Tuesday, July 19, 2016

The Girl and Her Book (Part 8)

sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang ada tanda kutip satu plus di itallic itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA

---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION

Part 8

---The Girl and Her Book---

Ini sudah untuk kesekian kalinya Haneul di antar pulang oleh Jinki, bisa-bisa sepeda merahnya karatan jika seperti ini. walaupun sudah sangat dekat mereka masih berstatus sebagai teman. Jinki yang memegang teguh rencananya, dan Haneul yang sama sekali tidak berani mengungkapkan perasaannya.

Walau hanya teman, Haneul tetap bahagia.

“Jinki-ya, kali ini kau mau berkunjung?.”

“baiklah jika kau memaksa.”

Mereka menaiki elevator apartemen yang hanya mereka berdua saja penumpangnya sampai elevator berhenti di lantai 7 –lantai hunian Haneul-. Jinki melihat sekeliling lorong yang terdapat pintu yang terlihat rapat-rapat.

Apartement yang ditinggali Haneul pasti kecil, itulah yang ada di pikiran Jinki. Dan setelah mereka masuk kedalam apartement Haneul. Apa yang di bayangkan Jinki di luar tadi benar adanya. Dari dalam terlihat lebih kecil lagi.

“apartementku sempit ya?” pertanyaan itu Haneul lontarkan karena Jinki tidak kian duduk sedari tadi, menatap sekeliling ruangan apartement Haneul yang nuansanya sudah diganti Haneul menjadi lebih cerah.

Haneul sudah lama menantikan Jinki main ke kediamannya ini, ia ingin menunjukkan hasil kerjaannya, dan lagi-lagi karena Jinki.

Wanita ini benar-benar sudah merasa terikat dengan Jinki. Semenjak ada Jinki ia tidak pernah dikerjai lagi di sekolah, karena Jinki selalu ada di sampingnya dan juga penampilan sudah lebih modis sekarang. Orang-orang tidak memandangnya aneh lagi. Jadi Haneul tidak perlu susah-susah untuk balas dendam seperti dulu, toh tidak ada yang menyakitinya lagi.

“boleh aku melihat semua ruangan yang ada di apartementmu Haneul?”.

“apa?” Haneul benar-benar terkejut, jika Jinki katakan semua berarti termasuk juga dengan kamar tidurnya.

Belum ada kepastian dari Haneul tetapi Jinki malah dengan seenaknya melangkahkan kakinya keseliling apartement Haneul. Dan wanita ini hanya diam saja, itu tandanya Haneul sama sekali tidak keberatan.

Langkah Jinki tiba di depan pintu kamar Haneul, membukanya dan takjub ternyata Haneul tidak seperti yang ada di bayangannya, cat biru muda mendominan kamar Haneul.

“kapan-kapan kau yang harus main ke tempatku.”

“bolehkah?”

“tentu, aku akan menjamu mu dengan senang hati Haneul”. Perkataan yang keluar dari mulut Jinki ini membuat Haneul tersihir. Benar-benar Jinki yang bermulut manis.

‘Lain kali aku akan mencari tau, apa yang kau sembunyikan di kamar ini Haneul.’

---The Girl and Her Book---

Kamarnya terlihat berantakan, dengan baju yang terus berterbangan keluar dari lemari pakaian, sudah bermenit-menit ia meneliti semua pakaiannya, tapi sama sekali tidak menemukan yang cocok untuk di pakainya pergi kekantor.

‘kenapa bajuku kaos semua?, dress, terlalu berlebihan.’

Ok, pakaian paling layak yang bisa ia temukan hanyalah blazer bewarna hijau muda dipadukan dengan kaos putih di dalamnya dan juga celana kain yang sedikit longgar namun masih mampu menampakkan lekukan kakinya. Walau cukup sederhana tapi ia sudah merasa cukup puas, toh di kantor tidak ada yang mengenalnya.

FLASHBACK ON

Ada getaran yang cukup kuat di dalam saku seorang pria yang sedang duduk santai dirumahnya sambil menyeruput kopi panasnya. Menandakan seseorang tengah mencoba untuk menghubunginya. Dan betapa terkejutnya dia nama yang tertera di layar datar itu adalah Haneul, Ya Haneul.

Yeobosseo Haneul, ada apa?”

“Tuan Park aku ingin ke kantor selama liburan musim semi ini”

“Apa???” hampir saja kopi itu tersembur keluar. Lamat-lamat ia memikirkan, apa yang membuat Haneul akhirnya mau menapakkan kakinya ke kantor.

FLASHBACK OFF

Haneul baru saja turun dari  motornya, melepas helmnya dan menepuk-nepuk bagian belakang blazernya padahal disana tidak ada debu yang menempel. Menatap gedung sebuah agensi yang menaungi para artis yang menjulang tinggi didepannya dan bibir itu tertarik untuk tersenyum.

‘sesuai harapanmu, kak’

Ini benar-benar kedatangannya untuk yang pertama kali, Park Si Jae sudah menunggunya didepan dengan pakaian resminya. Terlihat dari kejauhan bahwa beberapa orang yang lewat di depan Si Jae membungkukkan diri sebagai tanda hormat.

‘bagaimana jika mereka mengetahui kalau gadis SMA inilah yang merupakan atasan mereka yang sesungguhnya’

---The Girl and Her Book---

“apa yang membuatmu tertarik datang kesini Haneul?”

“waktuku kosong selama liburan, part timeku juga sudah berakhir”

“ada yang beda denganmu, kau sedikit….. ceria”.

Benar, untuk beberapa waktu silam, Haneul terlihat sangat-sangat buruk, dan sekarang dia seperti bunga yang baru mekar pada musimnya, menyapa dunia dengan keindahan terpancar sempurna yang selama ini tertutup kelopak yang masih kuncup.

Si Jae menuntun Haneul berkeliling gedung, memperkenalkan bagaimana setiap bagian sudut ruangan berfungsi sesuai kegunaannya, banyak memperhatikan mereka sedari tadi mulai dari staf hingga selebriti papan atas yang dinaungi oleh agensi ini, ini menjadi pemandangan yang paling ditunggu-tunggu oleh mereka, pasalnya baru kali ini Park Si Jae terlihat berduaan dengan seorang wanita, terlihat sangat bahagia, menebar senyum kesemua penjuru, apalagi yang membuatnya seperti itu kalau bukan seorang wanita yang dicintainya.

Langkah mereka berhenti pada satu ruangan yang dibatasi dengan pintu besar kaca buram, terlihat jelas bahwa didepan pintu tertulis Sesutu yang menunjukkan bahwa ini adalan ruangan sang penguasa gedung.

“ini ruanganmu, Haneul”.

“tidak, ini ruanganmu kak, bagaimana aku bisa mengambilnya, cukup tempatkan aku di bagian staf artis, sepertinya hanya itu yang aku bisa”.

“ini milikmu, semua ini milikmu Haneul.”

“jangan buat mood ku berubah, kau tahu aku seperti apa kan, perusahaan ini memang milikku, tapi aku tidak bisa mengambil kantor ini darimu, dari awal sudah kuputuskan kaulah yang berhak menjalankannya, Hareul juga pasti menyetujuinya.”

Sepertinya suasana kembali berubah menjadi gelap, Haneul berubah kembali, jadi hanya Jinki kah yang bisa menjadikannya lebih baik?. Si Jae tentu saja bisa melihat gelagat gadis didepannya itu.
“baiklah kau tunggu disini, aku akan memanggilkanmu seseorang yang akan membawamu keruang staf.”

Selama bekerja sebagai seorang staf bagian penjadwalan para artis, identitas Haneul sama sekali tidak diketahui karyawan lainnya. Si Jae dan dirinya benar-benar pandai menutupi sesuatu. Bahkan dihari pertama bekerja, dia sudah melayani para staf senior lainnya, pengantar kopi di pagi dan pada saat lembur tiba. Haneul nyaman akan itu dan dia sama sekali tidak marah ataupun dendam dengan para staf yang mengucilkan dirinya, tidak seperti dulu yang semua dianggapnya sebagai pengganggu semata.

Setiap hari Jinki setia menjemputnya setiap pulang kantor, jam berapapun itu Jinki pasti selalu ada diparkiran menunggunya. Si Jae selalu memastikan bahwa Haneul benar-benar aman dengan Jinki, jadi dia selalu memperhatikan Jinki dari jendela kantornya yang terhubung langsung dengan pemandangan parkiran.

Seperti hari ini, Haneul pulang lebih awal karena pekerjaannya sudah dibantu oleh salah satu staf yang lebih junior darinya yang baru mulai bekerja semalam. Selalu sebelum pulang, Haneul berpamitan dahulu pada Si Jae. Di dalam ruangannya Si Jae terlihat sangat serius, mungkin karena beberapa minggu lagi perusahaannya akan mendebutkan artis barunya. Jadi dia terus berkutat dengan lembar-lembar kertas itu, sampai kedatangan Haneul mengganggunya.

“kak, maaf mengganggumu, aku hanya ingin berpamitan dulu”.

Suara Haneul membuatnya menghentikan pekerjaannya dan langsung berlari menuju jendela, melihat apakah ada Jinki dan motornya disana.

“Jinki belum datang, kau sudah meneleponnya?”

“aku sudah meneleponnya 1 jam yang lalu, dan bisakah kau tidak memperlakukan aku seperti anak kecil?, aku mengerti kau khawatir tapi, sudah 1 minggu lebih aku disini dan Jinki selalu menjemputku tepat waktu, mungkin dia sudah dibawah saat aku turun”.

Si Jae tidak mampu berbuat apa-apa, Haneul tetaplah Haneul jika bersamanya, mungkin dia sudah sedikit melembut tapi itu tidak mendominan, pekerjaannya benar-benar menumpuk dan dia membiarkan Haneul pergi begitu saja, tapi sebelumnya dia menitipkan pesan bahwa Haneul harus mengirim pesan kepadanya saat dia sudah bersama Jinki di bawah.

Kaca jendela ruangan Si Jae menampakkan awan mendung yang menggumpal hebat, pekerjaan sungguh-sungguh tidak bisa ditinggalkan untuk memperhatikan Haneul saat ini, dia berharap Jinki sudah disana saat Haneul turun.


---The Girl and Her Book---

To-be Continue

No comments:

Post a Comment