sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang ada tanda kutip satu plus di itallic itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA
---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION
Part 7
---The Girl and Her Book---
Menatap sepedanya dengan ragu,
bertanya-tanya dalam hati, apa Jinki masih menggunakan motornya?, apa Jinki
masih akan memberikan kesempatan untuknya?, mengajaknya untuk pulang bersama?,
Haneul ragu akan itu.
Tapi tetap saja, ia meninggalkan
sepedanya dan beranjak pergi sekolah dengan berjalan kaki hari ini, menyusuri papping
block. Ia akan berhenti setiap ada kaca toko yang dilewatinya, berkaca
disana sembari merapikan penampilannya yang sedikit menjadi berantakan tertiup
angin musim gugur. Padahal selama ini penampilan bukan menjadi hal yang harus
direpotinya.
Di pikirannya sekarang ini, ia harus
kelihatan segar, rapi dan cantik saat dihadapan Jinki. Haneul juga mengikat
rambut sepunggungnya dan menggunakan jepitan di salah satu poninya yang selalu
jatuh kebawah.
Sekolah sudah dipenuhi banyak siswa
dan Haneul sudah dengan mantap duduk dikursinya sembari melihat-lihat kearah
pintu depan maupun belakang kelas, menunggu kehadiran Jinki datang dan ingin
mendengar komentar Jinki tentang penampilannya.
Padahal siswa lainnya sedang
merecoki satu hal permanen dikelasnya, dan Haneul sama sekali tidak
mendengarkannya. Padahal hal itu
berkaitan dengannya.
‘Ah dia datang, aku harus
bagaimana?.’
Haneul yang melihat kehadiran Jinki
di pintu makin semakin gugup, apa Jinki akan mengetahui perubahannya?, apa
Jinki akan bilang dia cantik dengan gaya seperti itu?. Entahlah, Haneul
benar-benar gugup sekarang.
Saat Jinki mulai mendekat, Haneul
hanya bisa menunduk tidak berani menatap Jinki secara langsung. Hingga Jinki
yang kini sudah duduk di sampingnya mencoba menginterupsi keadaan.
“Haneul-ah, Ban Suyoung kau tahu ada
apa dengannya?.”
‘Ban Suyoung?, kenapa Ban Suyoung?.
Kenapa bukan aku?’
“N-Ne?, memangnya ada apa dengan
Suyoung?.” Jawab Haneul lesu.
“kau lihat dia tidak datang hari
ini, semua membicarakannya, bahkan murid kelas lain juga membicarakannya.”
Ternyata teman-teman sekelasnya
sedari tadi ribut membicarakan Ban Suyoung. Haneul tidak fokus akan hal itu
sedari tadi, tapi dia sudah tahu apa yang terjadi dengan Ban Suyoung, karena
dialah yang merencanakan semuanya. Hingga Suyoung kini tidak terlihat di
sekolah.
“Jinki-aa…, apa kau merasa ada yang
beda hari ini?” Haneul mengganti topik pembicaraan mereka, berharap Jinki
memperhatikan penampilannya.
“tentu, ternyata tanpa ada nenek
sihir kelas –Ban Suyoung- kelas jadi terasa hambar. Hahahah”
Jinki menertawakan lelucon garingnya
sendiri, Haneul merasa bodoh sekali, lagi-lagi topik yang didengarnya dari
Jinki hanyalah Ban Suyoung. Haneul rasa usahanya merubah penampilannya hari ini
menjadi sia-sia.
---The Girl and Her Book---
Haneul kembali dingin, menatap
kosong jalanan didepan sekolahnya penampilannya juga sudah dirubahnya kembali,
Jinki?. Dia sedang berada di ruang kepala sekolah dengan teman sekelas lainnya,
menanyai kehadiran Ban Suyoung yang menghilang tanpa jejak.
Padahal Haneul sudah membayangkan
saat dia memeluk pinggang jinki dari belakang, wajahnya yang diterpa angin saat
di bonceng Jinki. Semua itu, hanya impian gila.
Sebuah motor berhenti di sampingnya,
membunyikan klakson beberapa kali. Haneul sama sekali tidak memperhatikan
sekelilingnya, ia terus tetap berjalan. Hingga pengendara motor itu turun dari
kendaraannya dan menepuk punda Haneul.
“butuh tumpangan?.” Pengendara itu
membuka helm-nya
“Jinki?” Haneul sangat terkejut.
‘Motor? Dia menggunakan motor lagi,
apa untukku?’
“sepedamu rusak lagi?”.
“Ne?...”
“sepedamu”.
“aghh, sepedaku, aku mening……., ah ani
sepedaku rusak lagi.”
Hampir saja Haneul keceplosan, mana
mungkin dia akan bilang ‘aku sengaja meninggalkan sepedaku, dan ingin pulang
bersamamu’. Ugh jika dia sampai menyebutkan itu tadi, dia pasti akan sangat
memalukan.
“kalau begitu kau harus mau pulang
denganku sekarang, tanpa penolakan titik.” Jinki menekankan akhir kalimatnya,
terdengar seperti memaksa.
“baiklah” jawabnya seperti orang
yang tengah terpaksa. Padahal ia sangat mau, itu yang ditunggu-tunggunya dari
tadi.
Motor melaju sekencang-kencangnya
menembus jalanan kota dan menyalip beberapa mobil yang berada di depannya.
Haneul masih ragu-ragu untuk memeluk Jinki, padahal dia sangat mau tapi Jinki,
apa dia tidak akan marah?
“Haneul kaitkan tanganmu di
pinggangku, aku takut kau jatuh.” Jinki sedikit berteriak dibalik helmet-nya.
Tanpa pikir panjang Haneul langsung meraih pinggan Jinki, toh pria di depannya
ini yang memintanya.
Suara decitan ban yang direm
mengakhiri perjalanan Haneul. Mereka sudah sampai di apartement Haneul, turun
dari jok belakang Jinki dan menyerahkan helm Jinki.
“ige, gomawo Jinki-ya.”
Haneul baru saja berbalik dan Jinki memanggilnya kembali.
“Haneul!!!”.
“kenapa?, kau ingin mampir?”.
‘Agh, mulut kenapa kau begitu
lancang.’
“itu, lain kali saja bolehkan?”
Jinki menolak untuk hari ini, soalnya dia harus menemui seseorang.
“Haneul, kenapa kau membuka ikatan
rambutmu?.”
“itu..itu?” Haneul tidak bisa
mengatakannya, mana mungkin dia akan mengetakan ‘karena aku kecewa kau sama
sekali tidak mempedulikannya’.
“kau, cantik saat rambutmu tergerai,
tapi saat kau mengikat rambutmu kau akan jadi lebih cantik lagi, Annyeong.”
Jinki langsung tancap gas setelah mengatakan itu. Meninggalkan Haneul yang
mulai sumringah disana.
‘Cantik, Jinki bilang aku cantik.’
Gadis yang tidak tahu menahu masalah
percintaan, kini mulai menyadari mencintai seseorang itu dapat merubahnya 180
derajat. Gadis lugu dengan perasaannya yang lembut, mungkin Haneul sudah
sedikit menjadi seperti itu sekarang.
---The Girl and Her Book---
Seorang lelaki berjalan cepat kearah
meja caffe no.7. meja yang sudah di reservasi terlebih dahulu olehnya,
wajahnya terlihat sangat bahagia pasalnya, jarang sekali ia bisa melihat wanita
yang menjadi pujaan hatinya selama ini. wanita itu, sudah sejak lama ia tidak
bertemu dengannya, sekarang wanita itu terlihat lebih dewasa, dengan rambut
sebahunya yang menggulung dibawah dan sedikit diwarnai Darkbrown.
Wanita itu menyambutnya dengan
sebuah pelukan, sangat rindu mungkin. Selama ini mereka hanya berkomunikasi
lewat telepon.
“aku mempunyai kabar baik Gwe!”
“kita akan bicara setelah kau duduk Jinki
oppa”.
Tepat sekali, kedua insan yang
sedang duduk berhadapan itu adalah Gweboon dan Jinki. Jika ada yang bertanya ada
hubungan apa antara Gweboon dan Jinki, maka kalian akan mengetahuinya setelah
membaca keseluruhan cerita ini.
“Gwe, Haneul, dia aku sudah luluhkan”.
Jinki terlihat sangat bersemangat atas hasil kerjanya.
“oppaaaa tidakkah kau lapar
atau setidaknya haus?, pesan dulu!”.
Setelah memesan mereka melanjutkan
obrolan mereka mengenai Haneul. Keduanya tampak senang, tampaknya rencana
Gweboon berhasil.
“oppa, jangan sakiti dia
terlalu dalam, cukup jalani rencana awal saja.”
“ada apa denganmu, dia sudah
menyakitimu sangat parah!!, percayalah Gwe aku akan bermain mulus.”
Ada keraguan dihati Gweboon,
bagaimanapun Haneul adalah Haneul. Dimatanya wanita itu adalah seseorang yang
pernah dia sayangi dan menyayanginya, dan ia juga takut saat Jinki menceritakan
bagaimana perkembangan mereka, Jinki terlihat sangat antusias, Gweboon tidak
takut kalau Jinki antusias untuk melakukan pekerjaannya dengan baik, tapi dia
takut kalau Jinki terjebak dengan perasaannya sendiri, dia takut jika Jinki
terlalu banyak bermain dengan Haneul maka Jinki akan menyukai Haneul.
Bagaimanapun Jinki adalah salah satu
orang yang menopangnya saat dia jatuh dan terpuruk. Jika sampai Jinki pun jatuh
ketangan Haneul, maka Gweboon akan sendirian.
Setelah mengulas habis tentang
Haneul, setelahnya mereka hanya mengulas habis kehidupan mereka masing-masing.
Bagaimana keseharian mereka, apa saja yang dilakukan selama ini, bahkan sampai
hal-hal konyol dan lelucon garing.
---The Girl and Her Book---
Haneul baru saja selesai mandi,
besok libur jadi untuk saat ini ia ingin berusaha, ia rasa dirinya lebih banyak
tersunyum akhir-akhir ini. seperti sekarang dia terus menatap dirinya di depan
cermin sambil tesenyum.
‘Selama ini aku bahkan tidak
memperhatikan wajahku sendiri.’
Membatin sendiri didepan cermin itu.
Dari pantulan cermin didepannya, ia dapat melihat dirinya dari atas sampai
bawah, mengamati seluruh kamar apartementnya yang bernuansa hitam dan merah. Dan
ia baru menyadari satu hal.
‘kenapa kamar ini suram sekali?.’
Ada yang harus diperbaiki dengan
suasana kamarnya ini, mungkin harus lebih terlihat seperti kamar perempuan pada
umumnya, mengganti catnya dengan warna merah muda mungkin?, ah, jangan. Terlalu
feminin sekali. Mungkin biru, ya biru. Haneul sudah menemukan warna yang tepat.
Kemudian Haneul memandangin
perabotannya, tidak ada yang perlu diganti dari barang-barangnya. Setelah
menyusuri pemandangan dikamarnya, tiba-tiba saja pandangan Haneul tertuju pada
buku hitamnya yang terletak diatas nakas samping tempat tidurnya. Mengambilnya
dan membuka lembar demi lembar didalamnya.
‘Ternyata aku sangat kejam.’
Haneul sangat menyesal dengan apa
yang dilakukannya, tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak dapat mengembalikan
semuanya seperti semula.
‘Aku berjanji tidak akan
melakukannya lagi, maaf aku harus menyimpanmu terima kasih bukuku karena telah
menemani hidupku beberapa tahun silam.’
Membuka salah satu laci di meja
nakas itu dan menaruh buku hitam tersebut di samping barang-barang lainnya yang
menurut Haneul sangat berharga.
Wanita yang lugu, kemudian berubah
menjadi kejam dan dia kembali lagi pada sifat awalnya menadi lugu kembali,
semua itu berkat cinta pertamanya, Jinki. Ya, dia mencintai Jinki.
---The Girl and Her Book---
To be-Continue

No comments:
Post a Comment