Friday, April 1, 2016

Catatan Seorang Pria (Satu Kejujuran Air Matanya)

Malam-malam terakhir kami di kampung orang, riuhnya anak-anak yang mendapatkan kado yang telah kami siapkan sebelumnya, berbuka bersama bareng mereka, salah satu hal istimewa yang bisa kami bagikan kepada mereka. Menyenangkan sekali, melihat mereka tertawa, seperti tidak ada masalah yang memberatkan.

      Bicara tentang masalah, malam-malam sebelumnya kami dihadirkan dengan berbagai macam masalah pelik, mulai dari ketua kami, Tuan 'I', yang mendadak sakit, melihat wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang menggetar hebat, aku tau yang dibutuhkannya sekarang adalah rumah perawatan, tetapi dengan tegasnya dia menganggap sakit yang dideritanya adalah hal yang sepele, bahkan kata-kata orangtuanya yang keluar dari sudut telepon itu diabaikan mentah-mentah olehnya, apalah daya kami tidak mau dia menderita menahan sakit, tetapi kami juga enggan melepas sang ketua dari jabatannya sekarang, tak ada yang sanggup untuk menggantikan kepemimpinannya untuk kami di kampung ini.
      Dalam sebuah wacana, sepertinya sakit itu tidak bisa ditahannya. Jadi, apa boleh buat, di saat itu, dia mengumpulkan kami semua di masjid, ba'da zuhur, berbincang perihal acara yang akan segera kami lakukan di kampung itu dalam beberapa hari, disana juga dia menyampaikan bahwa sepertinya dia harus benar-benar pulang dan pergi berobat. Mulailah disitu, para nona sedih akan kehilangan dia, derai air mata mereka seperti tak terbendung. Bahkan si Tuan 'R' juga ikut menangis disana, tidak mau kalah akupun ikut menangis, secengeng itunya kami. Tapi, apa benar yang kulihat?, pandangan itu tiba-tiba saja beralih ke Nona 'N', dia hanya berwajah datar, tidak ada tangisan atau seharusnya ada dorongan untuk memberikan Tuan 'I' hanya setitik mata memerah, aku sama sekali tidak melihat itu darinya, bukankah Tuan 'I' dan Nona'N' itu sangat akrab. Pertemanan mereka sangat solid. Tapi kenapa bisa dia sedingin itu menanggapi nasib buruk sahabatnya sendiri. Bahkan si Nona 'G' sudah kian memerah mukanya disana, walau Nona 'G' juga tidak menangis, tapi dia masih tampak manusiawi dengan sedikit mata berkaca-kaca. Lalu Nona 'N'? Apa dia hanya mencoba tegar? Apa dia hanya tidak ingin menambah kesedihan? Apa menangis bukanlah kebiasaannya saat sedih? Apa dia sebelumnya sudah tau akan keputusan Tuan 'I' dan sudah menangis di belakang waktu?, bagaimana bisa dia terus menatap kesedihan di mata Tuan 'I' yang sedang memberitahu akan pergi tetapi dia masih diam terpaku saja? Ntahlah, banyak yang tidak ku ketahui tentangnya, dan dia adalah penutup diri yang cerdas.

      Malu dengan warga sekitar, kami akhirnya bertolak ke rumah penampungan, disana semua kembali ceria, Tuan 'I' memang pandai membuat lelucon, semua bahkan seperti melupakan kejadian beberapa menit yang lalu. Sampai akhirnya Tuan 'I' pergi kearah kamar, mengepak barang-barangnya dalam satu ransel besar dan kemudian duduk di tengah-tengah kami, memberikan wejangan panjang sebelum dia pergi berobat. Disana, mulailah adegan dramatisir beberapa menit lalu terulang lagi, derai air mata kembali membasahi wajah-wajah kami, bahkan ada beberapa yang mengeluarkan isakan. Lagi dan lagi, ntah mengapa mata ini selalu teralihkan ke satu sudut keberadaan Nona 'N', disana masih sama seperti yang tadi, tak ada air mata, tanpa ekspresi dan terus memperhatikan lurus ke arah Tuan 'I' yang sedang memberikan wejangan. Ada apa dengan produksi air mata wanita ini? Ada apa dengan otot-otot wajahnya? Ada apa dengan hormon perasaannya? Mereka tidak tergerak akan suatu kisah sedih? Mereka tidak tergerak selayaknya? Wanita ini si lugu yang dingin dan misterius.

      Seperti matahari terbit membawa rejeki, kabar baik akhirnya datang, Tuan 'I' berusaha sekali lagi untuk meyakinkan orang tuanya bahwa dia masih bisa menjaga kesehatannya di kampung ini, dengan syarat tidak ada paksaan berpuasa untuknya, itu wajar untuk orang sakit. Tidak ada kerja yang terlalu berat, itu juga wajar untuk orang sakit. Harus minum obatnya secara teratur, itu juga wajar untuk orang sakit, hal-hal wajar lainnya untuk orang yang sakit harus wajib ia lakukan. Akhirnya, berita menggembirakan itu dengan seketika merubah wajah-wajah sedih itu kembali ceria, kembali bersuka cita, iya, Tuan 'I' yang sangat mereka banggakan tidak jadi pergi. Lagi dan lagi, seperti yang sudah-sudah, mata ini kembali melirik Nona 'N', disana dia memang tampak ikut berhagia, tetapi usaha yang dia berikan hanya dengan tersenyum lebar hingga ke ujung sudut bibirnya. Oh, aku baru ingat, selama ini kan yang dia tahu hanya tersenyum, tersenyum dan tersenyum, sampai sudah sangat bahagia dia bisa juga tertawa. Tapi, menangis? Ekspresi itu, aku belum pernah lihat darinya. Si wanita tanpa kesedihan.

      Akhirnya, masalah pertama terselesaikan dengan baik dan bahagia.

      Beralih kepada masalah kedua, aku juga sebenarnya kurang paham dengan masalah ini, masalah yang memecah para nona-nona menjadi dua kubu, ya, seperti itu lah yang bisa kusimpulkan.

      Satu malam terakhir, tidak tahu barang siapa yang mengadu duluan pada sang ketua Tuan 'I', tiba-tiba dia berinisiatif mengumpulkan kami semua di rumah penampungan khusus pria. Disana, tampak seperti kumpulan manusia tidak bernyawa, linglung, ada yang sedikit tarik ulur ke mimpinya. Bahkan, ada yang terlihat masih mengantuk. Tetapi Tuan 'I' masih saja menyembunyikan masalah itu dari kami. Sungguh kasihan, belum lagi sembuh dari sakitnya, dia sudah harus mengurusi masalah nan pelik ini.

      Sepatah pertama yang keluar dari mulutnya, membuat beberapa orang dengan sigap membuka mata mereka lebar-lebar. Disana, di depan kami, Tuan 'I' menyampaikan rasa kekecewaannya yang luar biasa mendalam pada nona-nona. Ada semacam bentrokan di antara mereka dan itu membuat malu sang ketua karena diketahui langsung oleh bapak yang mempunyai rumah tempat kami menampung.

      Disana, Tuan 'I' ingin memecahkan masalah yang masih samar ini. Dia, meminta siapa saja yang mau untuk menceritakan semuanya, apa yang sebenarnya telah terjadi. Kalian pasti tahu, sifat wanita, tidak mau mengalah, tidak mau mengungkapkan dengan jujur, seperti ada lebel dihidup mereka yang bertuliskan 'kalau kalian buka mulut, tenggelamlah sudah'. Tidak ada yang berani berbicara. Hingga berlama-lama, dan malam yang semakin larut, terlebih besok kami harus bangun di gulita pagi untuk melakukan sahur.

      Oh, tidak, Tuan 'I' bahkan terlihat marah besar. Sampai, di suatu menit yang sudah keberapa kalinya terlewat dengan kekosongan sebelumnya. Sebuah tangan terjulur keatas, sang penyelamat waktu tidur kami. Wow, siapa itu yang dengan beraninya mengajukan diri? Hebat.

      Si Nona 'N', kenapa dia? Apa yang ingin dikatakannya dengan sifatnya yang seperti itu? Kulihat kesamping, kedepan, kebelakang. Semua tidak kalah tercengongnya, sama sepertiku.

      Dia mulai berbicara, mulai mengungkapkan keganjilan yang ada di antara nona-nona dengan caranya sendiri, bahkan terlalu jujur untuk masalah personal, dan akhirnya dengan semua penjelasannya, Tuan 'I' disana menyimpulkan masalah apa yang sebenarnya melanda mereka, tanpa memihak ke siapapun, bahkan kepada Nona 'N' yang justru adalah sahabatnya. Tapi, ada hal yang lebih mencengangkan lagi saat Nona 'N' mulai bercerita, siapa yang bisa menebak kalau, dia menceritakan semua masalah pelik itu sambil berderai air mata. Hey, dia menangis. Moment langkah untuk diabadikan.

      Satu kejujuran air matanya akhirnya membuka mulut-mulut nona yang lain. Sifat wanita yang ku ketahui bertambah satu, yaitu, 'wanita harus dipancing, baru bertindak'.

      Malam itu masalah ditutup dengan saling maaf-memaafkan antara nona-nona, ditutup dengan wajah masing-masing mereka yang sembab.

      Bicara tentang menangis, Nona 'N', masih sesenggukan di sana, aku yang kemarin ingin melihat ekspresinya menangis, sekarang malah ingin menghentikan air mata itu keluar. Oh, betapa ada denyutan disini, melihat dia begitu sedih.

(Daripada tangisan, aku lebih menyukaimu tersenyum seperti biasanya nona 'N')

No comments:

Post a Comment