sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang bercetak plus di bold itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA
---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION
Part 2
SELAMAT MEMBACA
---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION
Part 2
---The Girl and Her Book---
Rabu pagi yang cerah ditemani dengan
guguran bunga yang mulai terlihat sedikit berserakan di tepi jalan, tapi tetap
tidak dapat membuat Han Haneul terkagum atasnya. Baginya semua hari sama saja,
bagaimanapun keadaannya itu tetap sama.
Perasaannya sudah terkubur cukup
dalam untuk mengakui sesuatu yang terlihat mengagumkan. Untuknya, bisa bertahan
hidup adalah satu-satunya yang membuatnya bahagia.
Haneul terus melajukan sepedanya
mengikuti jalanan khusus sepeda dipinggiran kota Seoul. Memang terlihat aneh
sekali, biasanya orang kaya akan pergi kesekolah dengan supir pribadinya atau
setidaknya mengemudikan kendaraan mewahnya sendiri. Tapi tidak untuk Haneul.
Jika ada yang bertanya kenapa ia
tidak melakukan hal yang sama, Haneul hanya menjawab.
“Apartement ku cukup dekat
dengan sekolah untuk apa aku naik mobil seperti kalian?” atau jawaban lainnya
“di negara yang tidak menghasilkan minyak bumi sama sekali, harga bahan bakar
sangat mahal, aku tidak ingin menyia-nyiakan uangku untuk membeli bahan bakar”
atau “pendingin mobil tidak bagus untuk kulit wajah, dan juga kau akan menambah
polusi jika menggunakannya.” Dan percayalah Haneul masih punya banyak alasan
lain mengenai masalah ini.
Dia hanya menggunakan sepeda
berwarna merah cerah, bahkan merk sepeda itu bukanlah yang biasa
digunakan oleh orang-orang kaya pada umumnya. Hanya sepeda dengan harga minim. Haneul sudah dapat melihat gerbang sekolah didepannya, melewati penjaga tanpa ada tegur sapa sama sekali, dan memarkirkan sepedanya di tempat biasa.
Sampai sekarang belum ada lagi yang
mengerjainya, setelah beberapa hari yang lalu Choi Gyeum Ri tersingkir.
‘Apa kau ingin diisi lagi bukuku?’
Baru saja Haneul berpikiran seperti
itu, tiba-tiba saja kejadian yang diinginkannya terjadi. Kali ini bukan disiram air lagi tapi beberapa orang sepertinya sudah menyiapkan sebuah tali di tangga dekat pintu masuk. Haneul sama sekali tidak menyia-nyiakan kerja keras mereka yang sudah menyiapkan ini matang-matang.
Jika seharusnya ia bisa menghindar,
Haneul malah sengaja pura-pura tidak tahu dengan kejadian di depan matanya. Ia
tetap terus melangkahkan kakinya kearah tali itu. Dan alhasil
Brukkkkk
Tubuh Haneul tercampak kedepan tali
cukup jauh dan terjatuh dengan keadaan terlungkup, uh pasti cukup sakit, kenapa
ia menyakiti dirinya sendiri?
Dia melihat kedaerah lututnya yang
nyeri, kaca matanya terlepas jadi ia hanya bisa melihat samar-samar kalau darah
segar tengah mengalir dari sana, dan mungkin ini yang menjadi catatan terparah
ia dikerjai, ia susah sekali menegakkan badannya.
Yang bisa dilakukannya hanyalah
mendongakkan kepalanya , menyilir setiap wajah di sekitarnya.
Terlalu banyak wajah untuk di
masukkan kedalam bukunya. Sampai seorang wanita berjalan ditengah-tengah
mereka, dan tertawa paling keras diantara yang lainnya.
Haneul yakin wanita inilah yang
merencanakan semuanya. Tapi ia tetap belum bisa melihat wajah itu dan Haneul juga
belum bisa menegakkan tubuhnya. Tangannya mulai menggapai ke area sekitar ia
jatuh, mencari kacamatanya yang terlepas.
Setelah berhasil mendapatkannya,
Haneul mulai memasangkannya di matanya.
‘Humm, ternyata kau. Orang yang
selalu iri dengan nilaiku dikelas. Aku tidak akan melepaskanmu Ban Suyoung.’
Haneul telah menemukan nama baru
untuk di masukkan ke bukunya kembali. Ditengah rasa sakit yang di rasakan
tubuhnya, Haneul masih sempat tersenyum, bodoh sekali dia semua orang masih
terus menertawakannya dengan posisi badan yang belum bisa bangkit juga.
Haneul mencoba untuk bangkit, tapi
sepertinya tetap tidak bisa, badannya serasa remuk setelah terjatuh tadi. Sebuah langkah kaki terlihat menuju ke arahnya. Haneul terus mencoba meneliti siapa sekarang yang ada dihadapannya. Matanya menilik dari ujung kaki sampai rambut.
Seorang lelaki, ia sama sekali tidak
menggunakan seragam sekolahnya, dan juga Haneul seperti baru pertama sekali
melihat orang itu.
‘Siapa Dia?’
Ditengah-tengah keramaian lelaki itu
perlahan mengangkat tubuh Haneul dan menggendongnya di belakang. Berlari
sekencang mungkin hingga langkahnya terhenti di depan pintu ruang kesehatan.
Seperti yang terlihat, keadaan Haneul cukup menyedihkan.
Orang yang sedang digendong malah
sudah kehilangan kesadarannya sejak lelaki itu mulai menggendongnya. Sedangkan kerumunan yang masih terkumpul di tangga masuk mulai mericuh satu sama lain.
“siapa dia?”
“huahhh dia tampan!”
“kau tahu murid pindahan yang
katanya akan datang dari Canada, sepertinya itu dia.”
“benarkah?, aku harap dia sekelas
dengan kita.”
“dia cukup berani menolong bahan
kerjaan Suyoung.”
“lihat, Suyoung masih melihat kearah
lelaki itu, padahalkan mereka sudah menghilang sejak tadi di lorong itu?”
---The Girl ang Her Book---
Haneul mulai sadar, tetapi ia masih
enggan untuk membuka matanya. Yang ia rasakan sekarang adalah sakit di sekujur
tubuhnya. Ada sesuatu yang bergerak di dahinya. Sepertinya sebuah tangan. Dan
tiba-tiba ia merasakan perih di dahinya ketika setetes cairan jatuh keatas
dahinya.
“Auhhhh” dia merintih pelan sembari
membuka matanya.
Yang ia lihat sekarang adalah wajah
seseorang yang samar-samar berada dekat sekali dengannya. Dia sangat terkejut
dan mencoba mendudukkan tubuhnya. Mengambil kacamatanya yang ada di atas nakas
dan memakainya.
“siapa kau?” teriak Haneul kaget.
Sedangkan lelaki tadi hanya diam dan
berusaha melanjutkan aksinya tadi yang sempat terhenti. Ia mencoba mengarahkan
tangannya ke dahi Haneul kembali. Tangan Haneul bersiap-siap menepisnya. Tapi
terlambat lelaki itu –dengan tangan yang satunya lagi- menggenggam kuat tangan
Haneul. Kemudian ia melayangkan senyumannya.
Haneul merasakan seperti ada yang
mengalir di dahinya dan hampir mengenai matanya. Ia berusaha meraba daerah itu,
kemudian melihatnya.
Yang ia lihat adalah cairan berwarna
merah kecoklatan.
“Apa ini?” mencoba menanyakannya
kepada lelaki yang kini ada di hadapannya.
“itu betadine, dahimu
berdarah, jangan bergerak dulu aku hanya tinggal menempelkan plester ini,”
Haneul mengikuti intruksi dari
lelaki tersebut. Setelah selesai mereka hanya berdiam diri hingga Haneul mulai
menginterupsi.
“Ini di ruang kesehatankan?, kenapa
aku bisa disini?”
“kau tidak ingat?. Kau terjatuh
cukup kuat tadi di depan, dan aku yang membawamu ke sini”
“Ah, Ban Suyoung?” Haneul ingat akan
semuanya.
“Ban Suyoung?, itu namamu?,
sepertinya aku salah jelas-jelas nametag mu bertuliskan Han Haneul. Jadi
kau Haneul, kenalkan aku Jinki, Lee Jinki”
Jadi kau yang bernama Han Haneul,
aku telah menemukanmu.
Haneul sama sekali tidak mengubris
lelaki yang bernama Jinki itu.
“Apa jam pelajaran telah dimulai?”
Jinki mengangguk “aku mendengar bel
tadi, aku rasa itu yang kau maksud, belnya sudah berbunyi dari tadi.”
Haneul sudah bersiap mengambil
ancang-ancang untuk turun dari atas tempat tidur. Dan kembali tangan lelaki itu
mencegahnya.
“kau tidak merasakan sakit di
sekujur tubuhmu?”
“apa maksudmu, jelas aku
merasakannya, ini sangat sakit” Haneul memasang senyum licik kembali saat wajah Suyoung terlintas di
benaknya.
“Lihat!!!” Jinki mengarahkan
telunjuknya ke wajah Haneul “kau tersenyum lagi, sama seperti saat kau jatuh
tadi, apa sekarang wanita akan tersenyum saat dia sakit dan menangis saat dia
bahagia?. Ckckck” jinki menggelengkan kepalanya. “wanita zaman sekarang
benar-benar aneh”.
“minggir aku ingin kembali kekelas”
balas Haneul, dingin.
“kau bilang ini sangat sakitkan?,
berbaringlah sebentar disini, nanti aku akan mengantarmu kekelas.” Ekspresi
Jinki yang ceria kini berubah sama dinginnya dengan wajah Haneul.
“aku tidak ingin membuang waktu dan
uangku dengan bersantai-santai disini, cepat minggir.”
“kau kira uangmu Cuma untuk membayar
guru-guru yang mengajar disini? Membayar buku-buku pelajaran? Atau tempat
duduk di kelasmu?” Jinki tiba-tiba
menyolot kearah Haneul.
Haneul hanya diam, ia sama sekali
tidak ingin mendengarkan lelaki ini lebih lanjut, lagipula siapa pria ini?,
Haneul yakin dia bukan siswa sini, dia sama sekali tidak memakai seragam seperti
dirinya.
“sebagian uangmu juga masuk untuk
membeli peralatan di ruang kesehatan ini, jadi kau nikmatilah dengan baik.”
Jinki pergi begitu saja setelah berhasil menyelesaikan kata-katanya.
Setelah mendengar itu semua, Haneul
hanya bisa diam, baru kali ini ada yang bicara cukup lama dengannya dan obrolan
itu berhasil menohok hatinya. Haneul membaringkan kembali tubuhnya ke ranjang, menatap langit-langit ruang kesehatan yang berwarna putih itu.
‘Apa selama ini aku salah?’
Haneul menggeleng pelan meyakinkan
bahwa ia sama sekali tidak salah.
‘Aku tidak salah, lelaki itulah yang
salah, aku benar, aku selalu benar.’
Perlahan ia bangkit kembali, dan
meraup tasnya yang terletak di atas nakas. Membuka tas itu dan mengambil
bukunya. Membuka setiap halamannya dan berhasil menemukan halaman kosong
setelah nama dan riwayat kehancuran Choi Gyeum Ri terlewat.
Ada nama baru yang akan tertera
disana. Ban Suyoung, Haneul menuliskan nama itu dengan perlahan sambil terus
tertawa. Kemudian dia mengkosongkan 1 lembar kembali dan membuka lembar
berikutnya. Penanya ingin menulis sebuah nama lagi.
Sepertinya ia akan menghabisi dua
orang sekaligus. Tapi siapa dia yang cukup sial yang akan dituliskan namanya?
Penanya telah bergesek menuliskan
dengan perlahan huruf-huruf dari nama orang tersebut.
L…
e…
e…
J…
i…
n…
k…
i...
Ya, benar sekali tulisan itu
membentuk nama Lee Jinki, Bagaimana bisa ia cukup kejam menuliskan nama
seseorang yang baru dikenalnya. Wanita ini lebih dari sekedar kejam. Bagi Haneul Lee Jinki adalah salah satu orang yang telah mengusiknya. Ia kembali menghubungi orang kepercayaannya.
“Yoboseo”
“Tuan park, kali ini pekerjaanmu
bertambah, kau harus mengorek data dua orang sekaligus”
“Ne, siapa itu?”
“yang pertama adalah Ban Suyoung,
kau pasti mengenalnya dia sekelas denganku”
“dan siapa yang satunya?”
“Lee Jinki, aku tidak mengenalnya
sama sekali, tapi ia masih behubungan dengan sekolah ini”
“Percayakan padaku”
Setelah menyelesaikan teleponnya, ia
beranjak dari ruang kesehatan menuju kekelasnya, ini sudah sangat terlambat dan
sekarang ia juga diperlambat dengan jalannya yang terseok-seok.
Haneul membuka pintu kelas, semua
menatapnya heran tak terkecuali Ban Suyoung.
‘Ternyata kau cukup kuat Han Haneul,
sungguh menakjubkan.’
“maafkan aku atas keterlambatanku seonsangmin”
Haneul membungkukkan dirinya.
“aku sudah dengar semuanya, kau bisa
langsung duduk sekarang.”
Haneul menegakkan badannya, tidak
tampak lagi jalannya yang terseok-seok tadi, ia harus terlihat kuat didepan
semuanya. Sesakit apapun tubuhnya sekarang, itu akan sangat memalukan kalau
sampai ia menunjukkannya. Menghentikan langkahnya tepat disamping Ban Suyoung,
menatap tajam kearahnya dan disertai senyuman licik itu lagi sampai beberapa
detik. Kemudian kembali melangkahkan kakinya dan duduk dikursinya.
Haneul merasa ada pergerakan
disebelahnya.
‘Siapa yang duduk di sana, bangku
itu bukannya sudah lama kosong?’
Haneul menatap kesampingnya.
“Hai kita bertemu lagi, selama
setahun ini kita akan jadi teman sebangku”
‘Han Haneul sepertinya kita
ditakdirkan dekat, ini akan sangat mudah.’
“Kau!!!” Pekik Haneul sambil
menunjuk kearah wajah seseorang itu.
---The Girl and Her Book---
Langkah tegas dari seorang lelaki
yang baru saja meninggalkan kantor staff sekolah –mengambil baju
seragam- menggema keseluruh lorong panjang di lantai dua, berhenti di depan toilet
pria dan mengganti bajunya dengan seragam yang ia ambil tadi. Kemudian melanjutkan
jalannya menuju sebuah ruangan yang di depannya ditandai dengan papan panjang
–tergantung diatasnya- bertuliskan kelas sebelas A.
Pintu ruangan itu dibuka olehnya,
sebelum ia masuk guru yang ada didalam sudah terlebih dahulu keluar untuk
menyambutnya. Membawa pria itu masuk bersamanya. Berhenti sejenak didepan
kelas, sekarang dia mencuri perhatian setiap murid yang ada dikelas itu. Tak
terkecuali murid-murid wanita yang terus menatapnya.
Seperti ritual yang sudah-sudah. Yah
pria ini tau, dia harus memperkenalkan dirinya di hadapan seluruh siswa di
kelas itu.
kelas makin tidak kondusif karena
murid-murid mericuhkan tentang dirinya.
“Jadi, dia murid pindahan dari luar
negeri itu, dari mana itu?”
“dari Canada” siswa lain mulai
menyahut.
“dia tampan….”
“di juga tinggi….”
“sepertinya akan ada satu siswa
tampan lagi yang akan mengisi kelas kita”
Kelas sebelas A memang terkenal
dengan siswa-siswinya yang tampan, cantik dan juga populer.
“Hei sepertinya aku pernah
melihatnya”
“ah, yang di depan tadi yang menolong
wanita aneh tadi”
“Ban Suyoung, benarkan tadi dia?”
“tampan..” Ban Suyoung hanya
menjawab itu, sepertinya wanita penguasa kelas ini tertarik kepada lelaki yang
sekarang masih mematung di depan kelas itu.
Lelaki didepan tadi sepertinya sudah
tidak sabar untuk memperkenalkan dirinya didepan kelas dan segera duduk.
“Nama saya Lee Jinki” Jinki
menekankan dan menguatkan volume suaranya, dan benar saja suara ricuh
yang berasal dari siswa-siswi tadi mulai menipis dan kini menghilang.
“Saya dari Canada, mohon bantuannya”
Jinki menundukkan badannya ke semua penghuni kelas, termasuk ke arah seonsangnim.
“Jinki, dibelakang ada beberapa
bangku yang masih kosong, kau bisa memilih satu untuk menjadi tempat dudukmu” seonsangnim
mengarahkannya. “oh ya, yang itu sudah ada yang menempatinya, dia belum
datang.” Sambungnya.
Jinki memilih bangku kosong di
samping bangku yang katanya tadi sudah ada yang menempatinya. Posisi yang cukup
bagus. Disebelahnya langsung menghadap jendela yang menampilkan lapangan luar.
Setidaknya ia bisa mengalihkan pandangannya ke sana saat nanti ia merasa bosan
pada pelajaran.
Jinki melirik kearah sebelahnya. Huh
diawal sekolahnya teman sebangkunya malah belum datang, atau sebenarnya tidak
datang?.
Srekkkk….
Terdengar pintu kelas kembali terbuka.
Seorang wanita berjalan masuk
kedalam dan berhenti tepat di depan pintu kelas setelah ia menutupnya kembali.
Jinki dan semua murid di kelas
kembali kehilangan fokus mereka. Jinki tersenyum saat tahu siapa sebenarnya
wanita yang baru masuk tadi.
Wanita itu membungkukkan badannya
dan berkata “maafkan aku atas keterlambatanku seonsangmin”
‘Ternyata kau cukup kuat Han Haneul,
sungguh menakjubkan.’
“aku sudah dengar semuanya, kau bisa langsung
duduk sekarang”. Seonsangnim mengijinkannya untuk duduk.
Wanita itu berjalan dengan tegas dan
terlihat menghentikan langkahnya tepat didepan orang yang Jinki ketahui ia
lihat di depan pintu masuk tadi, dan tertawa cukup keras saat Haneul terjatuh.
Jinki lihat Haneul kembali
tersenyum, dan dengan senyum yang sama juga, senyum liciknya. Kemudian
perlahan-lahan berjalan kearah bangku yang ada di sebelahnya.
Sepertinya Haneul belum menyadari
kalau disebelahnya kini sudah ada sosok Jinki. Jinki mencoba untuk
bergerak-gerak di tempat duduknya. Hanya untuk membuat haneul melihat
kearahnya.
Jinki berhasil. Haneul menatap
kearahnya. Jinki langsung menyambutnya.
“Hai kita bertemu lagi, selama setahun ini
kita akan jadi teman sebangku”
‘Han Haneul sepertinya kita
ditakdirkan dekat, ini akan sangat mudah.’
“Kau!!!” Pekik Haneul sambil
menunjuk kearah wajah seseorang itu.
---The Girl and Her Book---
To be-Continue
RLC Please
RLC Please

No comments:
Post a Comment