Kening
Karya: Rakhmawati Fitri (Fitrop)
Cet-1 2011
Buku ini bukan
novel, gue cuman lihat di halaman paling depan ditulis “buku ini adalah karya
fiksi. Seluruh nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah hasil dari imajinasi
penulis atau digunakan secara fiktif semata. Apabila ada persamaan dengan
kondisi orang yang sebenarnya (hidup maupun telah meninggal), kejadian maupun
hal-hal domestik lainnya, semua adalah sepenuhnya kebetulan.
Menurut gue sih ya, buku ini real fitrop banget… buat
kamu yang sering mantengin twitter sama instagramnya pasti ngerti banget
setelah baca buku ini.
Nggak ada deskripsi di sampul belakang. Gue cuman nemuin
beberapa komentar tentang bukunya si Fitrop ini… salah satunya nih dari
penyanyi pria tersohor Indonesia –Vidi Aldiano, dia nulis gini nih
“… ternyata
dibalik wujud Fitrop yang rupawati bak model Uzbekistan KW super, dia juga jago
nulis!! Trims sudah sering gue liat melalui Twitter dan sangat menghibur gue
dalam membaca timeline @fitrop. Dan Hellogoodbye merupakan curhatan hati
Fitrop, dimana gue ngerasa Fitrop lagi curhat sama pembaca buku ini, dan yap,
curhatannya ditulis dengan cara Fitrop sendiri, banyak komedi dan hal-hal yang
bikin gue ketawa-ketawa sendiri waktu baca. Bisa tahu rahasia-rahasianya Fitrop
dari baca buku ini, seperti ternyata real love-nya Fitrop bukan bintang
Bollywood itu. Hahaha. I enjoye
“13 chapter, 194
halaman, Penerbit TERRANT”
Salah satu
chapternya nih, singkat, disini fitrop ngepuisi, tapi menurut gue ini puisi
ngegambarin fitrop banget, absurd seabsurd keningnya yang nong nong
Pagi Manis
Asam Asin
Waktu SMA. Ketika saya masih muda belia
memesona dan penuh tipu daya, ketika Bapak dan motor andalannya. Si Gledek yang
setia. Siap mengantar setiap harinya ke terminal angkutan kota
Pagi itu ceria. Mestinya semua berjalan
wajar apa adanya. Layaknya hari biasa pada umumnya. Matahari berkelip, berkedip
meriah. Menghujam kantuk pada mata yang memerah. Kening kemilau bersinar
menggoda. Burung berkicauan, bermanuver sempurna. Menukik di sela bangungan beton
dan awan di atas sana.
Harusnya pagi itu berjalan wajar
sealakadarnya. Harusnya pagi itu berjalan sempurna apa adanya. Ketika…
Setibanya di terminal angkutan kota. Serata
punggung tangan Bapak saya raih dan kecup manja Mesra. Sederhana. Bersahaja. Jemari-jemari
lentik saya. Menadah tak berdosa. Minta uang jajan buat saya. Gadis belia
semata wayang yang molek tanpa cela. (Anda tidak setuju sama saya? Biarin
gimana saya saja.)
Tiba-tiba wajah rasanya pucat pasi. Segenap
darah di tubuh seksi, Merosot pasti gak berhenti, Ikut gravitasi Dan meluncur
rapi kumpul ibu jari.
Bertanya hati ini. Siapa pria asing
ini?
Termangu… Pria di hadapanku… Bukan
bapakku... Bapakku yang ganteng itu! Apa bapakku tertukar? Seperti putri yang
tertukar?
Seketika teringat sebab dan
asal-muasalnya. Pagi tadi bapak dan si Gledek motor kesayangannya Asben dulu
mengantar saya. Demi hobi kesukaannya. Memancing ikan sebanyak-banyaknya. Abang
ojek ini sebagai gantinya Mengemban tugas mengantar saya
Abang ojek di hadapan saya, memandang
tak percaya. Gadis kece di hadapannya, (Ya!, itu maksudnya saya.) Baru saja,
dengan penuh cinta. Mengecup mesra punggung tangan berbulunya. Hingga berdiri
terasa bulu kuduknya. Terpesona si abang itu dibuatnya Akan besarnya sopan
santun saya padanya.
Abang ojek berkumis manis pulang ke
rumah dengan ceria. Tak peduli pagiku yang muram dibuatnya. Dalam hati mengaduh
dan mengadu kepada-Nya.
“Demi senyum abang
ojek yang manis
Demi aroma
jaketnya yang asam
Demi punggu
tangannya yang asin.
Sumpah
mati aku tengsin.”
No comments:
Post a Comment