Tuesday, March 22, 2016

The Girl and Her Book (Part 6)

sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang ada tanda kutip satu plus di bold itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA

---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION

Part 6

---The Girl and Her Book---


“aghhhh..” Haneul menjerit, terbangun dari acara pingsannya. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Melihat kesamping dan mendapatkan Jinki yang menjadi panik setelah mendengar teriakan Haenul.

 “kau sudah sadar.”


“kau, apa yang sebenarnya terjadi?” Haneul melihat sekujur tubuhnya. “baju ini, kau yang menggantinya?”.

“jika aku jawab iya, bagaimana?” Jinki tersenyum, wajah Haenul tiba-tiba saja terlihat sangat marah.

 “tentu bukan, pelayan yang menggantinya.”

“apa sebenarnya yang terjadi?”.

“kau tenggelam, setelah itu kau pingsan cukup lama, makanlah dulu setelah itu kau harus beberes sebentar lagi kita kembali ke Seoul.”

“apa?”

‘Pesawat ke Seoul pukul sebelas, jadi rencananya? Terlewat begitu saja?, tidak, aku harus memastikan.’

Haneul meraih ponsel yang ada di sebelahnya, menelpon seseorang yang pastinya sudah bisa kalian tebak siapa dia. Telepon tersambung.

“apa berhasil?”

“tentu, sayang kau tidak menyaksikannya Haneul”.

‘Siapa itu?’

Haneul langsung mengakhiri panggilannya, tersenyum puas dengan hasil kerja sekertarisnya. Kemudian menoleh kekanannya dan masih melihat Jinki di situ.

“kau, kenapa masih disitu?”

“kau belum memakan makananmu.”

Lelaki ini apa yang ditanya, apa yang dijawab.

“habiskanlah, aku akan kembali kekamarku dan setelah itu aku akan menjemputmu kembali, bereskan barang-barangmu!” Jinki keluar, setelah memastikan Haneul baik-baik saja. Haneul hanya bisa menatap Jinki yang baru saja menghilang di balik pintu.

Pintu Haneul kembali diketuk, ia sudah yakin pasti Jinki yang ada di depan pintunya itu. Haneul menenteng tas ransel besarnya, memandang kearah seluruh ruangan kamarnya, memastikan tidak ada yang tertinggal.

Pintu terbuka dan menampakkan cengiran khas ala Jinki.

“aku bawakan”. Jinki mengambil paksa tas ransel Haneul, wanita itu hanya bisa menurut, daripada harus kembali mendengar ocehan Jinki. Lagipula badannya juga masih pegal-pegal.

Diluar, mobil tur resort telah berjajar menunggu para murid untuk keluar. Jinki sepertinya kesusahan mengangkat tas ransel Haneul sekalian dengan koper mininya.

Jinki meraba-raba seluruh saku yang yang ada dipakaiannya, dan tidak mendapatkan apa yang dicarinya.

“pasti tertinggal di kamar, Haneul aku kedalam dulu untuk mengambil ponselku”.

Jinki beranjak kedalam setelah mendapatkannya ia kembali kedepan dan mencari keberadaan Haneul disana, tapi nihil Haenul menghilang kembali seperti saat di bandara.

“kau mencari Haneul?” Tanya salah satu temannya, Jinki hanya mengangguk.

“dia sudah pergi duluan, tadi ada yang menjemputnya dengan motor, seorang lelaki.”

‘Sekarang apa lagi Haneul, banyak yang kau sembunyikan.’

Semua siswa kelas sebelas A sudah kembali ke Seoul, tidak tahu apakah masing-masing sudah ada didalam kamarnya seperti Haneul saat ini.

Ia mulai memejamkan matanya, sekilas wajah Jinki terlintas dibenaknya. Kemudian ia tersenyum, tidak tahu apa yang membuatnya tersenyum. Karena Jinki kah?.

Jinki, terhitung dia sudah menyelamatkan Haneul dua kali, saat ia terbanting didepan sekolah dan saat ia tercebur tadi. Jinki, sepertinya ia cukup baik sehingga Haneul harus menghapus namanya dari buku hitam itu.

Dia sudah cukup lelah hari ini, terlebih besok harus kembali bersekolah, nanti-nati sajalah menghapus nama Jinki dari buku itu.

Jinki satu-satunya nama yang Haneul ingin menghapusnya dari buku terkutuk itu. Jinki secara tidak sadar perlahan-lahan sedikit telah mengubahnya, Jinki sangat berpengaruh besar baginya.
Apakah Haneul akan berubah seperti dulu?, siapa yang tau itu.

---The Girl and Her Book---

Ada gelagat aneh yang dirasakan Jinki saat berada di samping Haneul saat ini, gadis itu tidak terlihat seperti biasanya, ada hawa lain yang menyelimutinya, tapi bukan hawa menakutkan yang biasa terasa terkuar dari diri Haenul, gadis sebelahnya ini seperti terlihat sedikit canggung atau mungkin takut. Entahlah apa yang tengah dirasakannya, yang pastinya aura Haneul sedikit berbeda.

Lelaki ini tidak salah sama sekali, Haneul memang sedang canggung dan sedikit takut untuk mengungkapkan apa yang sedari tadi pagi di tutupinya. Bukan karena permasalahan Ban Suyoung, gadis itu sudah diselesaikan dengan licin namun Haneul hanya menunggu waktu yang tepat untuk menguar semuanya. Saat ini lupakan Ban Suyoung, atau balas dendam lainnya. Sedari tadi gadis ini hanya ingin mengungkapkan satu kalimat kepada Jinki.

Sebuah kalimat yang sederhana yang siapapun pasti sering mengucapkannya. Tapi bagi Haneul ini adalah kalimat keramat, kalimat yang langka untuk terucap keluar dari mulutnya.

Terimakasih, Ya hanya kata terimakasih karena telah menolongnya beberapa waktu silam.

“Jinki”, “Haneul”.

Kedua mulut itu berucap secara bersamaan, Jinki dan Haneul menjadi canggung.

“kau bisa bicara terlebih dahulu.” Haneul masih terus menunda apa yang ingin di katakannya.

“no, no, no….” Jinki melambaikan jari telunjuknya di depan wajah Haneul mengikuti pergerakan mulutnya.

“aku sangat menghargai wanita, ladies first”.

Haneul bingung harus mulai darimana, apa harus basa-basi dulu atau langsung saja ke intinya. Padahal sebelum kesekolah dia sudah berlatih diapartemennya untuk mengatakan kalimat tersebut.

“Hei nona, cepat katakan, kelas sudah mulai kosong.” Jinki mulai mendesak, tidak sabaran dengan gadis yang satu ini. Membuat Haneul semakin sulit untuk mengatakannya.

“Jinki aku, aku…., aku pamit.”

Haneul bergerak cukup cepat, menyabet tasnya dan berlari keluar kelas meninggalkan pria itu –dengan masih kebingungan penuh- di tempat. Jinki yakin bukan itu yang ingin di katakan Haneul padanya.

Menyusul Haneul dengan langkah besarnya tinggal sedikit lagi, Haneul tengah tampak di ujung lorong, menyusulnya dengan lebih cepat lagi, dia berhasil mendahului Haneul, mengangkat sebelah kakinya dan menyenderkannya di dinding, bermaksud untuk menghalangi jalan Haneul.

Tersenyum di depan Haneul. “apa yang ingin kau katakan”.

“minggir aku ingin pulang.”

“tidak sampai kau mengatakannya.”

“baiklah, aku.” Haneul menundukkan wajahnya, sama sekali tidak berani menatap wajah Jinki.

“TERIMA KASIH!!!”. Haneul berteriak di telinga Jinki.

Melihat pria itu hanya diam saja Haneul menendang tulang kering Jinki di bagian kaki yang digunakan pria itu untuk menopang tubuhnya tadi.

 “Aghh, appo” ucap Jinki merintih. Dan Haneul melihat peluang jalan terbuka lebar di depannya, tersenyum sendiri di sepanjang halaman sekolah. Dia tidak menyangka apa yang dilakukannya tadi.

‘Aku menendang kakinya.’

Haneul seakan tak percaya tentang apa yang baru dilakukannya tadi. Gerbang sekolah sudah terlihat dengan jelas didepan, cepat ia berlari kearah sana, dan lagi-lagi Jinki bisa menghadang jalannya dengan masih merintih sedikit kesakitan pada kakinya. Haneul begitu terkejut, dan dengan cepat dia merubah raut wajahnya kembali.

‘Kau mengucapkan terima kasih tadi, Haneul ternyata cukup mudah.’

“mengucapkan terima kasih kemudian menendang kakiku, jadi sekarang kau harus minta maaf.”

“tidak bisa, minggir sekarang juga.”

“baiklah, aku memaklumi, jadi apa kau ingin kuantar pulang?”

“Ne?”

“ya biar aku antar, lagipula aku tidak melihat sepedamu, cepat naik kemobilku.”

“…”

Haneul menatap mobil Jinki ngeri, menaiki mobil itu Haneul tidak  bisa membayangkannya. Rautnya menjadi terlihat berubah drastis, bukan berubah menjadi dingin atau seperti saat ia ingin mengatakan terima kasih tadi, sulit untuk menggambarkan raut wajah Haeneul sekarang ini.

Dan Jinki yang melihatnya seperti mengetahui sesuatu, tapi belum jelas akan itu. Dengan sendirinya ia membiarkan Haneul untuk pergi.

“lain kali aku pastikan kau mau aku antar pulang.”

‘Air, mobil ada apa dengan kedua itu.’

---The Girl and Her Book---

Sepeda merah yang terparkir di basemant paling atas itu, Haneul ragu-ragu untuk meraih setangnya. Dia masih kepikiran tentang ajakan Jinki kemarin untuk mengantarnya pulang, tapi dengan mobil?, ia tidak bisa membayangkan bagaimana duduk di dalam sana, walaupun itu sudah lama sekali, tapi memori buruk itu tetap tidak bisa hilang. Ditambah ia yang tidak mencoba untuk menghilangkannya, malah menghindari untuk menaiki mobil. Ketakutan itu sudah menjadi fobia tetap untuknya.

Tawaran Jinki semalam masih terus berputar-putar di otaknya, entah kenapa sejak pulang dari Jeju, Haneul terus saja memikirkan Jinki, terlebih senyuman yang selalu di umbar Jinki kepadanya. Ya, hanya kepada Haneul selebihnya yang Haneul perhatikan Jinki akan sama datarnya dengan dirinya jika berhadapan dengan orang lain.

Apa Jinki menyukainya?, apa Jinki tertarik padanya?. Pertanyaan itu terus muncul dalam dirinya. Seperti pengharapan kosong karena dia tidak tau apapun soal suka-menyukai, yang ia tau Jinki sering sekali mengganggunya hanya itu.

Seorang wanita yang selama ini hidupnya hanya dipenuhi oleh kekecewaan, kesendirian perasaan yang dingin dan selalu ingin balas dendam kepada siapapun yang ia rasa perlu disingkirkan atau siapapun yang telah menyakitinya, sehingga menciptakan lubang hitam di hatinya yang semakin lama semakin membesar dan mendominan hatinya.

Tapi, tiba-tiba seseorang datang perlahan-lahan padanya, mencoba nyembuhkan dan menutupi lubang dihatinya. Sekarang ia rasa, gumpalan darah di dadanya itu telah kembali menjadi merah, akan berdegup jika Jinki berada di dekatnya, berdetak tidak normal karena hanya melihat cengiran khas Jinki. Dan bisa menjadi salah tingkah saat Jinki menggodanya.

Bahkan pipinya akan merona saat ia mencoba menutupi rasa deg-degan itu. Semua yang iya rasakan apa bisa di bilang dia juga tertarik dengan Jinki?, mungkin lebih dari tertarik kagum mungkin?. Tapi apa yang menjadi kekagumannya terhadap lelaki itu. Suka?, mungkin suka atau pilihan terakhir cinta?. Dia mulai merasakan perasaan itu terhadap Jinki?.

Apapun itu, Haneul merasa terlahir kembali menjadi wanita yang akhirnya bisa merasakan.

---The Girl and Her Book---

“Haneul!!!!, tunggu aku.” Jinki berlari sekencang-kencangnya, berniat mengajak untuk pulang bersama, sekarang ia sudah mengganti kendaraannya dengan motor besar. Yang ia tahu Haneul suka sekali mengendarai sesuatu yang beroda dua.

Berhasil, Haneul menoleh. Jinki langsung menghampirinya.

“ayo kita pulang, lihat” tangan Jinki menunjuk kearah motornya. “aku naik motor sekarang.” Jinki sudah pede kalau Haneul pasti mau diajak kali ini.

‘Jinki menaiki motor? Apa ini sungguhan?, tapi untuk apa.’

“lihat.” Haneul menunjuk kearah parkiran sepeda. “sepedaku sudah di perbaiki.” Haneul berjalan meninggalkan Jinki yang masih terpaku disana.

Sepanjang jalan Haneul tersenyum sumringah, menghirup udara kota dalam-dalam, terasa sejuk kenapa baru kali ini dia merasakannya. Baru kali ini ia menikmati perjalanannya pulang. Dan semuanya karena Jinki. Ya, karena pria menyebalkan itu.

---The Girl and Her Book---

To be-Continue

No comments:

Post a Comment