Friday, January 1, 2016

The Girl and Her Book (Part 3)

sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang bercetak plus di bold itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA

---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION

Part 3

---The Girl and Her Book---


Ia sudah mencoba menghindar setiap kali pria itu mengajaknya untuk berbicara, setiap waktu istirahat tiba Haneul sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa lagi, sudah hampir seminggu ia tidak bisa melancarkan misinya, mencoba pergi ke kantin –tempat yang baru terhitung dua kali ia menginjakkan kakinya disana- pria itu tetap mengikuti, bahkan sampai tempat persembunyian terakhirnya di perpustakaan, pria itu juga tetap kukuh untuk mengikutinya. Sebenarnya apa maunya?. Ada dua nama orang di bukunya yang harus ia selesaikan. Ban Suyoung dan pria itu –Jinki-. Jika ia terus diikuti seperti ini, Haneul tidak bisa menyingkirkan mereka.

Terlebih sekertarisnya –Tuan Park- belum juga mengirimkan informasi lanjut tentang dua orang itu. Sebenarnya siapa mereka berdua hingga susah sekali dilacak.

Haneul baru saja melintasi pintu kamar mandi wanita disekolahnya. Ia mendapatkan sebuah anugerah. Melirik sejenak kebelakang, dan benar saja Jinki masih setia mengikutinya. Sekarang sudah terbukti bahwa Jinki cukup mempunyai kesalahan sehingga namanya bisa masuk di dalam buku hitam yang terus dipegang Han Haneul.

‘Dia masih terus mengikuti.’

Kemudian tiba-tiba saja mulut Haneul melengkungkan sebuah senyuman, dan kali ini pun sama, senyuman itu terlihat mengerikan.

‘Kau juga akan mengikutiku ke kamar mandi Jinki?.’

Segera ia masuk kedalam sana, bersembunyi di salah satu bilik kamar mandi. Merogoh sakunya dan mencoba untuk menghubungi sekertarisnya. Telponnya tersambung, tapi belum di angkat. Haneul merasa geram, sekertarisnya mungkin akan terkena amukan dahsyat darinya nanti.

Ini sudah panggilan yang kelima tapi tetap tidak ada jawaban dari sekertarisnya. Padahal kesempatan untuk sendiri cukup berharga sekarang, semenjak Jinki ada waktu tenangnya terasa semakin menipis.

‘Angkat sekarang juga, aku sedang kesal.’

Ia merasa sangat geram, ini terlihat dari Haneul yang terus menggenggam ponselnya dengan sangat kuat.
Tlinggg….

Itu bunyi dari pemberitahuan e-mail di ponselnya. Sepertinya sekertarisnya sengaja tidak mengangkatnya, ia tahu kalau Haneul akan mencak-mencak.

‘Kau selamat tuan park.’

Andai saja ia bisa memasukkan nama tuan Park kedalam buku hitamnya, pasti akan dilakukannya sekarang. Tapi, jika tuan Park tersingkir maka dia akan sendirian dan tak punya pegangan.
Setelah ia membaca semua isinya, Haneul merasa semakin marah, yang ia baca hanya data-data mengenai Ban Suyoung, data Jinki sama sekali tidak ada. Tapi untuk satu ini Haneul rasa cukup. Mungkin dalam minggu ini hanya satu orang yang tidak akan selamat darinya –Ban Suyoung-.

Baru saja ingin memindahkan data-data Suyoung kedalam bukunya, bel dengan semaraknya berbunyi keseluruh sekolah.

‘Mungkin aku bisa mencatatnya dikelas nanti, guru Kim kan tidak masuk.’

Sewaktu keluar dari bilik kamar mandi, suasana sudah kosong. Tidak ada lagi para yeoja yang menggosip di depan kaca atau sekedar bersolek merapikan riasan muka mereka.

Haneul membuka pintu utama kamar mandi dan terkejut mendapati sosok Jinki masih setia menunggunya di luar sana.

“kau lama sekali didalam, aku malu sedari tadi wanita yang ingin masuk kedalam menatapku dengan sinis, aku seperti penjahat yang ingin mengintip dimata mereka.”

Laki-laki ini terus saja mencoba akrab dengan dirinya. Tapi Haneul bukanlah orang yang mudah dekat atau bahkan sampai membubuhkan kata ‘teman’ kepada orang lain. Tiba-tiba sebuah tangan terasa menggenggam tangannya dan menariknya paksa. Mengajaknya berlari dikoridor sekolah sepertinya arahnya menuju kelas mereka.

Tanpa perlawanan sedikitpun Haneul mengikuti langkah Jinki yang terus membimbingnya kekelas. Sepanjang mereka berlari Haneul terus memandangi Jinki yang sepertinya tengah tersenyum dengan wajah ngosh-ngosh-an khas seperti orang berlari pada umumnya.

Yang menjadi pertanyaannya sekarang, kenapa ia tidak marah?, kenapa ia tidak coba melawan?, kenapa ia harus mengikuti Jinki.

‘Siapa sebenarnya dirimu Jinki?’

“Kita sampai, huh… huh…” mereka baru saja sampai didepan kelas dengan pintu yang masih tertutup.

“kau berlari lama sekali, aku dengar guru Kim sangat galak, kita pasti terlambat sekarang”. Jinki masih sempat mengeluh didepannya, dan Haneul masih terus menatapnya aneh.

“aku akan memberi alasan, kau diam saja di sana” perintah Jinki kepada Haneul.

Kentara sekali tangan Jinki terlihat gemetaran saat ingin membuka pintu. Sebenarnya apa yang telah didengarnya dari penghuni sekolah ini tentang guru Kim –guru matematika- yang katanya galak. Ia terus memegang pintu itu, segera membukanya. Dan tiba-tiba saja ia membalikkan badannya.

“kenapa lagi?” Haneul geram sekali dengan lelaki didepannya kini.

“tunggulah!!!, aku belum cukup siap, aku kan murid baru, aku tidak ingin terlihat buruk dimata para guru?”.

Demi apa Haneul ingin sekali menghantamkan tinjunya ke wajah pria ini?, apa selama ini ia tidak punya catatan buruk disekolah sebelumnya?, tidak pernah kena hukumankah?. Jinki lebih dari sosok pria yang pengejut di matanya.

“minggir!” Haneul mendorong Jinki begitu saja dari hadapan pintu. Membuka pintu itu dengan keras dan berlenggang masuk kedalam dengan santainya.

‘Sepertinya aku harus pindah sekolah.’ Menggeleng keras akan pemikiran bodohnya sendiri, bertahan adalah salah satu keunggulannya selama ini, yang harus pergi adalah orang lain bukan dirinya.

‘Bodoh, kenapa aku bisa memikirkan itu?.’

Sebelumnya Haneul tidak pernah merasa seperti ini, merasa ialah yang harus pergi. Pemikiran seperti ini sering kali ia ucapkan dalam benaknya setelah keberadaan Jinki muncul disekolahnya.

Ini kesempatan emas baginya untuk dapat menulis di buku hitamnya, mumpung Jinki masih digelayuti oleh yeoja-yeoja centil dikelasnya. Tidak akan ada yang mengganggunya sekarang. Kali ini Haneul harus mengucapkan terima kasih pada mereka karena bisa menahan Jinki sejenak di depan sana.

Kembali membuka buku hitam itu dan menuliskan semua data Ban Suyoung yang ada di dalam ponselnya.

‘Kau ternyata cucu pemilik sekolah ini?. Sepertinya akan sulit untuk mengeluarkanmu.’

Yang dapat Haneul baca hanyalah data baiknya Ban Suyoung, wanita itu sama sekali tidak mempunyai catatan buruk yang bisa di andalkan Haneul untuk menjatuhkannya, ia juga mewarisi perusahaan yang cukup terkemuka di kalangan para pebisnis.

Apa haneul harus melewatkan Ban Suyoung untuk disingkirkan dan langsung beralih ke nama Jinki?. Tapi sampai sekarangpun data-data Jinki belum ia dapatkan.

“Hufff”.

Mungkin hari ini ia belum berhasil, mungkin beristirahat sebentar tidak jadi masalah, ia melemaskan sedikit  kepalanya –memutar ke kanan dan ke kiri- sedikit terasa pusing, selagi guru Kim tidak hadir, tidak ada salahnya untuk dia tidur. Catat!!! ini baru dan untuk pertama kalinya ia tidur dikelas. Menyusupkan kepalanya di kedua lipatan tangannya –yang dia taruh di atas meja- dan mulai menutup matanya.

PLAKKK

“hei, kau jangan tidur dulu!”

Pria itu bahkan berani memukul pundaknya dengan cukup keras. Disaat alam mimpi baru mulai ingin menjamahnya. Pria ini benar-benar merusak harinya, ia jadi tidak mood lagi untuk kembali tidur.
Menegakkan kembali tubuhnya dikursi, yang ia lihat sekarang Pria itu –Jinki- sudah ada disampingnya.

“Maaf, apakah tadi sakit?, ini, ini… kau bisa membalasnya.”

Jinki membelakangi Haneul memberikan punggungnya untuk dikenai pukulan balasan dari Haneul.

‘Bodoh.’

“Hei, kenapa lama sekali, kau akan kehilangan kesempatan balas dendam jika begitu.”

Diam, itulah yang bisa dilakukan Haneul. Sampai Jinki kembali menatapnya.

“Kau tidak mau melakukannya”. Haneul hanya membalasnya dengan senyuman.

“jangan tersenyum, senyummu sama sekali tidak ada manis-manisnya, yang kulihat kau selalu tersenyum licik pada semuanya.”

Kekagetan yang luar biasa dari Haneul, Pria di sampingnya ini bisa membaca senyumnya, atau dia juga bisa membaca hati seseorang?. Frustasi tingkat dewa tengah melanda Haneul sekarang. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Dewi Fortuna tidak sedang memihak kepadanya.

“buku apa ini, covernya  sesuai sekali dengan dirimu, suram!!”

Pria ini selalu dengan seenaknya kepada Haneul, mengikutinya kemanapun dan sekarang merampas buku Haneul –yang ia lupa untuk memasukkannya kembali kedalam tas- secara tiba-tiba.

Haneul cukup kaget, apalagi seseorang yang memegang bukunya itu, namanya tertera didalamnya. Saat Jinki ingin membuka buku itu, tangan Haneul dengan cepat meraihnya. Kemudian langsung menyimpannya kedalam tasnya, dan mengunci tasnya rapat-rapat.

“kau jangan pernah sentuh apapun.”

“kenapa kau jadi sangat marah?, aku jadi tambah penasaran, buku apa itu?”


‘Ada yang coba kau sembunyikan, tunggulah sebentar lagi Gwe, aku akan mengetahuinya.’

---The Girl and Her Book---

To be-Continue

No comments:

Post a Comment