Malam-malam terakhir kami di
kampung orang, riuhnya anak-anak yang mendapatkan kado yang telah kami siapkan
sebelumnya, berbuka bersama bareng mereka, salah satu hal istimewa yang bisa
kami bagikan kepada mereka. Menyenangkan sekali, melihat mereka tertawa,
seperti tidak ada masalah yang memberatkan.
Bicara tentang masalah,
malam-malam sebelumnya kami dihadirkan dengan berbagai macam masalah pelik,
mulai dari ketua kami, Tuan 'I', yang mendadak sakit, melihat wajahnya yang
pucat dan tubuhnya yang menggetar hebat, aku tau yang dibutuhkannya sekarang
adalah rumah perawatan, tetapi dengan tegasnya dia menganggap sakit yang
dideritanya adalah hal yang sepele, bahkan kata-kata orangtuanya yang keluar
dari sudut telepon itu diabaikan mentah-mentah olehnya, apalah daya kami tidak
mau dia menderita menahan sakit, tetapi kami juga enggan melepas sang ketua
dari jabatannya sekarang, tak ada yang sanggup untuk menggantikan
kepemimpinannya untuk kami di kampung ini.
Malu dengan warga sekitar,
kami akhirnya bertolak ke rumah penampungan, disana semua kembali ceria, Tuan
'I' memang pandai membuat lelucon, semua bahkan seperti melupakan kejadian
beberapa menit yang lalu. Sampai akhirnya Tuan 'I' pergi kearah kamar, mengepak
barang-barangnya dalam satu ransel besar dan kemudian duduk di tengah-tengah
kami, memberikan wejangan panjang sebelum dia pergi berobat. Disana, mulailah
adegan dramatisir beberapa menit lalu terulang lagi, derai air mata kembali
membasahi wajah-wajah kami, bahkan ada beberapa yang mengeluarkan isakan. Lagi
dan lagi, ntah mengapa mata ini selalu teralihkan ke satu sudut keberadaan Nona
'N', disana masih sama seperti yang tadi, tak ada air mata, tanpa ekspresi dan
terus memperhatikan lurus ke arah Tuan 'I' yang sedang memberikan wejangan. Ada
apa dengan produksi air mata wanita ini? Ada apa dengan otot-otot wajahnya? Ada apa dengan hormon perasaannya? Mereka tidak tergerak akan suatu kisah
sedih? Mereka tidak tergerak selayaknya? Wanita ini si lugu yang dingin dan
misterius.
Seperti matahari terbit
membawa rejeki, kabar baik akhirnya datang, Tuan 'I' berusaha sekali lagi untuk
meyakinkan orang tuanya bahwa dia masih bisa menjaga kesehatannya di kampung
ini, dengan syarat tidak ada paksaan berpuasa untuknya, itu wajar untuk orang
sakit. Tidak ada kerja yang terlalu berat, itu juga wajar untuk orang sakit.
Harus minum obatnya secara teratur, itu juga wajar untuk orang sakit, hal-hal
wajar lainnya untuk orang yang sakit harus wajib ia lakukan. Akhirnya, berita
menggembirakan itu dengan seketika merubah wajah-wajah sedih itu kembali ceria,
kembali bersuka cita, iya, Tuan 'I' yang sangat mereka banggakan tidak jadi
pergi. Lagi dan lagi, seperti yang sudah-sudah, mata ini kembali melirik Nona
'N', disana dia memang tampak ikut berhagia, tetapi usaha yang dia berikan
hanya dengan tersenyum lebar hingga ke ujung sudut bibirnya. Oh, aku baru
ingat, selama ini kan yang dia tahu hanya tersenyum, tersenyum dan tersenyum,
sampai sudah sangat bahagia dia bisa juga tertawa. Tapi, menangis? Ekspresi
itu, aku belum pernah lihat darinya. Si wanita tanpa kesedihan.
Akhirnya, masalah pertama
terselesaikan dengan baik dan bahagia.
Beralih kepada masalah kedua,
aku juga sebenarnya kurang paham dengan masalah ini, masalah yang memecah para
nona-nona menjadi dua kubu, ya, seperti itu lah yang bisa kusimpulkan.
Satu malam terakhir, tidak
tahu barang siapa yang mengadu duluan pada sang ketua Tuan 'I', tiba-tiba dia
berinisiatif mengumpulkan kami semua di rumah penampungan khusus pria. Disana,
tampak seperti kumpulan manusia tidak bernyawa, linglung, ada yang sedikit
tarik ulur ke mimpinya. Bahkan, ada yang terlihat masih mengantuk. Tetapi Tuan
'I' masih saja menyembunyikan masalah itu dari kami. Sungguh kasihan, belum
lagi sembuh dari sakitnya, dia sudah harus mengurusi masalah nan pelik ini.
Sepatah pertama yang keluar
dari mulutnya, membuat beberapa orang dengan sigap membuka mata mereka
lebar-lebar. Disana, di depan kami, Tuan 'I' menyampaikan rasa kekecewaannya
yang luar biasa mendalam pada nona-nona. Ada semacam bentrokan di antara mereka
dan itu membuat malu sang ketua karena diketahui langsung oleh bapak yang
mempunyai rumah tempat kami menampung.
Disana, Tuan 'I' ingin
memecahkan masalah yang masih samar ini. Dia, meminta siapa saja yang mau untuk
menceritakan semuanya, apa yang sebenarnya telah terjadi. Kalian pasti
tahu, sifat wanita, tidak mau mengalah, tidak mau mengungkapkan dengan jujur,
seperti ada lebel dihidup mereka yang bertuliskan 'kalau kalian buka mulut,
tenggelamlah sudah'. Tidak ada yang berani berbicara. Hingga berlama-lama, dan
malam yang semakin larut, terlebih besok kami harus bangun di gulita pagi untuk
melakukan sahur.
Oh, tidak, Tuan 'I' bahkan
terlihat marah besar. Sampai, di suatu menit yang sudah keberapa kalinya terlewat
dengan kekosongan sebelumnya. Sebuah tangan terjulur keatas, sang penyelamat
waktu tidur kami. Wow, siapa itu yang dengan beraninya mengajukan diri? Hebat.
Si Nona 'N', kenapa dia? Apa
yang ingin dikatakannya dengan sifatnya yang seperti itu? Kulihat kesamping,
kedepan, kebelakang. Semua tidak kalah tercengongnya, sama sepertiku.
Dia mulai berbicara, mulai
mengungkapkan keganjilan yang ada di antara nona-nona dengan caranya sendiri,
bahkan terlalu jujur untuk masalah personal, dan akhirnya dengan semua
penjelasannya, Tuan 'I' disana menyimpulkan masalah apa yang sebenarnya melanda
mereka, tanpa memihak ke siapapun, bahkan kepada Nona 'N' yang justru adalah
sahabatnya. Tapi, ada hal yang lebih mencengangkan lagi saat Nona 'N' mulai
bercerita, siapa yang bisa menebak kalau, dia menceritakan semua masalah pelik
itu sambil berderai air mata. Hey, dia menangis. Moment langkah untuk
diabadikan.
Satu kejujuran air matanya
akhirnya membuka mulut-mulut nona yang lain. Sifat wanita yang ku ketahui
bertambah satu, yaitu, 'wanita harus dipancing, baru bertindak'.
Malam itu masalah ditutup
dengan saling maaf-memaafkan antara nona-nona, ditutup dengan wajah
masing-masing mereka yang sembab.
Bicara tentang menangis, Nona
'N', masih sesenggukan di sana, aku yang kemarin ingin melihat ekspresinya
menangis, sekarang malah ingin menghentikan air mata itu keluar. Oh, betapa ada
denyutan disini, melihat dia begitu sedih.
(Daripada tangisan, aku lebih
menyukaimu tersenyum seperti biasanya nona 'N')

No comments:
Post a Comment