sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang ada tanda kutip satu plus di bold itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA
---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION
Part 6
SELAMAT MEMBACA
---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION
Part 6
---The Girl and Her Book---
Sepanjang jalan
Haneul tersenyum sumringah, menghirup udara kota dalam-dalam, terasa sejuk
kenapa baru kali ini dia merasakannya. Baru kali ini ia menikmati perjalanannya
pulang. Dan semuanya karena Jinki. Ya, karena pria menyebalkan itu.
---The Girl and Her Book---
To be-Continue
“aghhhh..” Haneul menjerit, terbangun
dari acara pingsannya. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Melihat
kesamping dan mendapatkan Jinki yang menjadi panik setelah mendengar teriakan
Haenul.
“kau sudah sadar.”
“kau, apa yang sebenarnya terjadi?”
Haneul melihat sekujur tubuhnya. “baju ini, kau yang menggantinya?”.
“jika aku jawab iya, bagaimana?”
Jinki tersenyum, wajah Haenul tiba-tiba saja terlihat sangat marah.
“tentu
bukan, pelayan yang menggantinya.”
“apa sebenarnya yang terjadi?”.
“kau tenggelam, setelah itu kau
pingsan cukup lama, makanlah dulu setelah itu kau harus beberes sebentar lagi
kita kembali ke Seoul.”
“apa?”
‘Pesawat ke Seoul pukul sebelas,
jadi rencananya? Terlewat begitu saja?, tidak, aku harus memastikan.’
Haneul meraih ponsel yang ada di
sebelahnya, menelpon seseorang yang pastinya sudah bisa kalian tebak siapa dia.
Telepon tersambung.
“apa berhasil?”
“tentu, sayang kau tidak
menyaksikannya Haneul”.
‘Siapa itu?’
Haneul langsung mengakhiri
panggilannya, tersenyum puas dengan hasil kerja sekertarisnya. Kemudian menoleh
kekanannya dan masih melihat Jinki di situ.
“kau, kenapa masih disitu?”
“kau belum memakan makananmu.”
Lelaki ini apa yang ditanya, apa
yang dijawab.
“habiskanlah, aku akan kembali
kekamarku dan setelah itu aku akan menjemputmu kembali, bereskan
barang-barangmu!” Jinki keluar, setelah memastikan Haneul baik-baik saja.
Haneul hanya bisa menatap Jinki yang baru saja menghilang di balik pintu.
Pintu Haneul kembali diketuk, ia
sudah yakin pasti Jinki yang ada di depan pintunya itu. Haneul menenteng tas
ransel besarnya, memandang kearah seluruh ruangan kamarnya, memastikan tidak
ada yang tertinggal.
Pintu terbuka dan menampakkan
cengiran khas ala Jinki.
“aku bawakan”. Jinki mengambil paksa
tas ransel Haneul, wanita itu hanya bisa menurut, daripada harus kembali
mendengar ocehan Jinki. Lagipula badannya juga masih pegal-pegal.
Diluar, mobil tur resort
telah berjajar menunggu para murid untuk keluar. Jinki sepertinya kesusahan
mengangkat tas ransel Haneul sekalian dengan koper mininya.
Jinki meraba-raba seluruh saku yang
yang ada dipakaiannya, dan tidak mendapatkan apa yang dicarinya.
“pasti tertinggal di kamar, Haneul
aku kedalam dulu untuk mengambil ponselku”.
Jinki beranjak kedalam setelah
mendapatkannya ia kembali kedepan dan mencari keberadaan Haneul disana, tapi
nihil Haenul menghilang kembali seperti saat di bandara.
“kau mencari Haneul?” Tanya salah
satu temannya, Jinki hanya mengangguk.
“dia sudah pergi duluan, tadi ada
yang menjemputnya dengan motor, seorang lelaki.”
‘Sekarang apa lagi Haneul, banyak
yang kau sembunyikan.’
Semua siswa kelas sebelas A sudah
kembali ke Seoul, tidak tahu apakah masing-masing sudah ada didalam kamarnya
seperti Haneul saat ini.
Ia mulai memejamkan matanya, sekilas
wajah Jinki terlintas dibenaknya. Kemudian ia tersenyum, tidak tahu apa yang
membuatnya tersenyum. Karena Jinki kah?.
Jinki, terhitung dia sudah
menyelamatkan Haneul dua kali, saat ia terbanting didepan sekolah dan saat ia
tercebur tadi. Jinki, sepertinya ia cukup baik sehingga Haneul harus menghapus
namanya dari buku hitam itu.
Dia sudah cukup lelah hari ini,
terlebih besok harus kembali bersekolah, nanti-nati sajalah menghapus nama
Jinki dari buku itu.
Jinki satu-satunya nama yang Haneul
ingin menghapusnya dari buku terkutuk itu. Jinki secara tidak sadar perlahan-lahan
sedikit telah mengubahnya, Jinki sangat berpengaruh besar baginya.
Apakah Haneul akan berubah seperti
dulu?, siapa yang tau itu.
---The Girl and Her Book---
Ada gelagat aneh yang dirasakan
Jinki saat berada di samping Haneul saat ini, gadis itu tidak terlihat seperti
biasanya, ada hawa lain yang menyelimutinya, tapi bukan hawa menakutkan yang
biasa terasa terkuar dari diri Haenul, gadis sebelahnya ini seperti terlihat
sedikit canggung atau mungkin takut. Entahlah apa yang tengah dirasakannya,
yang pastinya aura Haneul sedikit berbeda.
Lelaki ini tidak salah sama sekali,
Haneul memang sedang canggung dan sedikit takut untuk mengungkapkan apa yang
sedari tadi pagi di tutupinya. Bukan karena permasalahan Ban Suyoung, gadis itu
sudah diselesaikan dengan licin namun Haneul hanya menunggu waktu yang tepat
untuk menguar semuanya. Saat ini lupakan Ban Suyoung, atau balas dendam
lainnya. Sedari tadi gadis ini hanya ingin mengungkapkan satu kalimat kepada
Jinki.
Sebuah kalimat yang sederhana yang
siapapun pasti sering mengucapkannya. Tapi bagi Haneul ini adalah kalimat
keramat, kalimat yang langka untuk terucap keluar dari mulutnya.
Terimakasih, Ya hanya kata
terimakasih karena telah menolongnya beberapa waktu silam.
“Jinki”, “Haneul”.
Kedua mulut itu berucap secara
bersamaan, Jinki dan Haneul menjadi canggung.
“kau bisa bicara terlebih dahulu.”
Haneul masih terus menunda apa yang ingin di katakannya.
“no, no, no….” Jinki melambaikan
jari telunjuknya di depan wajah Haneul mengikuti pergerakan mulutnya.
“aku sangat menghargai wanita, ladies
first”.
Haneul bingung harus mulai darimana,
apa harus basa-basi dulu atau langsung saja ke intinya. Padahal sebelum
kesekolah dia sudah berlatih diapartemennya untuk mengatakan kalimat tersebut.
“Hei nona, cepat katakan, kelas
sudah mulai kosong.” Jinki mulai mendesak, tidak sabaran dengan gadis yang satu
ini. Membuat Haneul semakin sulit untuk mengatakannya.
“Jinki aku, aku…., aku pamit.”
Haneul bergerak cukup cepat,
menyabet tasnya dan berlari keluar kelas meninggalkan pria itu –dengan masih
kebingungan penuh- di tempat. Jinki yakin bukan itu yang ingin di katakan
Haneul padanya.
Menyusul Haneul dengan langkah
besarnya tinggal sedikit lagi, Haneul tengah tampak di ujung lorong,
menyusulnya dengan lebih cepat lagi, dia berhasil mendahului Haneul, mengangkat
sebelah kakinya dan menyenderkannya di dinding, bermaksud untuk menghalangi
jalan Haneul.
Tersenyum di depan Haneul. “apa yang
ingin kau katakan”.
“minggir aku ingin pulang.”
“tidak sampai kau mengatakannya.”
“baiklah, aku.” Haneul menundukkan
wajahnya, sama sekali tidak berani menatap wajah Jinki.
“TERIMA KASIH!!!”. Haneul berteriak
di telinga Jinki.
Melihat pria itu hanya diam saja Haneul
menendang tulang kering Jinki di bagian kaki yang digunakan pria itu untuk
menopang tubuhnya tadi.
“Aghh, appo” ucap Jinki merintih. Dan
Haneul melihat peluang jalan terbuka lebar di depannya, tersenyum sendiri di
sepanjang halaman sekolah. Dia tidak menyangka apa yang dilakukannya tadi.
‘Aku menendang kakinya.’
Haneul seakan tak percaya tentang
apa yang baru dilakukannya tadi. Gerbang sekolah sudah terlihat dengan jelas
didepan, cepat ia berlari kearah sana, dan lagi-lagi Jinki bisa menghadang jalannya
dengan masih merintih sedikit kesakitan pada kakinya. Haneul begitu terkejut,
dan dengan cepat dia merubah raut wajahnya kembali.
‘Kau mengucapkan terima kasih tadi,
Haneul ternyata cukup mudah.’
“mengucapkan terima kasih kemudian
menendang kakiku, jadi sekarang kau harus minta maaf.”
“tidak bisa, minggir sekarang juga.”
“baiklah, aku memaklumi, jadi apa
kau ingin kuantar pulang?”
“Ne?”
“ya biar aku antar, lagipula aku
tidak melihat sepedamu, cepat naik kemobilku.”
“…”
Haneul menatap mobil Jinki ngeri,
menaiki mobil itu Haneul tidak bisa
membayangkannya. Rautnya menjadi terlihat berubah drastis, bukan berubah
menjadi dingin atau seperti saat ia ingin mengatakan terima kasih tadi, sulit
untuk menggambarkan raut wajah Haeneul sekarang ini.
Dan Jinki yang melihatnya seperti
mengetahui sesuatu, tapi belum jelas akan itu. Dengan sendirinya ia membiarkan
Haneul untuk pergi.
“lain kali aku pastikan kau mau aku
antar pulang.”
‘Air, mobil ada apa dengan kedua
itu.’
---The Girl and Her Book---
Sepeda merah yang terparkir di basemant
paling atas itu, Haneul ragu-ragu untuk meraih setangnya. Dia masih kepikiran
tentang ajakan Jinki kemarin untuk mengantarnya pulang, tapi dengan mobil?, ia
tidak bisa membayangkan bagaimana duduk di dalam sana, walaupun itu sudah lama
sekali, tapi memori buruk itu tetap tidak bisa hilang. Ditambah ia yang tidak
mencoba untuk menghilangkannya, malah menghindari untuk menaiki mobil.
Ketakutan itu sudah menjadi fobia tetap untuknya.
Tawaran Jinki semalam masih terus
berputar-putar di otaknya, entah kenapa sejak pulang dari Jeju, Haneul terus
saja memikirkan Jinki, terlebih senyuman yang selalu di umbar Jinki kepadanya.
Ya, hanya kepada Haneul selebihnya yang Haneul perhatikan Jinki akan sama
datarnya dengan dirinya jika berhadapan dengan orang lain.
Apa Jinki menyukainya?, apa Jinki
tertarik padanya?. Pertanyaan itu terus muncul dalam dirinya. Seperti
pengharapan kosong karena dia tidak tau apapun soal suka-menyukai, yang ia tau
Jinki sering sekali mengganggunya hanya itu.
Seorang wanita yang selama ini
hidupnya hanya dipenuhi oleh kekecewaan, kesendirian perasaan yang dingin dan
selalu ingin balas dendam kepada siapapun yang ia rasa perlu disingkirkan atau
siapapun yang telah menyakitinya, sehingga menciptakan lubang hitam di hatinya
yang semakin lama semakin membesar dan mendominan hatinya.
Tapi, tiba-tiba seseorang datang
perlahan-lahan padanya, mencoba nyembuhkan dan menutupi lubang dihatinya.
Sekarang ia rasa, gumpalan darah di dadanya itu telah kembali menjadi merah,
akan berdegup jika Jinki berada di dekatnya, berdetak tidak normal karena hanya
melihat cengiran khas Jinki. Dan bisa menjadi salah tingkah saat Jinki
menggodanya.
Bahkan pipinya akan merona saat ia
mencoba menutupi rasa deg-degan itu. Semua yang iya rasakan apa bisa di bilang
dia juga tertarik dengan Jinki?, mungkin lebih dari tertarik kagum mungkin?.
Tapi apa yang menjadi kekagumannya terhadap lelaki itu. Suka?, mungkin suka
atau pilihan terakhir cinta?. Dia mulai merasakan perasaan itu terhadap Jinki?.
Apapun itu, Haneul merasa terlahir
kembali menjadi wanita yang akhirnya bisa merasakan.
---The Girl and Her Book---
“Haneul!!!!, tunggu aku.” Jinki
berlari sekencang-kencangnya, berniat mengajak untuk pulang bersama, sekarang
ia sudah mengganti kendaraannya dengan motor besar. Yang ia tahu Haneul suka
sekali mengendarai sesuatu yang beroda dua.
Berhasil, Haneul menoleh. Jinki
langsung menghampirinya.
“ayo kita pulang, lihat” tangan
Jinki menunjuk kearah motornya. “aku naik motor sekarang.” Jinki sudah pede
kalau Haneul pasti mau diajak kali ini.
‘Jinki menaiki motor? Apa ini
sungguhan?, tapi untuk apa.’
“lihat.” Haneul menunjuk kearah
parkiran sepeda. “sepedaku sudah di perbaiki.” Haneul berjalan meninggalkan
Jinki yang masih terpaku disana.
---The Girl and Her Book---
To be-Continue

No comments:
Post a Comment