanan panjang pertemanan kami, akhirnya kami menemukan sang pemberani itu.
Dua orang lelaki yang sejatinya memesona khalayak umum. Kami tidak memilih, dan
memang sebenarnya kami tidak berhak untuk memilih siapa yang ingin berteman
dengan kami. Mungkin takdir Tuhan yang mengenalkan kami si “12+1” itu kepada
dua pria yang memang selayaknya di peruntukkan untuk menjaga kami.
Dua
orang sempurna untuk melengkapi, mereka adalah Putra dan Wigun. Benar-benar
lengkap sudah pertemanan ini, tidak perlu hal mewah saat kami bersama. Ini
adalah pertemanan sederhana yang semua orang bisa dapatkan dengan cara mereka
masing-masing, dan cara kami adalah dengan seperti ini, semua orang yang
terikat di dalamnya pasti menginginkan hal yang sama, yaitu selalu bersama
sampai akhir.
“hahaha, si Putra akhirnya kena
juga”. Nur berseru kegirangan di tempat
duduknya. Ujung botol salah satu merk minuman bersoda yang isinya sudah kami
habiskan sebelumnya itu tepat menunjuk ke arah Putra, semua mata teralihkan
langsung ke arahnya. Sedang orang yang menjadi sosok perhatian bersiap diri
menerima pertanyaan yang nantinya harus dijawab dengan jujur.
Kami
semua, sedang menginap di rumah Ira, di kamar yang selalu kami tempati jika
tiba-tiba saja ada tugas dadakan yang membuat kepala melejit pusing kalau memikirkan
tugas itu. Jadi, semua bekerja sama dalam menyelesaikannya.
Awalnya,
semua sudah siap dengan laptop masing-masing untuk mengerjakan tugas. Tapi,
setelah cemilan malam datang, semua seakan lupa dengan tugasnya dan malah
mempersiapkan diri untuk bermain TOD. Permainan yang mengharuskan, jika
seseorang memilih “T” maka ia harus siap menjawab segala pertanyaan dengan
jujur, dan jika memilih “D” maka dia harus siap untuk dijahili sedemikian
bentuknya.
Satu
jagoan kami, Wigun sudah menjawab pertanyaan itu, dan hasilnya adalah
jawabannya membuat semua orang jadi terlihat cengeng. Ternyata, jagoan kedua
kami, Putra, juga sama saja, membuat tangisan serempak di tengah malam kedua.
Di balik tampang memesona kedua bodyguard kami, ternyata mereka
menyimpan hati yang melankolis.
Sekarang
kami sudah menjadi “12+1+2”, masih bisakah ikatan ini disebut ikatan
pertemanan, atau aku terlalu munafik kalau mengalihkannya menjadi ikatan
persahabatan. Teman-teman yang tidak pernah aku miliki sebelumnya. Mari kita
saling menguatkan.
Kalian bisa bantu aku menjawab,
kenapa nilai mutlak itu selalu menghasilkan hasil yang positif?, apa yang
membuatnya bisa begitu?. Mungkin jawabannya sama seperti, kenapa di
persahabatan kami harus di tambah dua orang lelaki?, bukankah jika isinya semua
perempuan, kalian bisa lebih bebas untuk memasukkan tema apa saja dalam
pembicaraan?. Kalau melihat keterkaitannya maka, semua hal memiliki porsi dan
tempatnya masing-masing. Jika memang seperti itu, maka keberadaan dua orang itu
mutlak harus ada di kelompok besar kami.
***
Kami kehilangan 1?, 2? Dan banyak
lagi. Apakah ada kegagalan dalam “Persahabatan”?.
Beberapa bulan setelah Indonesia
memiliki Presiden Baru.
“Anggap aku kayak biasa aja ya!”
“kalau kalian milih dia, yaudah
mending aku yang menjauh!”
“kok tiba-tiba, kau diamin aku?”
“eh, dia kenapa?, lagi marahan ya?”
Hampir
beberapa bulan ini, persahabatan ini penuh dengan intrik. Aku kira ini hanya
emosi sesaat saja. Aku rasa tidak ada yang salah disini, semua orang berhak
marah, semua orang berhak merasakan butuh perhatian terlebih jika melihat
persahabatan kami yang memiliki anggota cukup banyak di dalamnya. Beberapa
telah pergi tanpa kepastian, beberapa sepertinya sudah melupakan masalah itu
tetapi enggan untuk kembali. Dan yang tersisa yang terus mencoba berusaha agar “12+1+2”
itu tidak hanya tinggal nama, sepertinya juga sudah mulai bosan berdiri kokoh.
Mungkin
di dalam hati masing-masing tidak bisa saling melupakan. Bagaimanapun
disela-sela waktu tertentu bayangan saat kita bersama-sama, tertawa, menangis,
bahagia, menderita, pasti pernah masing-masing rasakan. Kita sudah pernah
saling terbuka. Sudah mengetahui ego masing-masing, masih bisa mengalami hal
seperti ini.
Orang-orang
yang selalu meilihat kita bersama, sekarang mulai mempertanyakan.
“kalian marahan ya?”
“kok, kalian jarang ngumpul kayak
biasanya?”
Mungkin
beberapa mencemooh, karena kita yang terlalu terlihat sombong dengan ikatan
persahabatan kita, seperti selalu menunjukkan bahwa “kami nggak mungkin
berpisah”. Dan kenyataannya…, kita tetap “12+1+2” kan?
Kau mungkin bisa kehilangan temanmu,
dan kemudian membuangnya. Tetapi untuk sebuah persahabatan, saat “satu”
menghilang, maka satu itu akan tersimpan cukup dalam, di jiwamu, di hatimu,
bahkan menempel di setiap sel saraf penghubung otakmu dia tidak akan pernah
berubah menjadi nol. Dan kamu berharap “satu” itu bisa naik kepermukaan
kembali. Seperti angka 0 (nol) yang seharusnya tidak terlihat, tetapi akan
cukup berharga saat angka 0 (nol) tersebut diletakkan di kanan angka satu,
bukankah dia mengenalkan kita bahwa ada angka setelah 9, yaitu sepuluh (10),
kemudian mengenalkan kita seratus (100) dan mengenalkan kita lebih banyak lagi
sebanyak angka 0 (nol) itu di letakkan terus di posisi kanan. Yang tadi awalnya
nihil akan berubah menjadi hasil.
***
“eh, itu make-up mu tebel amat, Win?”
Alia terus saja mencemooh berbagai wajah yang lain, karena hampir semua dari
kami sekarang serupa dengan badut. Pipi merah, hidung dengan lapisan warna
gelap agar terlihat mancung, belum lagi eye shadow yang warnanya sampai
menyamarkan besar mata, di tambah bulu mata palsu aduhai ala Syahrini, lengkap
sudah satu hari ini, semua orang tampak berbeda. Mungkin Alia juga tidak sadar
seberapa tebal make-up yang tengah tertempel di wajahnya.
“Ish iri aku kebayamu kok bisa
cantik gitu, Nis?, tau gitu aku jahit di sana juga!” Sekarang malah Nur yang mulai
menilai-nilai masing-masing kebaya yang tergantung sekarang di manekin hidup
seperti badut tadi.
“Eh, udah ada pendamping wisuda
belom nih yang lain?” Ningsih selalu mengungkit pasal pendamping wisuda. Hahaha,
ini adalah pertanyaan yang selalu bikin hati-hati para jomblo teriris perih.
Sari tentu saja tidak merasa risih dengan pertanyaan ini, karena dia sudah
memiliki calon pendamping hidup yang sebentar lagi akan melamarnya secara sah,
Wina juga masih di dampingi pacar setianya. Kedua lelaki melankolis kami juga
sudah mantap dengan pasangannya. Dan beberapa diantaranya dari dulu juga sudah
punya pacar.
Hanya
beberapa dari kami yang belum bisa memilih, dan harus merasakan keganasan aura
mahasiswa yang mengikuti wisuda di damping pacar masing-masing. Tetapi tenang
saja aku tentu saja sudah mempunyai pacar. Jangan salah, jelek-jelek gini
seorang Kania Ulfah mempunyai daya pikat tersendiri, dan ini masih menjadi
rahasia untuk mereka.
Putri
menyenggol bahu sebelah kiriku dan mengulang pertanyaan Ningsih secara pribadi.
“kamu Ulfah, gimana?... ada pasangannya nggak hari ini?”. dan aku cuma bisa
senyum-senyum sambil mengangguk. Serempak mereka ber-empat belas langsung
bersorak riuh.
“Cieeeeee……, akhirnya Ulfah!”
“mana nih orangnya?” sambung Vana.
“kenalin ke kita-kita dong” timpal
Alia.
“atau jangan-jangan, kita kenal ya
orangnya?” Zahwa terlihat sangat antusias.
“stop!, stop!, stop!... kalian nggak
kenal sama orangnya, nanti dia juga datang, liat sendiri aja, PUASSS…” dasar,
semua orang berubah jadi kepo kalau menyangkut tentang pacar.
“ahhhhh, Ulfah, nggak seru!, sok
misterius…” Ufli sepertinya kebelet untuk melihat siapa orang yang akhirnya
bisa menaklukkan hati ini.
Acara
wisuda mulai memasuki puncaknya, saat satu persatu mahasiswa maju kedepan dan
mendapatkan kehormatan untuk menyandang gelar masing-masing. Betapa harunya
hati ini, lebih kurang empat tahun sudah berlalu, dan kami ber-lima belas masih
tetap bisa bersama-sama, pernah terjadi intrik yang rumit, tetapi akhirnya
semua bisa bersatu kembali.
“Eh, kita photo yok! Nanti suruh
abang itu cetak sampai lima belas, biar kebagian semua, kenang-kenanganlah”
Wigun sudah bersiap mengatur posisi toganya, sedikit memamerkan senyum
bahagianya, sedangkan semua wanita terlalu ribet untuk berjalan kedepan papan
bunga di karenakan sempitnya rok kebaya yang di pakai.
“Cepat woi, nanti keburu rame, tenaaang,
akulah nanti yang bayarin photo yang ini” Putra mendukung dengan keadaan
materinya. Dia memang salah satu donatur kami kalau sedang berkumpul.
Betapa
rindunya nanti aku dengan keluarga kecil ku di kampus ini, bisakah aku berharap
persahabatan kita ini akan beranak cucu.
“eh, Ul, tuh ada cowok yang
manggil-manggil kamu!” Nisa menunjuk sudut lapangan sebelah kanan, ada sosok
pria yang sedang melambai ke arah ku. “jadi itu tuh cowok barunya?”
“hehehehe”. Aku mengangguk, lalu
membalas lambaian tangan pria itu.
“Ulfah” cowok itu memanggil lagi.
“ya… aku kesana!” aku sedikit
berteriak.
“Ulfaaahhh” aduh, ini pacar nggak sabaran
amat sih.
“iya… iya!”
“ULFAAAAHHH!!!!”
“BANGUUUNNN!!!”
Loh,
kok malah ada mama? “huh, anak gadis kok susah banget dibanguninnya” mama,
keluar kamar dan terus saja tetap mengomel.
Kenapa
aku ada di kamar?, Terus, kebaya cantik yang sedang ku kenakan tadi malah
berubah menjadi piyama biru kedodoran. Aku mengecek layar ponselku, beberapa
pesan masuk sudah menunggu untuk di buka, beberapa panggilan tak terjawab sudah
bermunculan sejak satu jam yang lalu.
Jadi nggak nih kita kerumahnya?,
biar nanti kita omongin semuanya siapa tau masalah bisa cepat selesai – Ira-
Ul, nanti langsung kerumahnya aja
ya, kita udah gerak soalnya –Ufli-
Klo nanti kami udah nggak ada
dirumahnya, jangan nyesal ya –Alia-
Eh, klo nggak ada pulsa buat jawab,
angkat dong telfonnya –Ira-
Dan
masih banyak lagi pesan masuk dari teman-temanku yang lain yang intinya
menyuruhku untuk segera berangkat dalam rangka memecahkan masalah di “12+1+2”.
Aku melirik layar ponsel sekali lagi, ternyata ini masih tanggal 27 Mei 2016.
Masih setahun lagi sampai aku benar-benar bisa wisuda.
Tapi,
tadi adalah mimpi yang sangat indah, kami bisa berkumpul bersama lagi,
tersenyum bersama. Aku rindu guyonan yang bisa buat aku tertawa. Semuanya, aku
harap saat wisuda nanti, kita benar-benar bisa bersama kembali, seperti mimpi
indahku ini.
Satu-satunya
hal menyebalkan tentang mimpi ini adalah huaaaa, aku belum sempat melihat
wajah pendamping wisudaku secara jelas, ah mama sih!.
***
Mungkin kami sekarang memang
menghilang satu persatu, dan aku percaya “12+1+2” akan menjadi kesatuan utuh
lagi nantinya. Walau sekarang kemana-mana tidak berjumlah lima belas, tetapi
kami selalu merasa kami berlima belas, kami akan selalu merasakan kehadiran
kalian yang menghilang.
*****
“Bagaimanapun saat seseorang menanyakan berapakah “12+1+2” itu,
semua orang akan mengerti dan akan menjawab bahwa “12+1+2” itu adalah lima
belas, karena itu adalah jawaban yang paling benar, lima belas yang luar biasa
yang bisa aku temukan dalam hidupku”
Create by "orang yang merindukan kebersamaan"
Boleh lah...
ReplyDeleteTapi kurang dapet fell greget nya..
Try again..
Suatu hari nanti akan jadi penulis terkenal..
kamu harus ngerasa kehilangan sahabat dulu, baru berasa nge fellnya...
Deleteiya, semoga cerita2 selanjutnya lebih baik...
aminn, thanks ya ^_^