"Untuk makhluk Tuhan yang dengan sepenuh hidupku kusayangi, aku selalu memohon pada Tuhan untuk selalu menghapus air mata mereka, menghapus setiap perih di dalam hati mereka, setiap peluh yang jatuh di dahi mereka. Aku selalu memohonnya, seperti mereka memohon untukku juga"
Hai benda unik yang selalu berpendar, menghasilkan sebuah sapaan disetiap aku bimbang.
Hai jari-jari kapalanku, yang selalu berjalan mulus di setiap tombolnya.
Aku mencintai kalian, selayaknya ciptaan yang tidak boleh di sia-siakan.
Malam gelap sehari sebelum datangnya Supermoon, di musim penghujan yang membuat jalanan selalu basah. Tepat di hari sejuta umat berlibur berbahagia. Aku seorang diri merantai kesedihan...
***
Malam ini, aku harus merelakan air mata mereka jatuh untuk kesekian kalinya. Tidak lama sebelum hari ini, berminggu-minggu yang lalu. Tidak, aku bahkan tidak bisa melupakan kejadian itu yang dimulai sejak aku masih dijuluki si anak bawang. Siapa yang bisa melupakan kenangan buruk itu. Dimana saat semua yang utuh, yang awalnya satu. Hancur lebur di depan mataku.
Aku menangis untuk mereka, tentu saja. Aku tertawa untuk mereka juga. Kebahagian kami seharusnya sempurnakan?
Aku mengutuk parasit kecil yang mengacaunya.
Aku mungkin iri dengan yang lainnya, kalian selalu bercerita bahwa kehidupan kalian luar biasa. Kalian punya masing-masing seperti mereka. Masing-masing punya cerita bahagia yang berbeda, tapi bukannya sama saja?
Aku juga sama saja. Aku juga menceritakan kepada kalian kehidupanku luar biasa. Mereka berperan dengan baik. Tentu saja, aku menyembunyikan bagian terburuknya. Tidak ada cerita tentang kesedihan. Karena, selama ini jika kuperhatikan, saat telinga kalian mendengar hal menyedihkan. Kalian hanya diam, mengubah ekspresi wajah kalian menjadi iba, dan aku tahu kalian hanya mencoba-berpura-pura bersimpati. Dan akhirnya, wuss... itu hanya menjadi cerita yang menarik untuk di dengar. Cerita menarik penghantar tidur.
Dan ujung-ujungnya aku berdiri menjadi pusat penuh lirikan. Lirikan yang mengartikan bahwa aku adalah seseorang yang tidak punya kesempatan bahagia.
Untuk sekarang aku hanya ingin meluapkan semua hal mengecewakan yang aku simpan sendirian selama bertahun-tahun. Namun, jika aku pikir-pikir, aku tidak memiliki seseorang yang bisa menjadi tempat untukku berbagi. Mirisnya, aku mempunyai daftar pendengar untuk banyak kisah menyenangkan, namun nihil untuk kisah yang menyedihkan.
Well, sepertinya tidak akan pernah ada yang beralih menjadi obat.
Atau, sebenarnya jauh di dalam benakku, kalau sebenarnya aku takut untuk berbagi. Aku yang takut, aku masih terus bersembunyi, dari dunia yang sebenarnya dengan patuh mendengar, dari dunia yang sebenarnya patut memelihara semua aib.
Bahkan dari mereka yang seharusnya lebih mengerti.
Mereka seharusnya juga mendengar, mereka seharusnya juga melihat. Saat setitik bening itu jatuh di hadapanku, aku menjatuhkan dua titik lebih banyak.
"mereka juga bagian dari dunia ini kan?"
No comments:
Post a Comment