sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang bercetak plus di bold itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA
---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION
Part 3
SELAMAT MEMBACA
---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION
Part 3
---The Girl and Her Book---
Ia sudah mencoba menghindar setiap
kali pria itu mengajaknya untuk berbicara, setiap waktu istirahat tiba Haneul
sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa lagi, sudah hampir seminggu ia tidak
bisa melancarkan misinya, mencoba pergi ke kantin –tempat yang baru terhitung
dua kali ia menginjakkan kakinya disana- pria itu tetap mengikuti, bahkan
sampai tempat persembunyian terakhirnya di perpustakaan, pria itu juga tetap
kukuh untuk mengikutinya. Sebenarnya apa maunya?. Ada dua nama orang di bukunya
yang harus ia selesaikan. Ban Suyoung dan pria itu –Jinki-. Jika ia terus
diikuti seperti ini, Haneul tidak bisa menyingkirkan mereka.
Terlebih sekertarisnya –Tuan Park-
belum juga mengirimkan informasi lanjut tentang dua orang itu. Sebenarnya siapa
mereka berdua hingga susah sekali dilacak.
Haneul baru saja melintasi pintu
kamar mandi wanita disekolahnya. Ia mendapatkan sebuah anugerah. Melirik
sejenak kebelakang, dan benar saja Jinki masih setia mengikutinya. Sekarang
sudah terbukti bahwa Jinki cukup mempunyai kesalahan sehingga namanya bisa
masuk di dalam buku hitam yang terus dipegang Han Haneul.
‘Dia masih terus mengikuti.’
Kemudian tiba-tiba saja mulut Haneul
melengkungkan sebuah senyuman, dan kali ini pun sama, senyuman itu terlihat
mengerikan.
‘Kau juga akan mengikutiku ke kamar
mandi Jinki?.’
Segera ia masuk kedalam sana,
bersembunyi di salah satu bilik kamar mandi. Merogoh sakunya dan mencoba untuk
menghubungi sekertarisnya. Telponnya tersambung, tapi belum di angkat. Haneul
merasa geram, sekertarisnya mungkin akan terkena amukan dahsyat darinya nanti.
Ini sudah panggilan yang kelima tapi
tetap tidak ada jawaban dari sekertarisnya. Padahal kesempatan untuk sendiri
cukup berharga sekarang, semenjak Jinki ada waktu tenangnya terasa semakin
menipis.
‘Angkat sekarang juga, aku sedang
kesal.’
Ia merasa sangat geram, ini terlihat
dari Haneul yang terus menggenggam ponselnya dengan sangat kuat.
Tlinggg….
Itu bunyi dari pemberitahuan e-mail
di ponselnya. Sepertinya sekertarisnya sengaja tidak mengangkatnya, ia tahu
kalau Haneul akan mencak-mencak.
‘Kau selamat tuan park.’
Andai saja ia bisa memasukkan nama
tuan Park kedalam buku hitamnya, pasti akan dilakukannya sekarang. Tapi, jika
tuan Park tersingkir maka dia akan sendirian dan tak punya pegangan.
Setelah ia membaca semua isinya,
Haneul merasa semakin marah, yang ia baca hanya data-data mengenai Ban Suyoung,
data Jinki sama sekali tidak ada. Tapi untuk satu ini Haneul rasa cukup.
Mungkin dalam minggu ini hanya satu orang yang tidak akan selamat darinya –Ban
Suyoung-.
Baru saja ingin memindahkan
data-data Suyoung kedalam bukunya, bel dengan semaraknya berbunyi keseluruh
sekolah.
‘Mungkin aku bisa mencatatnya
dikelas nanti, guru Kim kan tidak masuk.’
Sewaktu keluar dari bilik kamar
mandi, suasana sudah kosong. Tidak ada lagi para yeoja yang menggosip di
depan kaca atau sekedar bersolek merapikan riasan muka mereka.
Haneul membuka pintu utama kamar
mandi dan terkejut mendapati sosok Jinki masih setia menunggunya di luar sana.
“kau lama sekali didalam, aku malu
sedari tadi wanita yang ingin masuk kedalam menatapku dengan sinis, aku seperti
penjahat yang ingin mengintip dimata mereka.”
Laki-laki ini terus saja mencoba
akrab dengan dirinya. Tapi Haneul bukanlah orang yang mudah dekat atau bahkan
sampai membubuhkan kata ‘teman’ kepada orang lain. Tiba-tiba sebuah tangan
terasa menggenggam tangannya dan menariknya paksa. Mengajaknya berlari
dikoridor sekolah sepertinya arahnya menuju kelas mereka.
Tanpa perlawanan sedikitpun Haneul
mengikuti langkah Jinki yang terus membimbingnya kekelas. Sepanjang mereka
berlari Haneul terus memandangi Jinki yang sepertinya tengah tersenyum dengan
wajah ngosh-ngosh-an khas seperti orang berlari pada umumnya.
Yang menjadi pertanyaannya sekarang,
kenapa ia tidak marah?, kenapa ia tidak coba melawan?, kenapa ia harus
mengikuti Jinki.
‘Siapa sebenarnya dirimu Jinki?’
“Kita sampai, huh… huh…” mereka baru
saja sampai didepan kelas dengan pintu yang masih tertutup.
“kau berlari lama sekali, aku dengar
guru Kim sangat galak, kita pasti terlambat sekarang”. Jinki masih sempat
mengeluh didepannya, dan Haneul masih terus menatapnya aneh.
“aku akan memberi alasan, kau diam
saja di sana” perintah Jinki kepada Haneul.
Kentara sekali tangan Jinki terlihat
gemetaran saat ingin membuka pintu. Sebenarnya apa yang telah didengarnya dari
penghuni sekolah ini tentang guru Kim –guru matematika- yang katanya galak. Ia
terus memegang pintu itu, segera membukanya. Dan tiba-tiba saja ia membalikkan badannya.
“kenapa lagi?” Haneul geram sekali
dengan lelaki didepannya kini.
“tunggulah!!!, aku belum cukup siap,
aku kan murid baru, aku tidak ingin terlihat buruk dimata para guru?”.
Demi apa Haneul ingin sekali
menghantamkan tinjunya ke wajah pria ini?, apa selama ini ia tidak punya
catatan buruk disekolah sebelumnya?, tidak pernah kena hukumankah?. Jinki lebih
dari sosok pria yang pengejut di matanya.
“minggir!” Haneul mendorong Jinki
begitu saja dari hadapan pintu. Membuka pintu itu dengan keras dan berlenggang
masuk kedalam dengan santainya.
‘Sepertinya aku harus pindah
sekolah.’
Menggeleng keras akan pemikiran bodohnya sendiri, bertahan adalah salah satu
keunggulannya selama ini, yang harus pergi adalah orang lain bukan dirinya.
‘Bodoh, kenapa aku bisa memikirkan
itu?.’
Sebelumnya Haneul tidak pernah
merasa seperti ini, merasa ialah yang harus pergi. Pemikiran seperti ini sering
kali ia ucapkan dalam benaknya setelah keberadaan Jinki muncul disekolahnya.
Ini kesempatan emas baginya untuk
dapat menulis di buku hitamnya, mumpung Jinki masih digelayuti oleh yeoja-yeoja
centil dikelasnya. Tidak akan ada yang mengganggunya sekarang. Kali ini Haneul harus
mengucapkan terima kasih pada mereka karena bisa menahan Jinki sejenak di depan
sana.
Kembali membuka buku hitam itu dan
menuliskan semua data Ban Suyoung yang ada di dalam ponselnya.
‘Kau ternyata cucu pemilik sekolah
ini?. Sepertinya akan sulit untuk mengeluarkanmu.’
Yang dapat Haneul baca hanyalah data
baiknya Ban Suyoung, wanita itu sama sekali tidak mempunyai catatan buruk yang
bisa di andalkan Haneul untuk menjatuhkannya, ia juga mewarisi perusahaan yang
cukup terkemuka di kalangan para pebisnis.
Apa haneul harus melewatkan Ban
Suyoung untuk disingkirkan dan langsung beralih ke nama Jinki?. Tapi sampai sekarangpun
data-data Jinki belum ia dapatkan.
“Hufff”.
Mungkin hari ini ia belum berhasil, mungkin
beristirahat sebentar tidak jadi masalah, ia melemaskan sedikit kepalanya –memutar ke kanan dan ke kiri-
sedikit terasa pusing, selagi guru Kim tidak hadir, tidak ada salahnya untuk
dia tidur. Catat!!! ini baru dan untuk pertama kalinya ia tidur dikelas.
Menyusupkan kepalanya di kedua lipatan tangannya –yang dia taruh di atas meja-
dan mulai menutup matanya.
PLAKKK
“hei, kau jangan tidur dulu!”
Pria itu bahkan berani memukul
pundaknya dengan cukup keras. Disaat alam mimpi baru mulai ingin menjamahnya.
Pria ini benar-benar merusak harinya, ia jadi tidak mood lagi untuk
kembali tidur.
Menegakkan kembali tubuhnya dikursi,
yang ia lihat sekarang Pria itu –Jinki- sudah ada disampingnya.
“Maaf, apakah tadi sakit?, ini, ini…
kau bisa membalasnya.”
Jinki membelakangi Haneul memberikan
punggungnya untuk dikenai pukulan balasan dari Haneul.
‘Bodoh.’
“Hei, kenapa lama sekali, kau akan
kehilangan kesempatan balas dendam jika begitu.”
Diam, itulah yang bisa dilakukan
Haneul. Sampai Jinki kembali menatapnya.
“Kau tidak mau melakukannya”. Haneul
hanya membalasnya dengan senyuman.
“jangan tersenyum, senyummu sama
sekali tidak ada manis-manisnya, yang kulihat kau selalu tersenyum licik pada
semuanya.”
Kekagetan yang luar biasa dari
Haneul, Pria di sampingnya ini bisa membaca senyumnya, atau dia juga bisa
membaca hati seseorang?. Frustasi tingkat dewa tengah melanda Haneul sekarang.
Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Dewi Fortuna tidak sedang memihak kepadanya.
“buku apa ini, covernya sesuai sekali dengan dirimu, suram!!”
Pria ini selalu dengan seenaknya
kepada Haneul, mengikutinya kemanapun dan sekarang merampas buku Haneul –yang
ia lupa untuk memasukkannya kembali kedalam tas- secara tiba-tiba.
Haneul cukup kaget, apalagi
seseorang yang memegang bukunya itu, namanya tertera didalamnya. Saat Jinki
ingin membuka buku itu, tangan Haneul dengan cepat meraihnya. Kemudian langsung
menyimpannya kedalam tasnya, dan mengunci tasnya rapat-rapat.
“kau jangan pernah sentuh apapun.”
“kenapa kau jadi sangat marah?, aku
jadi tambah penasaran, buku apa itu?”
‘Ada yang coba kau sembunyikan,
tunggulah sebentar lagi Gwe, aku akan mengetahuinya.’
---The Girl and Her Book---
To be-Continue

No comments:
Post a Comment