| Sumber: encrypted |
Hari ini Hujan dan ini hari Selasa...
Lagi dan lagi aku terjebak di gedung ini. Gedung yang dipenuhi bau-bau buku. Gedung yang akan sepi di saat hari sudah mulai gelap. Gedung yang dipenuhi dengan orang-orang yang sama sepertiku, yang suka berada di antara buku-buku yang malah sepertinya bergantian membaca diriku.
Sudah berjam-jam ku habiskan waktuku disini, mungkin orang-orang satu dua memperhatikanku yang tak kunjung pulang. Mungkin satu dua berharap mendapatkan tempat duduk strategis yang aku duduki sekarang. Atau mungkin satu dua berpikir agar aku seharusnya cepat pulang, setidaknya wi-fi gratis perpustakaan bisa melancar sedikit.
Kurasa doa mereka akan segera terkabul. Aku sudah sedikit bosan disini. Sudah ada kira-kira 4 jam lebih pantatku berada di salah satu kursinya. Keperluanku juga sudah beres. Aku juga sudah mendapatkan 3 novel yang akan aku lahap untuk dua minggu kedepan.
Tetapi, sepertinya, Tuhan berkehendak lain. Dihari yang selalu tidak pernah menjadi istimewa untukku. Dia menitipkan curahan air sebagai pertanda -Aku memang benar-benar terabaikan di hari ini. Derasnya suara hujan lebat terdengar hingga ke dalam. Permulaan Hujan yang turun dengan tiba-tiba, membuat semua pengunjung perpustakaan kaget bukan main. Di jam-jam seharusnya mereka sudah membereskan barang-barang untuk bersegera pulang. Dan akupun mulai membentuk senyuman.
Biarlah hari yang mulai menggelap itu. Biarlah wajah-wajah keluhan di sekelilingku itu. Biarlah sepeda motor yang kuparkirkan di luar sana bermain hujan, kebasahan, kedinginan. Saat Hujan turun, hari Selasa menjadi lebih istimewa bagiku, hari yang selalu berjalan seperti skenario kacangan -yang akan sama seperti minggu-minggu lainnya, berubah menjadi kejutan besar lengkungan kepastian.
Hari Selasa dan hari yang menjadi panggilan turunnya Hujan, seperti mengukir sebuah terang dalam gelap, dia menemaniku disepanjang adzan maghrib yang menggembirakan. Suara keduanya bersahutan, membentuk melodi acapella berirama penyejuk hati.
-210317 : 181002- "Hujan Selasa"
Biarlah hari yang mulai menggelap itu. Biarlah wajah-wajah keluhan di sekelilingku itu. Biarlah sepeda motor yang kuparkirkan di luar sana bermain hujan, kebasahan, kedinginan. Saat Hujan turun, hari Selasa menjadi lebih istimewa bagiku, hari yang selalu berjalan seperti skenario kacangan -yang akan sama seperti minggu-minggu lainnya, berubah menjadi kejutan besar lengkungan kepastian.
Hari Selasa dan hari yang menjadi panggilan turunnya Hujan, seperti mengukir sebuah terang dalam gelap, dia menemaniku disepanjang adzan maghrib yang menggembirakan. Suara keduanya bersahutan, membentuk melodi acapella berirama penyejuk hati.
-210317 : 181002- "Hujan Selasa"
No comments:
Post a Comment