sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang ada tanda kutip satu plus di itallic itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA
---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION
Part 8
---The Girl and Her Book---
SELAMAT MEMBACA
---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION
Part 8
---The Girl and Her Book---
Ini sudah untuk kesekian kalinya
Haneul di antar pulang oleh Jinki, bisa-bisa sepeda merahnya karatan jika
seperti ini. walaupun sudah sangat dekat mereka masih berstatus sebagai teman.
Jinki yang memegang teguh rencananya, dan Haneul yang sama sekali tidak berani
mengungkapkan perasaannya.
Walau hanya teman, Haneul tetap
bahagia.
“Jinki-ya, kali ini kau mau
berkunjung?.”
“baiklah jika kau memaksa.”
Mereka menaiki elevator
apartemen yang hanya mereka berdua saja penumpangnya sampai elevator
berhenti di lantai 7 –lantai hunian Haneul-. Jinki melihat sekeliling lorong
yang terdapat pintu yang terlihat rapat-rapat.
Apartement yang ditinggali Haneul
pasti kecil, itulah yang ada di pikiran Jinki. Dan setelah mereka masuk kedalam
apartement Haneul. Apa yang di bayangkan Jinki di luar tadi benar adanya. Dari
dalam terlihat lebih kecil lagi.
“apartementku sempit ya?” pertanyaan
itu Haneul lontarkan karena Jinki tidak kian duduk sedari tadi, menatap
sekeliling ruangan apartement Haneul yang nuansanya sudah diganti Haneul
menjadi lebih cerah.
Haneul sudah lama menantikan Jinki
main ke kediamannya ini, ia ingin menunjukkan hasil kerjaannya, dan lagi-lagi
karena Jinki.
Wanita ini benar-benar sudah merasa
terikat dengan Jinki. Semenjak ada Jinki ia tidak pernah dikerjai lagi di
sekolah, karena Jinki selalu ada di sampingnya dan juga penampilan sudah lebih
modis sekarang. Orang-orang tidak memandangnya aneh lagi. Jadi Haneul tidak
perlu susah-susah untuk balas dendam seperti dulu, toh tidak ada yang menyakitinya
lagi.
“boleh aku melihat semua ruangan
yang ada di apartementmu Haneul?”.
“apa?” Haneul benar-benar terkejut,
jika Jinki katakan semua berarti termasuk juga dengan kamar tidurnya.
Belum ada kepastian dari Haneul
tetapi Jinki malah dengan seenaknya melangkahkan kakinya keseliling apartement
Haneul. Dan wanita ini hanya diam saja, itu tandanya Haneul sama sekali tidak
keberatan.
Langkah Jinki tiba di depan pintu
kamar Haneul, membukanya dan takjub ternyata Haneul tidak seperti yang ada di
bayangannya, cat biru muda mendominan kamar Haneul.
“kapan-kapan kau yang harus main ke
tempatku.”
“bolehkah?”
“tentu, aku akan menjamu mu dengan
senang hati Haneul”. Perkataan yang keluar dari mulut Jinki ini membuat Haneul
tersihir. Benar-benar Jinki yang bermulut manis.
‘Lain kali aku akan mencari tau, apa
yang kau sembunyikan di kamar ini Haneul.’
---The Girl and Her Book---
Kamarnya terlihat berantakan, dengan
baju yang terus berterbangan keluar dari lemari pakaian, sudah bermenit-menit
ia meneliti semua pakaiannya, tapi sama sekali tidak menemukan yang cocok untuk
di pakainya pergi kekantor.
‘kenapa bajuku kaos semua?, dress,
terlalu berlebihan.’
Ok, pakaian paling layak yang bisa
ia temukan hanyalah blazer bewarna hijau muda dipadukan dengan kaos putih di
dalamnya dan juga celana kain yang sedikit longgar namun masih mampu
menampakkan lekukan kakinya. Walau cukup sederhana tapi ia sudah merasa cukup
puas, toh di kantor tidak ada yang mengenalnya.
FLASHBACK ON
Ada getaran yang cukup kuat di dalam
saku seorang pria yang sedang duduk santai dirumahnya sambil menyeruput kopi
panasnya. Menandakan seseorang tengah mencoba untuk menghubunginya. Dan betapa
terkejutnya dia nama yang tertera di layar datar itu adalah Haneul, Ya Haneul.
“Yeobosseo Haneul, ada apa?”
“Tuan Park aku ingin ke kantor
selama liburan musim semi ini”
“Apa???” hampir saja kopi itu
tersembur keluar. Lamat-lamat ia memikirkan, apa yang membuat Haneul akhirnya
mau menapakkan kakinya ke kantor.
FLASHBACK OFF
Haneul baru saja turun dari motornya, melepas helmnya dan menepuk-nepuk
bagian belakang blazernya padahal disana tidak ada debu yang menempel. Menatap
gedung sebuah agensi yang menaungi para artis yang menjulang tinggi didepannya
dan bibir itu tertarik untuk tersenyum.
‘sesuai harapanmu, kak’
Ini benar-benar kedatangannya untuk yang
pertama kali, Park Si Jae sudah menunggunya didepan dengan pakaian resminya.
Terlihat dari kejauhan bahwa beberapa orang yang lewat di depan Si Jae
membungkukkan diri sebagai tanda hormat.
‘bagaimana jika mereka mengetahui
kalau gadis SMA inilah yang merupakan atasan mereka yang sesungguhnya’
---The Girl and Her Book---
“apa yang membuatmu tertarik datang
kesini Haneul?”
“waktuku kosong selama liburan, part
timeku juga sudah berakhir”
“ada yang beda denganmu, kau
sedikit….. ceria”.
Benar, untuk beberapa waktu silam,
Haneul terlihat sangat-sangat buruk, dan sekarang dia seperti bunga yang baru
mekar pada musimnya, menyapa dunia dengan keindahan terpancar sempurna yang
selama ini tertutup kelopak yang masih kuncup.
Si Jae menuntun Haneul berkeliling
gedung, memperkenalkan bagaimana setiap bagian sudut ruangan berfungsi sesuai
kegunaannya, banyak memperhatikan mereka sedari tadi mulai dari staf hingga
selebriti papan atas yang dinaungi oleh agensi ini, ini menjadi pemandangan
yang paling ditunggu-tunggu oleh mereka, pasalnya baru kali ini Park Si Jae terlihat
berduaan dengan seorang wanita, terlihat sangat bahagia, menebar senyum kesemua
penjuru, apalagi yang membuatnya seperti itu kalau bukan seorang wanita yang
dicintainya.
Langkah mereka berhenti pada satu
ruangan yang dibatasi dengan pintu besar kaca buram, terlihat jelas bahwa
didepan pintu tertulis Sesutu yang menunjukkan bahwa ini adalan ruangan sang
penguasa gedung.
“ini ruanganmu, Haneul”.
“tidak, ini ruanganmu kak, bagaimana
aku bisa mengambilnya, cukup tempatkan aku di bagian staf artis, sepertinya
hanya itu yang aku bisa”.
“ini milikmu, semua ini milikmu
Haneul.”
“jangan buat mood ku berubah, kau
tahu aku seperti apa kan, perusahaan ini memang milikku, tapi aku tidak bisa
mengambil kantor ini darimu, dari awal sudah kuputuskan kaulah yang berhak
menjalankannya, Hareul juga pasti menyetujuinya.”
Sepertinya suasana kembali berubah
menjadi gelap, Haneul berubah kembali, jadi hanya Jinki kah yang bisa
menjadikannya lebih baik?. Si Jae tentu saja bisa melihat gelagat gadis
didepannya itu.
“baiklah kau tunggu disini, aku akan
memanggilkanmu seseorang yang akan membawamu keruang staf.”
Selama bekerja sebagai seorang staf
bagian penjadwalan para artis, identitas Haneul sama sekali tidak diketahui
karyawan lainnya. Si Jae dan dirinya benar-benar pandai menutupi sesuatu.
Bahkan dihari pertama bekerja, dia sudah melayani para staf senior lainnya,
pengantar kopi di pagi dan pada saat lembur tiba. Haneul nyaman akan itu dan
dia sama sekali tidak marah ataupun dendam dengan para staf yang mengucilkan
dirinya, tidak seperti dulu yang semua dianggapnya sebagai pengganggu semata.
Setiap hari Jinki setia menjemputnya
setiap pulang kantor, jam berapapun itu Jinki pasti selalu ada diparkiran
menunggunya. Si Jae selalu memastikan bahwa Haneul benar-benar aman dengan Jinki,
jadi dia selalu memperhatikan Jinki dari jendela kantornya yang terhubung
langsung dengan pemandangan parkiran.
Seperti hari ini, Haneul pulang
lebih awal karena pekerjaannya sudah dibantu oleh salah satu staf yang lebih
junior darinya yang baru mulai bekerja semalam. Selalu sebelum pulang, Haneul
berpamitan dahulu pada Si Jae. Di dalam ruangannya Si Jae terlihat sangat
serius, mungkin karena beberapa minggu lagi perusahaannya akan mendebutkan
artis barunya. Jadi dia terus berkutat dengan lembar-lembar kertas itu, sampai
kedatangan Haneul mengganggunya.
“kak, maaf mengganggumu, aku hanya
ingin berpamitan dulu”.
Suara Haneul membuatnya menghentikan
pekerjaannya dan langsung berlari menuju jendela, melihat apakah ada Jinki dan
motornya disana.
“Jinki belum datang, kau sudah
meneleponnya?”
“aku sudah meneleponnya 1 jam yang
lalu, dan bisakah kau tidak memperlakukan aku seperti anak kecil?, aku mengerti
kau khawatir tapi, sudah 1 minggu lebih aku disini dan Jinki selalu menjemputku
tepat waktu, mungkin dia sudah dibawah saat aku turun”.
Si Jae tidak mampu berbuat apa-apa,
Haneul tetaplah Haneul jika bersamanya, mungkin dia sudah sedikit melembut tapi
itu tidak mendominan, pekerjaannya benar-benar menumpuk dan dia membiarkan
Haneul pergi begitu saja, tapi sebelumnya dia menitipkan pesan bahwa Haneul
harus mengirim pesan kepadanya saat dia sudah bersama Jinki di bawah.
Kaca jendela ruangan Si Jae
menampakkan awan mendung yang menggumpal hebat, pekerjaan sungguh-sungguh tidak
bisa ditinggalkan untuk memperhatikan Haneul saat ini, dia berharap Jinki sudah
disana saat Haneul turun.
---The Girl and Her Book---
To-be Continue

No comments:
Post a Comment