Sunday, April 17, 2016

Catatan Seorang Pria (Berhari-hari Merindu)

Berakhirlah sudah tugas kami di kampung orang, aku pasti sangat merindu dengan tawa khas anak-anak kampung yang bersorak-sorak kegirangan akan kehadiran kami, akan rindu dengan keadaan perkampungan yang masih asri dengan udara segar nan basahnya, bau alami dari kotoran sapi yang hinggap di seantero jalanan yang masih dilapisi tanah percampuran aspal kering, rindu dengan rindangnya pepohonan yang selalu hadir di pinggir jalanan, seakan bersedia memayungi kami bertugas keliling kampung, berama-tamah dengan para warga, menyebarkan undangan lomba-lomba yang akan diikuti pejuang cilik kampung.

      Belum lagi sahur dan berbuka bersama-sama dengan teman-temanku, shalat berjamaah di mushola, mendengarkan ceramah yang sesekali dibawakan oleh ketua kami sebelum sholat tarawih, hahaha... Kejadian memalukan saat aku harus kaguk dalam menyampaikan dakwah di mushola dan lagi-lagi harus di gantikan dengan sang ketua.
      Tidak tahu kenapa, serangan mendadak dari bawah alam sadar, satu sosok, satu nama terserap langsung dalam memori otakku, aku merindukannya. Semuanya, tawanya yang khas hadir disetiap selingan dia berkata, hobinya yang selalu membuka aplikasi membaca di hape nya, cara dia berbicara ke Nona 'G' dan Tuan 'I', jarinya yang terus bekerja memegang penanya untuk membuat sketsa baju, belum lagi suaranya yang cempreng tetapi kalau bernyanyi merdunya bukan main. Pemikirannya yang terkadang terlampau dewasa, oh, jangan lupakan tangisannya di malam-malam akhir kami di kampung orang, bahkan itupun aku bisa rindu.

      Oh, tidak. Sihir apa yang sudah di tanamkannya padaku? Salah, siapa juga yang ingin menanamkan sihir untukku? Seorang pria tanpa kepribadian yang bisa dibandingkan dengan pria-pria lainnya.

      Hanya ada satu hal untuk memuaskan rasa rinduku padanya, rasa rindu yang menggebu-gebu yang tidak tahu entah karena pengaruh apa. Tapi, aku yakin cara ini cukup ampuh untuk bisa mengusir rasa rindu yang menyesakkan beberapa bagian terkecil dalam paru-paruku ini. Ya, aku harus menyapanya, tapi dengan apa? Ah, bodohnya begitu banyak cara penyampaian pesan yang sudah diciptakan orang-orang pintar itu. Tapi, karena begitu banyaknya maka, sampai-sampai aku pusing harus memilih yang mana? Sms? Telfon? Bbm, line, wa. Oh, ada apa dengan diriku, apa hanya karena satu makhluk berbeda jenis dariku itu sampai-sampai aku menjadi lebih bodoh lagi dari sebelumnya.

      Baiklah, mungkin dia akan membalas pesan singkatku lewat aplikasi bbm nanti, setahuku dia selalu aktif disana. Aku coba beranikan diri. Sekali lagi aku selalu ragu terhadap diriku sendiri. Kata-kata apa yang bisa aku kirimkan kepadanya. Apa bertanya kabarnya dahulu?, atau sedikit berbasa-basi bertanya kapan perkuliahan selanjutnya dilaksanakan. Ah, bodohnya, bahkan anak sd saja pasti tau kapan mereka masuk dan kapan mereka libur. Apa aku mulai dengan 'hai' saja? Tidak, itu bukan aku. Apa yang bisa aku kirimkan? Oh tuhan, si Nona 'N' adalah penguji terberatku.

Akhirnya, beberapa hari merindu terlewati begitu saja tanpa ada keberanianku untuk mengirimnya pesan. Mungkin pepatah benar, 'kau akan menjadi orang yang bodoh kalau mengikuti perasaanmu'. Tapi, perasaan apa sebenarnya yang menggelegar di dalam sini?.

(Nona 'N' kau, apa disana juga merindukanku?, aku sangat rindu denganmu).

3 comments: