Sunday, April 17, 2016

Catatan Seorang Pria (Berhari-hari Merindu)

Berakhirlah sudah tugas kami di kampung orang, aku pasti sangat merindu dengan tawa khas anak-anak kampung yang bersorak-sorak kegirangan akan kehadiran kami, akan rindu dengan keadaan perkampungan yang masih asri dengan udara segar nan basahnya, bau alami dari kotoran sapi yang hinggap di seantero jalanan yang masih dilapisi tanah percampuran aspal kering, rindu dengan rindangnya pepohonan yang selalu hadir di pinggir jalanan, seakan bersedia memayungi kami bertugas keliling kampung, berama-tamah dengan para warga, menyebarkan undangan lomba-lomba yang akan diikuti pejuang cilik kampung.

      Belum lagi sahur dan berbuka bersama-sama dengan teman-temanku, shalat berjamaah di mushola, mendengarkan ceramah yang sesekali dibawakan oleh ketua kami sebelum sholat tarawih, hahaha... Kejadian memalukan saat aku harus kaguk dalam menyampaikan dakwah di mushola dan lagi-lagi harus di gantikan dengan sang ketua.

Friday, April 1, 2016

Catatan Seorang Pria (Satu Kejujuran Air Matanya)

Malam-malam terakhir kami di kampung orang, riuhnya anak-anak yang mendapatkan kado yang telah kami siapkan sebelumnya, berbuka bersama bareng mereka, salah satu hal istimewa yang bisa kami bagikan kepada mereka. Menyenangkan sekali, melihat mereka tertawa, seperti tidak ada masalah yang memberatkan.

      Bicara tentang masalah, malam-malam sebelumnya kami dihadirkan dengan berbagai macam masalah pelik, mulai dari ketua kami, Tuan 'I', yang mendadak sakit, melihat wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang menggetar hebat, aku tau yang dibutuhkannya sekarang adalah rumah perawatan, tetapi dengan tegasnya dia menganggap sakit yang dideritanya adalah hal yang sepele, bahkan kata-kata orangtuanya yang keluar dari sudut telepon itu diabaikan mentah-mentah olehnya, apalah daya kami tidak mau dia menderita menahan sakit, tetapi kami juga enggan melepas sang ketua dari jabatannya sekarang, tak ada yang sanggup untuk menggantikan kepemimpinannya untuk kami di kampung ini.