Sunday, June 26, 2016

The Girl and Her Book (Part 7)


sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang ada tanda kutip satu plus di itallic itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA

---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION

Part 7


---The Girl and Her Book---

Menatap sepedanya dengan ragu, bertanya-tanya dalam hati, apa Jinki masih menggunakan motornya?, apa Jinki masih akan memberikan kesempatan untuknya?, mengajaknya untuk pulang bersama?, Haneul ragu akan itu.

Tapi tetap saja, ia meninggalkan sepedanya dan beranjak pergi sekolah dengan berjalan kaki hari ini, menyusuri papping block. Ia akan berhenti setiap ada kaca toko yang dilewatinya, berkaca disana sembari merapikan penampilannya yang sedikit menjadi berantakan tertiup angin musim gugur. Padahal selama ini penampilan bukan menjadi hal yang harus direpotinya.

Di pikirannya sekarang ini, ia harus kelihatan segar, rapi dan cantik saat dihadapan Jinki. Haneul juga mengikat rambut sepunggungnya dan menggunakan jepitan di salah satu poninya yang selalu jatuh kebawah.

Sekolah sudah dipenuhi banyak siswa dan Haneul sudah dengan mantap duduk dikursinya sembari melihat-lihat kearah pintu depan maupun belakang kelas, menunggu kehadiran Jinki datang dan ingin mendengar komentar Jinki tentang penampilannya.

Padahal siswa lainnya sedang merecoki satu hal permanen dikelasnya, dan Haneul sama sekali tidak mendengarkannya. Padahal  hal itu berkaitan dengannya.

‘Ah dia datang, aku harus bagaimana?.’

Haneul yang melihat kehadiran Jinki di pintu makin semakin gugup, apa Jinki akan mengetahui perubahannya?, apa Jinki akan bilang dia cantik dengan gaya seperti itu?. Entahlah, Haneul benar-benar gugup sekarang.

Saat Jinki mulai mendekat, Haneul hanya bisa menunduk tidak berani menatap Jinki secara langsung. Hingga Jinki yang kini sudah duduk di sampingnya mencoba menginterupsi keadaan.
“Haneul-ah, Ban Suyoung kau tahu ada apa dengannya?.”

‘Ban Suyoung?, kenapa Ban Suyoung?. Kenapa bukan aku?’

“N-Ne?, memangnya ada apa dengan Suyoung?.” Jawab Haneul lesu.

“kau lihat dia tidak datang hari ini, semua membicarakannya, bahkan murid kelas lain juga membicarakannya.”

Ternyata teman-teman sekelasnya sedari tadi ribut membicarakan Ban Suyoung. Haneul tidak fokus akan hal itu sedari tadi, tapi dia sudah tahu apa yang terjadi dengan Ban Suyoung, karena dialah yang merencanakan semuanya. Hingga Suyoung kini tidak terlihat di sekolah.

“Jinki-aa…, apa kau merasa ada yang beda hari ini?” Haneul mengganti topik pembicaraan mereka, berharap Jinki memperhatikan penampilannya.

“tentu, ternyata tanpa ada nenek sihir kelas –Ban Suyoung- kelas jadi terasa hambar. Hahahah”

Jinki menertawakan lelucon garingnya sendiri, Haneul merasa bodoh sekali, lagi-lagi topik yang didengarnya dari Jinki hanyalah Ban Suyoung. Haneul rasa usahanya merubah penampilannya hari ini menjadi sia-sia.

---The Girl and Her Book---

Haneul kembali dingin, menatap kosong jalanan didepan sekolahnya penampilannya juga sudah dirubahnya kembali, Jinki?. Dia sedang berada di ruang kepala sekolah dengan teman sekelas lainnya, menanyai kehadiran Ban Suyoung yang menghilang tanpa jejak.

Padahal Haneul sudah membayangkan saat dia memeluk pinggang jinki dari belakang, wajahnya yang diterpa angin saat di bonceng Jinki. Semua itu, hanya impian gila.

Sebuah motor berhenti di sampingnya, membunyikan klakson beberapa kali. Haneul sama sekali tidak memperhatikan sekelilingnya, ia terus tetap berjalan. Hingga pengendara motor itu turun dari kendaraannya dan menepuk punda Haneul.

“butuh tumpangan?.” Pengendara itu membuka helm-nya

“Jinki?” Haneul sangat terkejut.

‘Motor? Dia menggunakan motor lagi, apa untukku?’

“sepedamu rusak lagi?”.

“Ne?...”

“sepedamu”.

“aghh, sepedaku, aku mening……., ah ani sepedaku rusak lagi.”

Hampir saja Haneul keceplosan, mana mungkin dia akan bilang ‘aku sengaja meninggalkan sepedaku, dan ingin pulang bersamamu’. Ugh jika dia sampai menyebutkan itu tadi, dia pasti akan sangat memalukan.

“kalau begitu kau harus mau pulang denganku sekarang, tanpa penolakan titik.” Jinki menekankan akhir kalimatnya, terdengar seperti memaksa.

“baiklah” jawabnya seperti orang yang tengah terpaksa. Padahal ia sangat mau, itu yang ditunggu-tunggunya dari tadi.

Motor melaju sekencang-kencangnya menembus jalanan kota dan menyalip beberapa mobil yang berada di depannya. Haneul masih ragu-ragu untuk memeluk Jinki, padahal dia sangat mau tapi Jinki, apa dia tidak akan marah?

“Haneul kaitkan tanganmu di pinggangku, aku takut kau jatuh.” Jinki sedikit berteriak dibalik helmet-nya. Tanpa pikir panjang Haneul langsung meraih pinggan Jinki, toh pria di depannya ini yang memintanya.

Suara decitan ban yang direm mengakhiri perjalanan Haneul. Mereka sudah sampai di apartement Haneul, turun dari jok belakang Jinki dan menyerahkan helm Jinki.

ige, gomawo Jinki-ya.” Haneul baru saja berbalik dan Jinki memanggilnya kembali.

“Haneul!!!”.

“kenapa?, kau ingin mampir?”.

‘Agh, mulut kenapa kau begitu lancang.’

“itu, lain kali saja bolehkan?” Jinki menolak untuk hari ini, soalnya dia harus menemui seseorang.
“Haneul, kenapa kau membuka ikatan rambutmu?.”

“itu..itu?” Haneul tidak bisa mengatakannya, mana mungkin dia akan mengetakan ‘karena aku kecewa kau sama sekali tidak mempedulikannya’.

“kau, cantik saat rambutmu tergerai, tapi saat kau mengikat rambutmu kau akan jadi lebih cantik lagi, Annyeong.” Jinki langsung tancap gas setelah mengatakan itu. Meninggalkan Haneul yang mulai sumringah disana.

‘Cantik, Jinki bilang aku cantik.’

Gadis yang tidak tahu menahu masalah percintaan, kini mulai menyadari mencintai seseorang itu dapat merubahnya 180 derajat. Gadis lugu dengan perasaannya yang lembut, mungkin Haneul sudah sedikit menjadi seperti itu sekarang.

---The Girl and Her Book---

Seorang lelaki berjalan cepat kearah meja caffe no.7. meja yang sudah di reservasi terlebih dahulu olehnya, wajahnya terlihat sangat bahagia pasalnya, jarang sekali ia bisa melihat wanita yang menjadi pujaan hatinya selama ini. wanita itu, sudah sejak lama ia tidak bertemu dengannya, sekarang wanita itu terlihat lebih dewasa, dengan rambut sebahunya yang menggulung dibawah dan sedikit diwarnai Darkbrown.

Wanita itu menyambutnya dengan sebuah pelukan, sangat rindu mungkin. Selama ini mereka hanya berkomunikasi lewat telepon.

“aku mempunyai kabar baik Gwe!”

“kita akan bicara setelah kau duduk Jinki oppa”.

Tepat sekali, kedua insan yang sedang duduk berhadapan itu adalah Gweboon dan Jinki. Jika ada yang bertanya ada hubungan apa antara Gweboon dan Jinki, maka kalian akan mengetahuinya setelah membaca keseluruhan cerita ini.

“Gwe, Haneul, dia aku sudah luluhkan”. Jinki terlihat sangat bersemangat atas hasil kerjanya.

oppaaaa tidakkah kau lapar atau setidaknya haus?, pesan dulu!”.

Setelah memesan mereka melanjutkan obrolan mereka mengenai Haneul. Keduanya tampak senang, tampaknya rencana Gweboon berhasil.

oppa, jangan sakiti dia terlalu dalam, cukup jalani rencana awal saja.”

“ada apa denganmu, dia sudah menyakitimu sangat parah!!, percayalah Gwe aku akan bermain mulus.”

Ada keraguan dihati Gweboon, bagaimanapun Haneul adalah Haneul. Dimatanya wanita itu adalah seseorang yang pernah dia sayangi dan menyayanginya, dan ia juga takut saat Jinki menceritakan bagaimana perkembangan mereka, Jinki terlihat sangat antusias, Gweboon tidak takut kalau Jinki antusias untuk melakukan pekerjaannya dengan baik, tapi dia takut kalau Jinki terjebak dengan perasaannya sendiri, dia takut jika Jinki terlalu banyak bermain dengan Haneul maka Jinki akan menyukai Haneul.

Bagaimanapun Jinki adalah salah satu orang yang menopangnya saat dia jatuh dan terpuruk. Jika sampai Jinki pun jatuh ketangan Haneul, maka Gweboon akan sendirian.

Setelah mengulas habis tentang Haneul, setelahnya mereka hanya mengulas habis kehidupan mereka masing-masing. Bagaimana keseharian mereka, apa saja yang dilakukan selama ini, bahkan sampai hal-hal konyol dan lelucon garing.

---The Girl and Her Book---

Haneul baru saja selesai mandi, besok libur jadi untuk saat ini ia ingin berusaha, ia rasa dirinya lebih banyak tersunyum akhir-akhir ini. seperti sekarang dia terus menatap dirinya di depan cermin sambil tesenyum.

‘Selama ini aku bahkan tidak memperhatikan wajahku sendiri.’

Membatin sendiri didepan cermin itu. Dari pantulan cermin didepannya, ia dapat melihat dirinya dari atas sampai bawah, mengamati seluruh kamar apartementnya yang bernuansa hitam dan merah. Dan ia baru menyadari satu hal.

‘kenapa kamar ini suram sekali?.’

Ada yang harus diperbaiki dengan suasana kamarnya ini, mungkin harus lebih terlihat seperti kamar perempuan pada umumnya, mengganti catnya dengan warna merah muda mungkin?, ah, jangan. Terlalu feminin sekali. Mungkin biru, ya biru. Haneul sudah menemukan warna yang tepat.

Kemudian Haneul memandangin perabotannya, tidak ada yang perlu diganti dari barang-barangnya. Setelah menyusuri pemandangan dikamarnya, tiba-tiba saja pandangan Haneul tertuju pada buku hitamnya yang terletak diatas nakas samping tempat tidurnya. Mengambilnya dan membuka lembar demi lembar didalamnya.

‘Ternyata aku sangat kejam.’

Haneul sangat menyesal dengan apa yang dilakukannya, tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak dapat mengembalikan semuanya seperti semula.

‘Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, maaf aku harus menyimpanmu terima kasih bukuku karena telah menemani hidupku beberapa tahun silam.’

Membuka salah satu laci di meja nakas itu dan menaruh buku hitam tersebut di samping barang-barang lainnya yang menurut Haneul sangat berharga.


Wanita yang lugu, kemudian berubah menjadi kejam dan dia kembali lagi pada sifat awalnya menadi lugu kembali, semua itu berkat cinta pertamanya, Jinki. Ya, dia mencintai Jinki.

---The Girl and Her Book---

To be-Continue

No comments:

Post a Comment