Berakhirlah sudah tugas kami
di kampung orang, aku pasti sangat merindu dengan tawa khas anak-anak kampung
yang bersorak-sorak kegirangan akan kehadiran kami, akan rindu dengan keadaan
perkampungan yang masih asri dengan udara segar nan basahnya, bau alami dari
kotoran sapi yang hinggap di seantero jalanan yang masih dilapisi tanah
percampuran aspal kering, rindu dengan rindangnya pepohonan yang selalu hadir
di pinggir jalanan, seakan bersedia memayungi kami bertugas keliling kampung,
berama-tamah dengan para warga, menyebarkan undangan lomba-lomba yang akan
diikuti pejuang cilik kampung.
Belum lagi sahur dan berbuka
bersama-sama dengan teman-temanku, shalat berjamaah di mushola, mendengarkan
ceramah yang sesekali dibawakan oleh ketua kami sebelum sholat tarawih,
hahaha... Kejadian memalukan saat aku harus kaguk dalam menyampaikan dakwah di
mushola dan lagi-lagi harus di gantikan dengan sang ketua.
Oh, tidak. Sihir apa yang
sudah di tanamkannya padaku? Salah, siapa juga yang ingin menanamkan sihir
untukku? Seorang pria tanpa kepribadian yang bisa dibandingkan dengan
pria-pria lainnya.
Hanya ada satu hal untuk
memuaskan rasa rinduku padanya, rasa rindu yang menggebu-gebu yang tidak tahu
entah karena pengaruh apa. Tapi, aku yakin cara ini cukup ampuh untuk bisa
mengusir rasa rindu yang menyesakkan beberapa bagian terkecil dalam paru-paruku
ini. Ya, aku harus menyapanya, tapi dengan apa? Ah, bodohnya begitu banyak cara
penyampaian pesan yang sudah diciptakan orang-orang pintar itu. Tapi, karena
begitu banyaknya maka, sampai-sampai aku pusing harus memilih yang mana? Sms? Telfon? Bbm, line, wa. Oh, ada apa dengan diriku, apa hanya karena satu
makhluk berbeda jenis dariku itu sampai-sampai aku menjadi lebih bodoh lagi
dari sebelumnya.
Baiklah, mungkin dia akan
membalas pesan singkatku lewat aplikasi bbm nanti, setahuku dia selalu aktif
disana. Aku coba beranikan diri. Sekali lagi aku selalu ragu terhadap diriku
sendiri. Kata-kata apa yang bisa aku kirimkan kepadanya. Apa bertanya kabarnya
dahulu?, atau sedikit berbasa-basi bertanya kapan perkuliahan selanjutnya
dilaksanakan. Ah, bodohnya, bahkan anak sd saja pasti tau kapan mereka masuk
dan kapan mereka libur. Apa aku mulai dengan 'hai' saja? Tidak, itu bukan aku.
Apa yang bisa aku kirimkan? Oh tuhan, si Nona 'N' adalah penguji terberatku.
Akhirnya, beberapa hari
merindu terlewati begitu saja tanpa ada keberanianku untuk mengirimnya pesan.
Mungkin pepatah benar, 'kau akan menjadi orang yang bodoh kalau mengikuti
perasaanmu'. Tapi, perasaan apa sebenarnya yang menggelegar di dalam sini?.
(Nona 'N' kau, apa disana
juga merindukanku?, aku sangat rindu denganmu).

Ciye!
ReplyDeleteHahaha.. ccieeh.. kacau..
ReplyDelete#gak capek kode terus
Hahaha.. ccieeh.. kacau..
ReplyDelete#gak capek kode terus