Ada satu yang aku ketahui akhir-akhir ini, perasaan itu tidak bisa dipaksa tapi hanya bisa direlakan.
Sudah lewat seperempat tahun, perjalanan rasaku menuju nona N, ku hentikan secara paksa. Gebukan dari dalam selalu menyuruhku untuk harus berlaku biasa saja saat dia di sekitarku.
Hubungan baru telah kujalani dengan masa baik-baik saja. Bagian baik-baik saja itu justru malah terasa pahit dan getir untukku. Aku memberikan seluruh raga dan waktu untuk wanita pelarian itu, tapi hal-hal penting dalam menjalin hubungan seperti rasa dan hati tak bisa kuberikan secara utuh. Ini tidak adil baginya, seharusnya ada 100% rasa untuk seseorang yang sedang menjalin hubungan denganku. Ini tidak adil, aku menyakiti wanita lain dan menyakiti diriku sendiri. Ini tidak adil, disaat ada rasa yang merekah untukku, rasaku melayu tidak menentu kapan mekarnya.
Aku putuskan, aku paksakan, aku relakan, tidak ada lagi menyakiti hatinya diam-diam.
Selesir beban yang menumpu hilang sudah, saat kata-kata maaf ku sampaikan dan menyusul hubungan itu pecah bergulir jatuh ke tanah, belingnya. Maafkan aku dik, yang meninggalkanmu, tanpa pernah ada rasa yang baik. Sekarang, aku bebas, dari menyakiti hatimu dan sekarang tertumpu situasi disakiti hati lagi.
Aku berusaha, sekuat diri, mengungkapkan sekali lagi, tanpa keberanian tatap wajah seperti sebelumnya. Lewat media sosial seperti cara kacanganku yang lalu-lalu, media sosialnya yang sering aku stalking, aku mulai sapa ia.
Dia tetap ramah, selayaknya teman yang menyambut sapaan. Dia tetap seperti dia yang aku kenal, aku tetap seperti aku yang menyukainya. Sapaan itu berbalas bagus, sesuai rencana dan aku tahu dia akan jawab apa. Mengelak, meluruskan, melerai dengan tegas rasaku yang akhirnya berantakan kembali oleh jawabannya. Tidak ada sistem php-an, kata-kata klise penolakannya secara halus seharusnya sudah ku terka di awal, percuma aku mengaduh baru saja putus hubungan, dia hanya berpura-pura simpati tanpa meneguk apa yang ingin kumaksud. Dia ternyata tidak selugu yang aku kira. Dia mampu menolak sebuah rasa baru untuknya.
Obrolan itu berakhir, dengan aku yang tersenyum pahit, dengan aku yang harus menolehkan pandangan ke arah lain saat dia di sekitarku kelak, dengan aku yang berpura-pura menjadi lelaki sok tegar tanpa rasa sedih di wajah karena penolakannya. Aku berjalan menjauh kembali, memikul beban perasaan ini.
Aku yakinkan, aku harus menemukan wanita lainnya lagi....
Aku merelakannya, saat dia tertangkapku tersenyum untuk orang lain.
Aku merelakannya, saat dia cemberut untuk cintanya.
Aku merelakannya, duduk di boncongengan motor orang lain.
Aku merelakannya, ia menunggu waktu cintanya bersemi.
Aku merelakannya, untuk semua hal yang dia lakukan bukan dengan diriku.
Aku belajar merelakannya. Karena sebelumnya, saat aku belajar memaksa, ia perlahan menjauh...
Satu-satunya yang terbaik yang bisa kulakukan untuknya dengan merelakannya...
Dia tetap ramah, selayaknya teman yang menyambut sapaan. Dia tetap seperti dia yang aku kenal, aku tetap seperti aku yang menyukainya. Sapaan itu berbalas bagus, sesuai rencana dan aku tahu dia akan jawab apa. Mengelak, meluruskan, melerai dengan tegas rasaku yang akhirnya berantakan kembali oleh jawabannya. Tidak ada sistem php-an, kata-kata klise penolakannya secara halus seharusnya sudah ku terka di awal, percuma aku mengaduh baru saja putus hubungan, dia hanya berpura-pura simpati tanpa meneguk apa yang ingin kumaksud. Dia ternyata tidak selugu yang aku kira. Dia mampu menolak sebuah rasa baru untuknya.
Obrolan itu berakhir, dengan aku yang tersenyum pahit, dengan aku yang harus menolehkan pandangan ke arah lain saat dia di sekitarku kelak, dengan aku yang berpura-pura menjadi lelaki sok tegar tanpa rasa sedih di wajah karena penolakannya. Aku berjalan menjauh kembali, memikul beban perasaan ini.
Aku yakinkan, aku harus menemukan wanita lainnya lagi....
Aku merelakannya, saat dia tertangkapku tersenyum untuk orang lain.
Aku merelakannya, saat dia cemberut untuk cintanya.
Aku merelakannya, duduk di boncongengan motor orang lain.
Aku merelakannya, ia menunggu waktu cintanya bersemi.
Aku merelakannya, untuk semua hal yang dia lakukan bukan dengan diriku.
Aku belajar merelakannya. Karena sebelumnya, saat aku belajar memaksa, ia perlahan menjauh...
Satu-satunya yang terbaik yang bisa kulakukan untuknya dengan merelakannya...
(Nona N, sesungguhnya ini tentangku, tentang diriku, tentang cintaku. Tak berbalas ia, ini menjadi bebanku. Bertepuk sebelah tangan ia, ini menjadi tanggung jawabku. Tersakiti ia, ini hanya kesakitanku. Bukanlah kamu yang menjadi sebab itu semua. Ini semua kesalahanku. Aku sembuhkan sendiri ia dengan cara merelakanmu)

No comments:
Post a Comment