Melihat situasi yang sekarang, mungkin sudah saatnya aku menyerah. Aku sudah pernah mencoba bersembunyi, dari segalanya, dari semua beban perasaan yang aku tanggung sendiri. Namun, sepertinya persembunyianku merupakan tempat yang salah. Nyatanya aku bersembunyi di tempat yang terlalu aman, terlalu tersembunyinya tempat itu, sampai dia tidak menemukanku, tidak pergi kesuatu sudut di balik ruang-ruang gelap tempat aku menunggu untuk ditemukan.
Aku berusaha mencoba berpaling darinya, kalau menurut bahasanya sekarang adalah, aku harus belajar move-on darinya. Jadi kucoba beranikan diri untuk melirik ke wanita yang lain. Kemana saja hingga menurutku wanita itu mampu mengalihkan duniaku dari dirinya.
Ku terka-terka orangnya, jika menurutku mungkin bisa maka akan ku mulai coba menjalaninya. Hari pertama, mungkin rasa itu masih ada. Kemudian aku coba targetkan seminggu dengan wanita pelarianku, rasa itu masih tetap saja ada, aku coba berusaha sebulan, ya sebulan... itu mungkin waktu yang tepat dan cukup lama, namun rasa itu tetap ada.
Ya, ampun... bagaimana bisa aku menyingkirkannya, jika setiap hari -5 hari dalam seminggu, kami berada di kelas yang sama, bertatap muka selama selang 4 SKS. Jika satu SKS ada 50 menit yang terisi, maka selama sehari aku akan melihatnya selama kurang lebih 4 jam. Bahkan ku rasa aku lebih sering bertemu dengannya dari pada dengan si wanita pelarian itu.
Benar saja pepatah yang mengatakan bahwa, cinta itu datang dari mata turun ke hati. Sudah terbukti dengan kisahku ini.
Tidak mungkin aku menyuruhnya untuk, menyingkir sebentar dari hidupku dengan bilang 'permisi non, bisa nggak?, nggak usah kuliah dulu untuk sebulan ini. Soalnya aku mau belajar move-on dari kamu nih!'.
Siapa diriku melarang dia untuk muncul di depan mataku. Siapa diriku yang merasa sangat tersakiti dengan dirinya yang bahkan belum pernah menolakku secara terang-terangan. Siapa diriku yang mencoba menyalahkannya, padahal aku sama sekali tidak berterus terang tentang perasaanku kepadanya.
Jadi, jika sebulan juga belum bisa menyirnakan perasaan yang selalu membuatku mual ini. Maka, aku akan coba dua bulan, dua bulan yang aku buat se-intensif mungkin dengan si wanita pelarian itu. Jika ku ingat-ingat, aku belum cukup memperlakukan dengan istimewa si wanita pelarian sebagai pacarku. Baiklah, usaha yang sudah kulaukan berkali-kali lipat -untuk mengubur semua hal mengenainya, kemarin. Sekarang akan ku usahakan berkali, kali, kali, kali dan kali lipat lagi.
Semoga dalam waktu dua bulan usahaku untuk melarikan diri dari bayang-bayang Nona N, akan menghasilkan akhir yang bahagia. Untuk ku. Untuk si Wanita Pelarian dan tentu saja untuk Nona N yang aku selalu berdoa untuk kebahagiannya.
(Nona N, aku pernah berpikir, kenapa harus hanya aku yang berlari menjauh? hanya aku yang akan kelelahan dan hanya aku yang harus menyia-nyiakan waktuku untuk terus menyiapkan kaki yang siap menapaki jalan yang terjal. Kadang pikiran tergilaku mengaung-ngaung, bagaimana jika kau juga harus melakukan hal yang sama, bukan berlari kearah yang berlainan tapi, berlari kearah ku, mengejar diriku yang mencoba berlari darimu. Hingga kau juga merasakan, bagaimana lelahnya itu. Tapi... sekali lagi, itu hanya pikiran terburukku. Jangan sampai menjadi nyata... mana berani aku melihatmu kelelahan, apalagi untuk seorang pria seperti ku.)

Lanjut terus ya... Novel ini kan?
ReplyDeleteinsyaallah bakal dilanjut bang... iya ini novel bang.
Deletemakasih udah nyempetin baca bang