Monday, July 17, 2017

Kening

Kening

Karya: Rakhmawati Fitri (Fitrop)

Cet-1 2011

Buku ini bukan novel, gue cuman lihat di halaman paling depan ditulis “buku ini adalah karya fiksi. Seluruh nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah hasil dari imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif semata. Apabila ada persamaan dengan kondisi orang yang sebenarnya (hidup maupun telah meninggal), kejadian maupun hal-hal domestik lainnya, semua adalah sepenuhnya kebetulan.

Menurut gue sih ya, buku ini real fitrop banget… buat kamu yang sering mantengin twitter sama instagramnya pasti ngerti banget setelah baca buku ini.


Nggak ada deskripsi di sampul belakang. Gue cuman nemuin beberapa komentar tentang bukunya si Fitrop ini… salah satunya nih dari penyanyi pria tersohor Indonesia –Vidi Aldiano, dia nulis gini nih

“… ternyata dibalik wujud Fitrop yang rupawati bak model Uzbekistan KW super, dia juga jago nulis!! Trims sudah sering gue liat melalui Twitter dan sangat menghibur gue dalam membaca timeline @fitrop. Dan Hellogoodbye merupakan curhatan hati Fitrop, dimana gue ngerasa Fitrop lagi curhat sama pembaca buku ini, dan yap, curhatannya ditulis dengan cara Fitrop sendiri, banyak komedi dan hal-hal yang bikin gue ketawa-ketawa sendiri waktu baca. Bisa tahu rahasia-rahasianya Fitrop dari baca buku ini, seperti ternyata real love-nya Fitrop bukan bintang Bollywood itu. Hahaha. I enjoye

“13 chapter, 194 halaman, Penerbit TERRANT

Salah satu chapternya nih, singkat, disini fitrop ngepuisi, tapi menurut gue ini puisi ngegambarin fitrop banget, absurd seabsurd keningnya yang nong nong

Pagi Manis Asam Asin

Waktu SMA. Ketika saya masih muda belia memesona dan penuh tipu daya, ketika Bapak dan motor andalannya. Si Gledek yang setia. Siap mengantar setiap harinya ke terminal angkutan kota

Pagi itu ceria. Mestinya semua berjalan wajar apa adanya. Layaknya hari biasa pada umumnya. Matahari berkelip, berkedip meriah. Menghujam kantuk pada mata yang memerah. Kening kemilau bersinar menggoda. Burung berkicauan, bermanuver sempurna. Menukik di sela bangungan beton dan awan di atas sana.

Harusnya pagi itu berjalan wajar sealakadarnya. Harusnya pagi itu berjalan sempurna apa adanya. Ketika…

Setibanya di terminal angkutan kota. Serata punggung tangan Bapak saya raih dan kecup manja Mesra. Sederhana. Bersahaja. Jemari-jemari lentik saya. Menadah tak berdosa. Minta uang jajan buat saya. Gadis belia semata wayang yang molek tanpa cela. (Anda tidak setuju sama saya? Biarin gimana saya saja.)

Tiba-tiba wajah rasanya pucat pasi. Segenap darah di tubuh seksi, Merosot pasti gak berhenti, Ikut gravitasi Dan meluncur rapi kumpul ibu jari.

Bertanya hati ini. Siapa pria asing ini?

Termangu… Pria di hadapanku… Bukan bapakku... Bapakku yang ganteng itu! Apa bapakku tertukar? Seperti putri yang tertukar?

Seketika teringat sebab dan asal-muasalnya. Pagi tadi bapak dan si Gledek motor kesayangannya Asben dulu mengantar saya. Demi hobi kesukaannya. Memancing ikan sebanyak-banyaknya. Abang ojek ini sebagai gantinya Mengemban tugas mengantar saya

Abang ojek di hadapan saya, memandang tak percaya. Gadis kece di hadapannya, (Ya!, itu maksudnya saya.) Baru saja, dengan penuh cinta. Mengecup mesra punggung tangan berbulunya. Hingga berdiri terasa bulu kuduknya. Terpesona si abang itu dibuatnya Akan besarnya sopan santun saya padanya.

Namun saat saya baru saja menadah tangan minta jajan kepadanya. Dari raut wajahnya terbaca. Seperti dia kurang suka. Namun saat saya jejalkan rupiah ke tangannya. Baru ia bersuka cita.

Abang ojek berkumis manis pulang ke rumah dengan ceria. Tak peduli pagiku yang muram dibuatnya. Dalam hati mengaduh dan mengadu kepada-Nya.

“Demi senyum abang ojek yang manis
Demi aroma jaketnya yang asam
Demi punggu tangannya yang asin.
Sumpah mati aku tengsin.”

No comments:

Post a Comment