Friday, December 16, 2016

The Girl and Her Book (Part 10)

Fanfiction The Girl and Her Book (Part 10)
Cast : Lee Jinki a.k.a Onew SHINee  
           Han Haneul (OC)
           Kim Gweboon a.k.a Straight Key SHINee
           Park Si Jae (OC)
This is romance, mysteri, school life and sadness

---The Girl and Her Book---

Ujian sudah menanti di depan mata, kenaikan kelas di tahun terakhir menjadikan siswa berbondong-bondong untuk datang keperpustakaan, baik itu perpustakaan sekolah, kota maupun universitas. Ada sebuah persaingan ketat dalam hal pendidikan di negara ini.

Begitu juga yang terjadi di sekolah Haneul dan Jinki berada, walaupun ini adalah sekolah elit yang bisa dengan mudah mengganti nilai-nilai siswanya yang jeblok hanya dengan uang, tapi tetap saja kebanyakan siswanya belajar dengan tekun, apalagi untuk siswa di tahun terakhirnya, yang akan melanjutkan ke Universitas ternama.

Dua langkah kaki yang teratur, yang satu dengan kaki jenjangnya dan satu lagi langkah kaki yang pendek mencoba melangkah lebih lebar mengikuti si kaki jenjang. Haneul dan Jinki terburu-buru ke perpustakaan setelah jam pelajaran terakhir berakhir, mengikuti arus untuk ikut juga belajar. Pintu perpustakaan selalu terbuka 20 jam setiap harinya bagi seseorang yang ingin belajar.

Sampai di dalamnya dan tercengong melihat banyak sekali siswa yang ada di sana seperti beberapa hari sebelumnya, Haneul menghentikan langkahnya didepan pintu.

“Jinki, aku tidak bisa belajar disini, kau punya tempat lain?”

Tidak, Jinki juga orang baru disini, dia tidak mempunyai tempat referensi untuk belajar, sama seperti Haneul, Jinki juga tidak bisa belajar jika ditempat-tempat ramai. Kafe, taman, tidak akan masuk kedalam list mereka berdua.

“oke, sepertinya kita bisa belajar di apartemen ku”. Haneul mencoba menyelesaikan masalah mereka berdua. Mencoba mencari jawaban di wajah Jinki, apakah dia mau ikut atau tidak.

“bagaimana kalau di apartemenku!”. Ini, dia tidak salah dengarkan?, Jinki akhirnya mempersilahkannya masuk ke dalam singgahsananya, bukankah sejak dia membuka rumahnya untuk Jinki, setelahnya dia selalu menawarkan ingin main ke apartement Jinki, tapi Jinki selalu menolaknya dengan cara halus, dengan berbagai alasan yang masuk akal dan anehnya dia tidak pernah marah, dia hanya berfikir bahwa, Jinki salah satu pria yang baik tidak semabarang membawa teman lawan jenisnya untuk main ke rumah lelaki perjaka. Hey, wanita ini benar-benar sudah tersihir dengan dunianya sekarang, tidak ada lagi balas dendam, tidak ada lagi tindakan menyakiti orang lain, tidak lagi dengan buku hitamnya, ya dia sangat merindukan buku itu, tapi bukankah buku keramat itu lebih baik tersimpan sebagai kenangan kelamnya.

“Haneul, jadi kita pergi sekarang?” Jinki menginterupsi Haneul, lagi-lagi wanita disebelahnya terlihat melamun.

‘aku harap aku bisa masuk dalam pikiranmu’

“bolehkah?, emm maksudku kau selalu menolak selama ini” meminta restu sekali lagi.

“ayo”. Jinki menariknya lengan Haneul dengan kencang kemudian mereka berlari kecil, ini hal lancang bagi Haneul, tapi itu beberapa bulan yang lalu, kemarin-kemarin mendapatkan perlakuan seperti ini dari Jinki malah membuatnya terus tersenyum, mungkin ini yang namanya jatuh hati?. Iya, Haneul susah untuk mengartikannya, ini hal baru baginya.

Pintu elevator terbuka tepat di lantai 18, ini adalah tempat tinggal mewah, bahkan jika diteliti dalam satu lantai hanya ada 3 pintu apartemen, itu artinya satu pintu bisa memuat 4-5 apartemen sebesar apartement Haneul. Berarti Jinki adalah anak dari seseorang yang super big business, tapi mengapa susah sekali untuk mengumpulkan data dari seorang Jinki, dia ingat, Si Jae dengan orang-orang paten suruhannya tidak bisa juga melacak datanya Jinki. Belum lagi dengan gampangnya Jinki yang bergonta ganti kendaraannya, seharusnya menimbulkan kecurigaan besar sejak kehadiran pertamanya, bukankah Jinki cukup istimewa?.

Lagi-lagi dia melihat Haneul terdiam melamun, dengan pandangan satu arahnya kearah pintu apartementnya. Ia menyentuh pundak Haneul pelan dan itu sedikit membuat Haneul mengendik.
“oh, maafkan aku Jinki, akhir-akhir ini ada sesuatu yang terus aku pikirkan?”

“masuklah” Jinki mempersilahkan Haneul untuk masuk, betapa terperangahnya Haneul, dia benar-benar sangat kaya, di depan pintu masuk langsung tembus ke ruang perapian, oh God, ini bukan di eropa kan?, pria ini baru beberapa bulan di Korea bukan?, dia pasti mengkonsep ulang bentuk dari apartement ini.

“duduklah dulu aku akan bawakan minum, seperti biasa air mineral saja kan?”. Dia tahu betul wanita di depannya ini, terlalu sederhana dengan semua kekayaan yang dimilikinya, sebuah agensi yang mengonduktor beberapa nama besar didunia entermaiment, hak untuk melebeli beberapa makanan ringan instant dan juga satu perusahaan perjasaan bodyguard, lihatlah betapa kayanya si wanita sederhana ini, tapi ada sesuatu yang serius di masa lalunya, yang membuatnya meninggalkan kekayaan itu, menanggungkannya pada Si Jae, orang kepercayaannya.

Dan hal itu yang membuatnya menerima tawaran Gweboon, menerima tantangan dari orang yang di sukainya.

Sudah 2 jam lebih mereka belajar, sepertinya sudah cukup untuk hari ini, Haneul bersiap menyusun kembali buku kedalam tasnya, melihat kebagian sisi jendela dengan tirai terbukanya, langit petang yang seharusnya tampak cantik berwarna jingga sekarang tertutup oleh awan hitam pekat, mengepul dalam beberapa bagian penuh, sedikit terlihat beberapa detik berlangsung cahaya berbentuk akar muncul disana, kemudian beberapa detik lagi terdengar bunyi gemeleduk yang kencang, di luar hujan sudah berlangsung dari setengah jam yang lalu, rintiknya yang besar-besar terlihat jelas di jendela kaca yang bening.

“di luar hujan, bisakah aku pinjam payungmu?,”

“jika kau, ingin pulang aku yang akan mengantar, kan ada mobil, kita tidak perlu basah-basahan dengan sepeda motorku.”

Suara yang sangat pelan dari satu tegukan, Haneul menelan ludah, terlihat kerongkongannya naik-turun dari bagian luar lehernya, seperti ada yang tercekat saat Jinki mengatakan kata mobil.

“tidak Jinki, itu merepotkanmu, lagipula ini hanya 3 blok dari gedung apartementku, jadi bisakah aku meminjam payungmu saja?”

“anginnya sangat kencang, bagaimana aku bisa membuatmu pulang sendiri”. Dua orang keras kepala sedang beradu mulut, seperti inilah jadinya, tidak ada penyelesaian yang pasti. “begini saja, biasanya hujan yang deras akan cepat untuk reda, jadi, tinggallah untuk beberapa saat disini, kau bisa menonton televisi atau apa saja, aku akan menyiapkan makanan di dapur”.

“bisakah aku membantumu di dapur?”

“Tidak, Haneul, kau tidak bisa, kau tamu, kau adalah ratu hari ini?”

Ratu?, ratu?, hei bukankah seharusnya raja?, ah, bodoh dia kan wanita, mana mungkin dia jadi raja. Haenul mengalah, menjawabnya dengan anggukan.

Sepertinya Jinki menghabiskan waktu cukup lama di dapur, hingga saat makanannya siap, memanggil haneul untuk ikut bergabung diruang makan tetapi wanita itu sama sekali tidak menyahut. Ada perasaan tenang dalam dirinya saat melihat Haneul ternyata sudah tertidur di atas sofanyanya. Wajah wanita itu menunjukkan kedamaian, hembusan nafas yang teratur menunjukkan bahwa Haneul dalam keadaan yang terlalu lelap.

Semakin mendekat kearah Haneul, Jinki mengurungkan niatnya untuk membangunkan wanita itu. Hujan masih terlalu deras diluar, membuat udara ikut mendingin, Jinki beranjak ke tempat pengaturan suhu, dan menaikkan suhu itu sedikit lebih hangat. Kembali ke sofa dan ikut memejamkan mata di samping Haneul.

Pria ini, yang awalnya mengenal Haneul hanya untuk membalaskan dendam Gweboon, hanya untuk membantu orang yang disukainya agar bangkit bahagia kembali bersama paman Kim, memberikan hadiah terbaik untuk Gweboon dengan cara menjatuhkan Haneul. Ya, pria yang awalnya hanya mempunyai niat buruk terhadap Haneul itu perlahan-perlahan, dengan merasakan ternyata betapa nyamannya dia saat di samping Haneul, dengan sendirinya membuang sedikit demi sedikit rasa dendam itu. Entahlah apa dia bisa menepati janjinya pada Gweboon.

Membuka kembali matanya, mengamati wajah wanita disebelahnya lamat-lamat, sosok monster yang selama ini di dengarnya dari Gweboon, sosok wanita kejam yang diceritakan Gweboon padanya, ia sama sekali tidak melihat sosok itu pada diri Haneul.

Enggan untuk membangunkan gadis disebelahnya, Jinki beranjak ke kamarnya dan keluar membawakan selimut tebal untuk Haneul. Terlihat layar ponsel Jinki berkelap-kelip hidup kemudian mati, tanpa suara, ponsel itu dalam keadaan ter-silent.

Untuk kesekian kalinya nama Gweboon tertera di layarnya, sedikit menyunggingkan senyumnya, sudah hampir dua minggu Gweboon tidak menghubunginya, dan sekalinya menghubungi biasanya wanita itu selalu memberikan kabar yang mencengangkan, kadang kabar yang terlalu baik dan kadang kabar yang terlalu buruk, sudah cukup banyak yang Jinki ketahui bahwa kehidupan wanita yang sedang mencoba menghubunginya itu penuh dengan kejutan ekstra.

Benar saja, kali ini Gweboon menyampaikan kabar baik yang untuk kesekian kalinya, wanita itu mengabari dengan sedikit isakan tangis, awalnya Jinki sempat panik. Tapi setelah mendengarkan dengan lebih lengkap kabar itu langsung dari mulut Gweboon, Jinki mengembangkan senyumnya, tangisan Gweboon tadi adalah tangisan bahagia, tangisan terharu karena ayahnya hari ini dibebaskan dengan pemotongan masa tahanan karena etikat baik yang ditunjukkan ayahnya selama disana, pemerintah memberikan agrasi besar-besaran kepada para penghuni penjara lainnya.

Jinki baru saja ingin menawarkan kepada mereka bahwa dia akan menjemput Gweboon untuk sama-sama menjemput paman Kim di penjara, menanyakan jam berapa pembebasan paman Kim, tapi itu terlambat. Gweboon dan ayahnya sudah dalam perjalanan ke apartement Jinki mereka sudah setengah jalan dari penjara ke apartementnya. Tentu saja itu membuat Jinki panik, pasalnya Han Haneul, seseorang yang sangat ingin dijauhi Gweboon dan paman Kim sekarang tengah berada di apartemetnya, sedang tertidur pulas, nyenyak dan Jinki tidak tega sama sekali untuk membangunkannya dan mengusir wanita itu dari tempatnya.

Di luar masih hujan, menelpon Si Jae untuk menjemput Haneul sama saja membuat Si Jae makin curiga akan dirinya.

Dengan terpaksa Jinki membopong wanita itu, menggendongnya sampai ke basemant dan memasukkannya kedalam mobil, mendudukkan wanita itu di kursi sebelah pengemudi dan Jinki menginjak pedal gas dengan tegas dan menaikkan gigi mobil, Gweboon harus sampai dirumahnya dengan cepat, untung saja wanita itu tidak terbangun saat dia digendong Jinki tapi, sampai sekarangpun Gweboon masih terlelap.

Silau lampu mobil di depannya silih berganti menyambut mata itu yang sedikit-demi sedikit terbuka, tertutup kembali saat sinar lampu itu kembali menyusup, sebelah tangannya refleks menghalau sinar itu, setelah sadar ia berada dimana wanita itu panik berteriak-teriak seperti orang gila.

“kakak, hentikan mobilnya” pandangan itu masih mengarah kedepan, dengan mata yang sudah mulai berair, menahan tangis serta sesak yang ada di dadanya, tangannya yang memukul-mukul dadanya, memberontak agar oksigen dapat masuk keparu-parunya, menepuk-nepuk dada itu sekian detik semakin kuat.

“kakak, HENTIKAN MOBILNYA” teriakan yang ini berhasil membuat Jinki mengerem mobil mendadak, menatap nanar pada wanita di sampingnya yang sedikit tersentak kedepan akibat injakan rem mendadaknya.

Wanita itu terlihat tambah mengenaskan, air wajah yang sudah sangat pucat dengan dipenuhi air mata yang tidak berhentinya mengalir, kedua tangan yang naik keatas, satu mengepal menepuk-nepuk dadanya dengan sangat kuat, satunya lagi mengarah kelehernya seperti tercekik, tiba-tiba saja wajah itu mengarah ke arah Jinki, masih dengan kedua tangannya yang terus bekerja.

“kakak….”. kemudian tiba-tiba saja Haneul membuka pintu itu, diluar masih hujan, malah semakin deras dari yang tadi, wanita itu merangkak keluar, tubuhnya langsung basah akibat guyuran dari atas, berjalan membungkuk di trotoar dan saat sudah ditepi, Haneul meringkuk, menyatukan kedua lututnya, menopang dagunya di atas sana, menyedekap lutut itu akan semakin rapat, ditengah guyuran hujan, dari ujung kaki sampai keatas, tubuh wanita itu bergetar kencang, pandangan itu kosong dan sedikit ada ketakutan disana.

Tentu semua kejadian ini membuat Jinki panik, dia tidak mempunyai apapun untuk menutupi tubuh itu dari deraian hujan, terlintas wajah Si Jae si orang kepercayaan Haneul, dengan cepat Jinki meneleponnya, Si Jae mengangkat itu di dering ke dua. Jinki menarik napasnya panjang, walau itu sulit di tengah hujan, tidak boleh ada nada panik dalam dirinya.

Dengan melihat iba pada Haenul, tidak ada yang bisa dilakukan Jinki selain menutupi tubuh Haneul dengan tubuhnya, agar tubuh itu tidak langsung bersentuhan dengan air hujan, Jinki menunggu Si Jae untuk datang dengan motornya. Hingga beberapa menit kemudian lampu motor Si Jae menerpa kedua tubuh yang sudah basah kuyup itu.

Turun dari motornya Si Jae melepaskan dua pukulan tepat di pipi sebelah kanan Jinki.

“itu untuk kau, karena telah membuatnya seperti ini”.

Lelaki itu membopong tubuh Haenul yang masih bergetar agar naik ke motor, menyampirkan jeket kulitnya kebahu Haenul, sebelum dia menggas motornya, Si Jae menarik tangan pucat itu untuk memeluk di sekitar perutnya, menarik dua lengan jeket itu dan mengikatnya melewati bahunya, menambahkan pengamanan agar Haneul tidak jatuh.

---The Girl and Her Book---

To-be Continue

No comments:

Post a Comment