hai..... hai.....
Curhat lagi nih...
Curhatan udah lama, tapi berasa pengin nulis. Nah, ayo sekarang kita bahas mengenai para aparat di negeri ini...
Pada setuju gak sih kalau penegak hukum di negeri tercinta ini sudah nggak bisa lagi dijamin kualitas keprofesionalannya. Eh, enggak semua ya...., satu dua kadang begitu. Awalnya sih, kita nganggap pekerjaan mereka itu keren, mempertahankan tanah air dari tangan-tangan pengacau yang ingin menjajah kembali. Tapi, setelah di tafsir-tafsir lagi, kebanyakan dari itu mereka malah mempersulit keadaan masyarakat.
Saya juga awalnya memandang "mereka" dengan sangat hormat, mau orang cerita buruk juga tentang "mereka", saya acuh tak acuh. Ternyata karena saya belum mengalami dan berhadapan langsung dengan "mereka"..... sampai akhirnya kejadian yang buat cara pandang saya ke "mereka" akhirnya berubah.
Gini nih, ceritanya.... dimulai dari sini ya.
Puasa-puasa, panas-panasan, belum lagi harus keliling pasar nyari baju kompakan buat kelompok KKN kami. Naik-turun tangga, dempet-dempetan di jalan sepanjang pasar yang hanya selebar setengah meter itu. Terlebih lagi sebelumnya kami baru saja menyusuri denah lokasi KKN, sudah lah, yang hitam makin hitam, yang putih jadi hitam, yang haus makin haus, eh ceritanya ini pas bulan puasa hehehe..... Debu jalan yang sedang tebal-tebalnya perlahan naik ke udara di sapu dengan angin kencang. Yang jerawatan makin kotor mukanya, yang nggak jerawatan sepertinya akan terkena jerawat sebentar lagi. Benar-benar perjuangan lebih kemarin itu.
Di pasar juga memakan waktu lama, keliling sana, keliling sini, liat-liat keatas, liat-liat kebawah. Semua pada berusaha nyari baju batik kompakan paling cantik, paling bagus tapi dengan harga semiring mungkin. Sudah berhenti di satu toko, nemu baju yang cantik, akhirnya nggak jadi kebeli, murah sih murah, tapi kalo cepat luntur buat apa.
Berhenti ditoko sebelahnya, padahal lihat barang-barang pajangannya nggak ada yang buat sreekkkk, tapi si ibu gigih bener nawarin semuanya. Yang mulai dari barang lama, sampai barang yang baru aja masuk di tokonya. Hadeuuhh...., kalo gini kami harus ngeluarin jurus jitu supaya bisa pindah ke toko yang lainnya. Dan akhirnya jurus terjitupun kami keluarkan.
"Yang ini dek... baru nyampek tadi pagi barangnya... mau pesan berapa emang?, ada banyak kok barangnya." Gigih bener kan.
Si ibuk nggak tau kita punya teman yang berkali-kali lipet lebih gigih dari dia. Nah si kawan menyahut "Harga berapa bu?" Perlawanan awal.
"Sepotongnya, khusus buat kelen ibu kasih harga enam lima lah" Apanya yang khusus coba. Harga standar doang gitu, mana ada khusus-khususnya.
Nah, menurut hukum alam yang berlaku. Kalau kita belanja di pasar itu, ada 3 jurus jitu yang bisa kita praktekkkan buat nawar harga sesuai keinginan kita dan pedagang nggak bisa nipu kita dengan harga yang dibuat selangit padahal aslinya, seumprit. Pratek ini ternyata dipakai juga sama si kawan.
Yang per-tama:
Kalau pedagang sudah ngasih harga, tawar jadi setengah harga (ya walau, keliatannya kejam banget gitu, kayak mutusin setengah rezeki yang ngejual) Tapi, memang kodratnya begitu. "Ingat!, jangan mau ditipu pedagang".
"Ih, mahal kali ibuk ini ngasih harga, tiga lima kami ambil." Biasanya penjual bakalan naikin harga jadi tiga perempat harga. kalau udah begini kita bisa masuk ke jurus jitu yang selanjutnya.
Yang ke-dua:
Kalo si ibuk nggak mau juga, coba bilang begini. 'Tadi, di tempat ibuk itu nggak segini buk'. Nanti biasanya ibuk itu malah balik nanya. 'Ibuk yang mana dek?'. "Ingat!, jangan sekali-kali nunjukin toko yang terdekat dari tokonya, dipastikan si Ibuk itu udah kenal dekat dengan yang punya toko, tetanggaan mereka. Coba tunjukin arah yang beda sampai tiga blok dari tempat dia jualan, dipastikan berhasil."
"Manalah mahal dek, udah pas itu harganya, janganlah ditawar rendah gitu, nggak makan nanti ibu". Masalah makan nggak makannya si ibuk kan juga bukan urusan kita-kita ya. Jangan coba-coba prihatin ya dengan kelembutan yang jual disesi yang ini.
"Tadi di toko yang satu lagi nggak semalah ini lah buk" Mulai nih, praktek-praktek kedua.
"Berapa emangnya tadi dek?" si ibu mulai penasaran.
"Tiga lima kami ambil!" Wah, acungan jempol buat si kawan. Bukannya mikir-mikir harga toko absurd yang karang-karangnya tadi, si kawan malah nekanin harga tawarannya yang pertama. Gawat kalo si ibu mau, yang mau beli siapa coba?
"Tiga lima kami ambil!" Wah, acungan jempol buat si kawan. Bukannya mikir-mikir harga toko absurd yang karang-karangnya tadi, si kawan malah nekanin harga tawarannya yang pertama. Gawat kalo si ibu mau, yang mau beli siapa coba?
"lima puluh, ambillah dek".
Yang ke-tiga:
Berdasarkan keadaan, penjual bakalan merasa nggak mau rugi kita tawar setengah harga, pasti penjual nawarin balik 'gimana kalau dinaikin dikit, jadi tiga perempat harga?'. Kalau udah gini, urusan tawar menawar pasti bakalan jadi lama. "Ingat!, jangan mau nyerah, kegigihan pembeli harus setara dengan penjual. Kalau perlu pembeli harus jauh lebih gigih." Kalau nggak nemuin mufakatnya, pura-pura pergi aja, ntar juga dipanggil lagi.
Ayo kita liat seberapa gigih si kawan ini, Padahal kita nggak niat beli, hahahaha.
"Gak lah buk, mahal kalilah segitu!" Gimana?, keukeh kan dia?.
"Nggak balik modal lah ibuk kalo segitu, dek, tambah lah sepuluh" kayaknya nggak bakalan mempan juga kali buk.
"Nggak lah buk. Yaudah pergi yok woi." Akhirnya, jurus ketiga di keluarkan si kawan juga.
"Eh, yaudah ambillah-ambil."
(Nah, udah bisa jadi bahan pelajaran kalo belanja belom?, apalagi buat calon emak-emak, ayo merapat, belajar menawar harga, mengirit uang belanja)
Sebenarnya, kalau barang yang ditawar bagus, kami mungkin bakalan balik. Siapa coba yang nggak mau beli harga baju sepotong tiga lima. Tapi, karena memang niat awal nggak berminat sama sekali, yah kami cabut dari tempat itu.
Kembali, keliling pasar lagi. Naik turun tangga lagi, mana makin haus... eh puasa. Cobaan, cobaan berat. Di lantai dua, gudangnya orang-orang menjajakan makanan, soalnya nggak semua penjual di toko, muslim.
Akhirnya, setelah mencari-cari, meraba-raba, menahan lapar, menahan haus. Akhirnya ketemu juga satu toko nyempil banget, lebarnya cuma dua kali tiga meter, menyempil diantara toko serba pakaian abaya yang lagi ngetren buat para hijabers-hijabers masa kini dan toko serba perlengkapan sholat yang biasanya lebih sering didatangi kaum empat puluhan keatas. Walau tidak besar-besar amat, tapi jejeran baju-baju batik yang tersangkut di manekin setengah badan itu bisa menjulang sampai empat rak ke atas. Nuansa warna-warni dari kain-kain batik musantara menghilangkan sedikit rasa lapar kami, yah... walau rasa hausnya nggak ikut hilang.
Ada satu model baju batik beruntung yang akhirnya bisa keluar dari toko itu. warnanya dominan biru, dengan corak batik ala-ala Kalimantan. behubung kita-kita muslim, jadi ngotot yang cewek hari itu juga harus beli pasangan jilbabnya. Matahari udah hampir kepeleset, toko-toko kayaknya sepakat udah pada tutupan... gagal nyari jilbabnya dengan harga murah.
Ya, ampun... aku kan awalnya pengin cerita tentang aparat di negeri ini ya.... kok ceritanya jadi panjang gini, minta maaf deh, minta maaf. Yaudah, kali ini langsung kenak ke cerita ya...
Persiapan pulang. Kami membopong satu kantung plastik hitam gede yang isinya 13 baju batik serupa. Hal kedua paling repot setelah memarkir motor -mengeluarkan motor dari parkiran, 👵👵👵. Aku belum cerita ya, berhubung ini udah masukin minus-minus akhiran lebaran, pusat perbelanjaan yang kami datangi sekarang sedang membeludak dengan pengunjungnya, jadi deh lahan parkirnya kurang memadai.
Buat keluar sampai gerbang satpam depan aja butuh waktu bermenit-menit. Sukur-sukur aja, motor teman aku nggak lecet karna dempetan dengan motor-motor lainnya. Jalan yang keluar yang seharusnya lebar jadi mengecil karena pinggir-pinggirnya berubah jadi lahan parkir dadakan buat mobil. Ampun deh...
Maka dari itu aku berinisiatif, jalan kedepan post satpamnya, sambil nentenging helm berstandar nasional. Berharap matahari lebih punya waktu banyak untuk turun ke langit barat, supaya aku nggak harus repot-repot buat buka puasa di jalanan nanti, berharap sampai rumah sebelum adzan maghrib.
Antrean keluar motor panjang sekali. Tapi motor si kawan udah ada di urutan keempat sebelum gerbang keluar. Huh legaaaa, seenggaknya belom denger suara ngaji sebelum bedug maghrib datang di masjid-masjid. Aku naik di boncengan saat motornya udah mampir dipinggir jalan. Baru aja tancap gas, baru aja mau mengenakan helm berstandar yang udah ku geteng-geteng dari tadi di pinggir jalan, tiba-tiba bapak polisi nyalip di depan sambil bilang "Berhenti dulu tolong bu." terus ngelanjutin "helmnya kok gak dipasang?" Kirain pakpolnya cuma mau ngingatin doang supaya helmnya dipasang sekarang juga.
Sebenarnya juga aku memang udah mau masang helm-nya ke kepala, hanya saja siapa coba yang nggak terkejut tiba-tiba disalipin sama polisi di tambah dengan motor gedenya, belum lagi tampangnya yang lumayan seram-seram lucu. Dimana hayo lucunya?... di muka! pastinya nggak, di motor gedenya?, waduh itu apalagi bukan. Lucunya itu di perut buncitnya, kayak ibu-ibu hamil 7 bulan. Ya Allah maafin hamba sedikit mengejek ciptaanmu.
Tiba-tiba "Ayo ikut saya ke kantor" Akhirnya kami digiring ke satu ruangan petak yang ada di setiap simpang jalan besar kota -yang katanya kantor itu, Nggak jadi cuma ngingatin doang nih pak?
Apalah daya uang akhirnya raib seratus ribu, apalah daya minta tilang aja eh polisinya malah nawarin "mau di bantu tidak?" ya, sedikit memaksa. Bapak ini nggak mau berbaik hati apa ya di bulan puasa? yah, jadi keingat bakalan buka di jalan nih. Yah, bakalan keluar uang lebih nih. Tetapi, sebagai warga kota yang baik, saya mengakui kesalahan saya, ya walaupun tetap ngotot sebenarnya kalau saja pakpolnya datang 2 detik lebih lama.
Pak polisi yang bersumpah melindungi negeri ini, makasih karena hanya minta seratus ribu doang. Makasih karena akhirnya saya jadi tau, kalau mau jadi boncengan di motor itu harus kenakan helm terlebih dahulu sebelum naik, kalau perlu sepanjang jalan kamu nunggu teman kamu di pinggir jalan, kamu gunain aja helmnya #saran. Biar nggak kena stop polisi, lumayan juga seratus ribu jadi nggak raib, helm-nya juga bisa ngelindungi kamu dari polusi kota. Kamu juga nggak bakalan jadi buka puasa di luar #eh-curhat.
Pak polisi yang sehat karena rajin berolah-raga *seharusnya begitu, kapan-kapan kita jogging bareng ya pak. Soalnya setahu saya, pelaku kriminal susah dikejar kalau sama orang sakit, orang gemuk juga, apalagi kalau lagi ngandung. #eh.... Maafin saya karena nggak sengaja melanggar peraturan ya pak, maafin saya karena udah bawa helm ber SNI tapi telat makainya kemarin, malah keduluanan bapak. Maafin saya karena cuma ada uang ceban doang.
Pokoknya the best lah bapak polisinya....
Hatur nuhun, sekian....
Jangan judge saya, namanya juga curhat
(Nah, udah bisa jadi bahan pelajaran kalo belanja belom?, apalagi buat calon emak-emak, ayo merapat, belajar menawar harga, mengirit uang belanja)
Sebenarnya, kalau barang yang ditawar bagus, kami mungkin bakalan balik. Siapa coba yang nggak mau beli harga baju sepotong tiga lima. Tapi, karena memang niat awal nggak berminat sama sekali, yah kami cabut dari tempat itu.
Kembali, keliling pasar lagi. Naik turun tangga lagi, mana makin haus... eh puasa. Cobaan, cobaan berat. Di lantai dua, gudangnya orang-orang menjajakan makanan, soalnya nggak semua penjual di toko, muslim.
Akhirnya, setelah mencari-cari, meraba-raba, menahan lapar, menahan haus. Akhirnya ketemu juga satu toko nyempil banget, lebarnya cuma dua kali tiga meter, menyempil diantara toko serba pakaian abaya yang lagi ngetren buat para hijabers-hijabers masa kini dan toko serba perlengkapan sholat yang biasanya lebih sering didatangi kaum empat puluhan keatas. Walau tidak besar-besar amat, tapi jejeran baju-baju batik yang tersangkut di manekin setengah badan itu bisa menjulang sampai empat rak ke atas. Nuansa warna-warni dari kain-kain batik musantara menghilangkan sedikit rasa lapar kami, yah... walau rasa hausnya nggak ikut hilang.
Ada satu model baju batik beruntung yang akhirnya bisa keluar dari toko itu. warnanya dominan biru, dengan corak batik ala-ala Kalimantan. behubung kita-kita muslim, jadi ngotot yang cewek hari itu juga harus beli pasangan jilbabnya. Matahari udah hampir kepeleset, toko-toko kayaknya sepakat udah pada tutupan... gagal nyari jilbabnya dengan harga murah.
Ya, ampun... aku kan awalnya pengin cerita tentang aparat di negeri ini ya.... kok ceritanya jadi panjang gini, minta maaf deh, minta maaf. Yaudah, kali ini langsung kenak ke cerita ya...
Persiapan pulang. Kami membopong satu kantung plastik hitam gede yang isinya 13 baju batik serupa. Hal kedua paling repot setelah memarkir motor -mengeluarkan motor dari parkiran, 👵👵👵. Aku belum cerita ya, berhubung ini udah masukin minus-minus akhiran lebaran, pusat perbelanjaan yang kami datangi sekarang sedang membeludak dengan pengunjungnya, jadi deh lahan parkirnya kurang memadai.
Buat keluar sampai gerbang satpam depan aja butuh waktu bermenit-menit. Sukur-sukur aja, motor teman aku nggak lecet karna dempetan dengan motor-motor lainnya. Jalan yang keluar yang seharusnya lebar jadi mengecil karena pinggir-pinggirnya berubah jadi lahan parkir dadakan buat mobil. Ampun deh...
Maka dari itu aku berinisiatif, jalan kedepan post satpamnya, sambil nentenging helm berstandar nasional. Berharap matahari lebih punya waktu banyak untuk turun ke langit barat, supaya aku nggak harus repot-repot buat buka puasa di jalanan nanti, berharap sampai rumah sebelum adzan maghrib.
Antrean keluar motor panjang sekali. Tapi motor si kawan udah ada di urutan keempat sebelum gerbang keluar. Huh legaaaa, seenggaknya belom denger suara ngaji sebelum bedug maghrib datang di masjid-masjid. Aku naik di boncengan saat motornya udah mampir dipinggir jalan. Baru aja tancap gas, baru aja mau mengenakan helm berstandar yang udah ku geteng-geteng dari tadi di pinggir jalan, tiba-tiba bapak polisi nyalip di depan sambil bilang "Berhenti dulu tolong bu." terus ngelanjutin "helmnya kok gak dipasang?" Kirain pakpolnya cuma mau ngingatin doang supaya helmnya dipasang sekarang juga.
Sebenarnya juga aku memang udah mau masang helm-nya ke kepala, hanya saja siapa coba yang nggak terkejut tiba-tiba disalipin sama polisi di tambah dengan motor gedenya, belum lagi tampangnya yang lumayan seram-seram lucu. Dimana hayo lucunya?... di muka! pastinya nggak, di motor gedenya?, waduh itu apalagi bukan. Lucunya itu di perut buncitnya, kayak ibu-ibu hamil 7 bulan. Ya Allah maafin hamba sedikit mengejek ciptaanmu.
Tiba-tiba "Ayo ikut saya ke kantor" Akhirnya kami digiring ke satu ruangan petak yang ada di setiap simpang jalan besar kota -yang katanya kantor itu, Nggak jadi cuma ngingatin doang nih pak?
Apalah daya uang akhirnya raib seratus ribu, apalah daya minta tilang aja eh polisinya malah nawarin "mau di bantu tidak?" ya, sedikit memaksa. Bapak ini nggak mau berbaik hati apa ya di bulan puasa? yah, jadi keingat bakalan buka di jalan nih. Yah, bakalan keluar uang lebih nih. Tetapi, sebagai warga kota yang baik, saya mengakui kesalahan saya, ya walaupun tetap ngotot sebenarnya kalau saja pakpolnya datang 2 detik lebih lama.
Pak polisi yang bersumpah melindungi negeri ini, makasih karena hanya minta seratus ribu doang. Makasih karena akhirnya saya jadi tau, kalau mau jadi boncengan di motor itu harus kenakan helm terlebih dahulu sebelum naik, kalau perlu sepanjang jalan kamu nunggu teman kamu di pinggir jalan, kamu gunain aja helmnya #saran. Biar nggak kena stop polisi, lumayan juga seratus ribu jadi nggak raib, helm-nya juga bisa ngelindungi kamu dari polusi kota. Kamu juga nggak bakalan jadi buka puasa di luar #eh-curhat.
Pak polisi yang sehat karena rajin berolah-raga *seharusnya begitu, kapan-kapan kita jogging bareng ya pak. Soalnya setahu saya, pelaku kriminal susah dikejar kalau sama orang sakit, orang gemuk juga, apalagi kalau lagi ngandung. #eh.... Maafin saya karena nggak sengaja melanggar peraturan ya pak, maafin saya karena udah bawa helm ber SNI tapi telat makainya kemarin, malah keduluanan bapak. Maafin saya karena cuma ada uang ceban doang.
Pokoknya the best lah bapak polisinya....
Hatur nuhun, sekian....
Jangan judge saya, namanya juga curhat

No comments:
Post a Comment