Fanfiction The Girl and Her Book (Part 10)
Cast : Lee Jinki a.k.a Onew SHINee
Han Haneul (OC)
Kim Gweboon a.k.a Straight Key SHINee
Park Si Jae (OC)
This is romance, mysteri, school life and sadness
---The Girl and Her Book---
Ujian sudah menanti di depan mata,
kenaikan kelas di tahun terakhir menjadikan siswa berbondong-bondong untuk
datang keperpustakaan, baik itu perpustakaan sekolah, kota maupun universitas.
Ada sebuah persaingan ketat dalam hal pendidikan di negara ini.
Begitu juga yang terjadi di sekolah
Haneul dan Jinki berada, walaupun ini adalah sekolah elit yang bisa dengan
mudah mengganti nilai-nilai siswanya yang jeblok hanya dengan uang, tapi tetap
saja kebanyakan siswanya belajar dengan tekun, apalagi untuk siswa di tahun
terakhirnya, yang akan melanjutkan ke Universitas ternama.
Dua langkah kaki yang teratur, yang
satu dengan kaki jenjangnya dan satu lagi langkah kaki yang pendek mencoba
melangkah lebih lebar mengikuti si kaki jenjang. Haneul dan Jinki terburu-buru
ke perpustakaan setelah jam pelajaran terakhir berakhir, mengikuti arus untuk
ikut juga belajar. Pintu perpustakaan selalu terbuka 20 jam setiap harinya bagi
seseorang yang ingin belajar.
Sampai di dalamnya dan tercengong
melihat banyak sekali siswa yang ada di sana seperti beberapa hari sebelumnya,
Haneul menghentikan langkahnya didepan pintu.
“Jinki, aku tidak bisa belajar
disini, kau punya tempat lain?”
Tidak, Jinki juga orang baru disini,
dia tidak mempunyai tempat referensi untuk belajar, sama seperti Haneul, Jinki
juga tidak bisa belajar jika ditempat-tempat ramai. Kafe, taman, tidak akan
masuk kedalam list mereka berdua.
“oke, sepertinya kita bisa belajar
di apartemen ku”. Haneul mencoba menyelesaikan masalah mereka berdua. Mencoba
mencari jawaban di wajah Jinki, apakah dia mau ikut atau tidak.
“bagaimana kalau di apartemenku!”.
Ini, dia tidak salah dengarkan?, Jinki akhirnya mempersilahkannya masuk ke
dalam singgahsananya, bukankah sejak dia membuka rumahnya untuk Jinki,
setelahnya dia selalu menawarkan ingin main ke apartement Jinki, tapi Jinki
selalu menolaknya dengan cara halus, dengan berbagai alasan yang masuk akal dan
anehnya dia tidak pernah marah, dia hanya berfikir bahwa, Jinki salah satu pria
yang baik tidak semabarang membawa teman lawan jenisnya untuk main ke rumah
lelaki perjaka. Hey, wanita ini benar-benar sudah tersihir dengan dunianya
sekarang, tidak ada lagi balas dendam, tidak ada lagi tindakan menyakiti orang
lain, tidak lagi dengan buku hitamnya, ya dia sangat merindukan buku itu, tapi
bukankah buku keramat itu lebih baik tersimpan sebagai kenangan kelamnya.
“Haneul, jadi kita pergi sekarang?”
Jinki menginterupsi Haneul, lagi-lagi wanita disebelahnya terlihat melamun.
‘aku harap aku bisa masuk dalam
pikiranmu’
“bolehkah?, emm maksudku kau selalu
menolak selama ini” meminta restu sekali lagi.
“ayo”. Jinki menariknya lengan
Haneul dengan kencang kemudian mereka berlari kecil, ini hal lancang bagi
Haneul, tapi itu beberapa bulan yang lalu, kemarin-kemarin mendapatkan
perlakuan seperti ini dari Jinki malah membuatnya terus tersenyum, mungkin ini
yang namanya jatuh hati?. Iya, Haneul susah untuk mengartikannya, ini hal baru
baginya.
Pintu elevator terbuka tepat di
lantai 18, ini adalah tempat tinggal mewah, bahkan jika diteliti dalam satu
lantai hanya ada 3 pintu apartemen, itu artinya satu pintu bisa memuat 4-5
apartemen sebesar apartement Haneul. Berarti Jinki adalah anak dari seseorang
yang super big business, tapi mengapa susah sekali untuk mengumpulkan
data dari seorang Jinki, dia ingat, Si Jae dengan orang-orang paten suruhannya
tidak bisa juga melacak datanya Jinki. Belum lagi dengan gampangnya Jinki yang
bergonta ganti kendaraannya, seharusnya menimbulkan kecurigaan besar sejak
kehadiran pertamanya, bukankah Jinki cukup istimewa?.
Lagi-lagi dia melihat Haneul terdiam
melamun, dengan pandangan satu arahnya kearah pintu apartementnya. Ia menyentuh
pundak Haneul pelan dan itu sedikit membuat Haneul mengendik.
“oh, maafkan aku Jinki, akhir-akhir
ini ada sesuatu yang terus aku pikirkan?”
“masuklah” Jinki mempersilahkan
Haneul untuk masuk, betapa terperangahnya Haneul, dia benar-benar sangat kaya,
di depan pintu masuk langsung tembus ke ruang perapian, oh God, ini bukan di
eropa kan?, pria ini baru beberapa bulan di Korea bukan?, dia pasti mengkonsep
ulang bentuk dari apartement ini.
“duduklah dulu aku akan bawakan
minum, seperti biasa air mineral saja kan?”. Dia tahu betul wanita di depannya
ini, terlalu sederhana dengan semua kekayaan yang dimilikinya, sebuah agensi
yang mengonduktor beberapa nama besar didunia entermaiment, hak untuk melebeli
beberapa makanan ringan instant dan juga satu perusahaan perjasaan bodyguard,
lihatlah betapa kayanya si wanita sederhana ini, tapi ada sesuatu yang serius
di masa lalunya, yang membuatnya meninggalkan kekayaan itu, menanggungkannya
pada Si Jae, orang kepercayaannya.
Dan hal itu yang membuatnya menerima
tawaran Gweboon, menerima tantangan dari orang yang di sukainya.
Sudah 2 jam lebih mereka belajar,
sepertinya sudah cukup untuk hari ini, Haneul bersiap menyusun kembali buku
kedalam tasnya, melihat kebagian sisi jendela dengan tirai terbukanya, langit
petang yang seharusnya tampak cantik berwarna jingga sekarang tertutup oleh
awan hitam pekat, mengepul dalam beberapa bagian penuh, sedikit terlihat
beberapa detik berlangsung cahaya berbentuk akar muncul disana, kemudian
beberapa detik lagi terdengar bunyi gemeleduk yang kencang, di luar hujan sudah
berlangsung dari setengah jam yang lalu, rintiknya yang besar-besar terlihat
jelas di jendela kaca yang bening.
“di luar hujan, bisakah aku pinjam
payungmu?,”
“jika kau, ingin pulang aku yang
akan mengantar, kan ada mobil, kita tidak perlu basah-basahan dengan sepeda
motorku.”
Suara yang sangat pelan dari satu
tegukan, Haneul menelan ludah, terlihat kerongkongannya naik-turun dari bagian
luar lehernya, seperti ada yang tercekat saat Jinki mengatakan kata mobil.
“tidak Jinki, itu merepotkanmu,
lagipula ini hanya 3 blok dari gedung apartementku, jadi bisakah aku meminjam
payungmu saja?”
“anginnya sangat kencang, bagaimana
aku bisa membuatmu pulang sendiri”. Dua orang keras kepala sedang beradu mulut,
seperti inilah jadinya, tidak ada penyelesaian yang pasti. “begini saja,
biasanya hujan yang deras akan cepat untuk reda, jadi, tinggallah untuk
beberapa saat disini, kau bisa menonton televisi atau apa saja, aku akan
menyiapkan makanan di dapur”.
“bisakah aku membantumu di dapur?”
“Tidak, Haneul, kau tidak bisa, kau
tamu, kau adalah ratu hari ini?”
Ratu?, ratu?, hei bukankah
seharusnya raja?, ah, bodoh dia kan wanita, mana mungkin dia jadi raja. Haenul
mengalah, menjawabnya dengan anggukan.
Sepertinya Jinki menghabiskan waktu
cukup lama di dapur, hingga saat makanannya siap, memanggil haneul untuk ikut
bergabung diruang makan tetapi wanita itu sama sekali tidak menyahut. Ada perasaan
tenang dalam dirinya saat melihat Haneul ternyata sudah tertidur di atas
sofanyanya. Wajah wanita itu menunjukkan kedamaian, hembusan nafas yang teratur
menunjukkan bahwa Haneul dalam keadaan yang terlalu lelap.
Semakin mendekat kearah Haneul,
Jinki mengurungkan niatnya untuk membangunkan wanita itu. Hujan masih terlalu
deras diluar, membuat udara ikut mendingin, Jinki beranjak ke tempat pengaturan
suhu, dan menaikkan suhu itu sedikit lebih hangat. Kembali ke sofa dan ikut
memejamkan mata di samping Haneul.
Pria ini, yang awalnya mengenal
Haneul hanya untuk membalaskan dendam Gweboon, hanya untuk membantu orang yang
disukainya agar bangkit bahagia kembali bersama paman Kim, memberikan hadiah
terbaik untuk Gweboon dengan cara menjatuhkan Haneul. Ya, pria yang awalnya
hanya mempunyai niat buruk terhadap Haneul itu perlahan-perlahan, dengan merasakan
ternyata betapa nyamannya dia saat di samping Haneul, dengan sendirinya
membuang sedikit demi sedikit rasa dendam itu. Entahlah apa dia bisa menepati
janjinya pada Gweboon.
Membuka kembali matanya, mengamati
wajah wanita disebelahnya lamat-lamat, sosok monster yang selama ini di
dengarnya dari Gweboon, sosok wanita kejam yang diceritakan Gweboon padanya, ia
sama sekali tidak melihat sosok itu pada diri Haneul.
Enggan untuk membangunkan gadis
disebelahnya, Jinki beranjak ke kamarnya dan keluar membawakan selimut tebal
untuk Haneul. Terlihat layar ponsel Jinki berkelap-kelip hidup kemudian mati,
tanpa suara, ponsel itu dalam keadaan ter-silent.
Untuk kesekian kalinya nama Gweboon
tertera di layarnya, sedikit menyunggingkan senyumnya, sudah hampir dua minggu
Gweboon tidak menghubunginya, dan sekalinya menghubungi biasanya wanita itu
selalu memberikan kabar yang mencengangkan, kadang kabar yang terlalu baik dan
kadang kabar yang terlalu buruk, sudah cukup banyak yang Jinki ketahui bahwa
kehidupan wanita yang sedang mencoba menghubunginya itu penuh dengan kejutan
ekstra.
Benar saja, kali ini Gweboon
menyampaikan kabar baik yang untuk kesekian kalinya, wanita itu mengabari
dengan sedikit isakan tangis, awalnya Jinki sempat panik. Tapi setelah
mendengarkan dengan lebih lengkap kabar itu langsung dari mulut Gweboon, Jinki
mengembangkan senyumnya, tangisan Gweboon tadi adalah tangisan bahagia,
tangisan terharu karena ayahnya hari ini dibebaskan dengan pemotongan masa
tahanan karena etikat baik yang ditunjukkan ayahnya selama disana, pemerintah
memberikan agrasi besar-besaran kepada para penghuni penjara lainnya.
Jinki baru saja ingin menawarkan
kepada mereka bahwa dia akan menjemput Gweboon untuk sama-sama menjemput paman
Kim di penjara, menanyakan jam berapa pembebasan paman Kim, tapi itu terlambat.
Gweboon dan ayahnya sudah dalam perjalanan ke apartement Jinki mereka sudah
setengah jalan dari penjara ke apartementnya. Tentu saja itu membuat Jinki
panik, pasalnya Han Haneul, seseorang yang sangat ingin dijauhi Gweboon dan
paman Kim sekarang tengah berada di apartemetnya, sedang tertidur pulas,
nyenyak dan Jinki tidak tega sama sekali untuk membangunkannya dan mengusir
wanita itu dari tempatnya.
Di luar masih hujan, menelpon Si Jae
untuk menjemput Haneul sama saja membuat Si Jae makin curiga akan dirinya.
Dengan terpaksa Jinki membopong
wanita itu, menggendongnya sampai ke basemant dan memasukkannya kedalam
mobil, mendudukkan wanita itu di kursi sebelah pengemudi dan Jinki menginjak
pedal gas dengan tegas dan menaikkan gigi mobil, Gweboon harus sampai
dirumahnya dengan cepat, untung saja wanita itu tidak terbangun saat dia
digendong Jinki tapi, sampai sekarangpun Gweboon masih terlelap.
Silau lampu mobil di depannya silih
berganti menyambut mata itu yang sedikit-demi sedikit terbuka, tertutup kembali
saat sinar lampu itu kembali menyusup, sebelah tangannya refleks menghalau
sinar itu, setelah sadar ia berada dimana wanita itu panik berteriak-teriak
seperti orang gila.
“kakak, hentikan mobilnya” pandangan
itu masih mengarah kedepan, dengan mata yang sudah mulai berair, menahan tangis
serta sesak yang ada di dadanya, tangannya yang memukul-mukul dadanya,
memberontak agar oksigen dapat masuk keparu-parunya, menepuk-nepuk dada itu
sekian detik semakin kuat.
“kakak, HENTIKAN MOBILNYA” teriakan
yang ini berhasil membuat Jinki mengerem mobil mendadak, menatap nanar pada
wanita di sampingnya yang sedikit tersentak kedepan akibat injakan rem
mendadaknya.
Wanita itu terlihat tambah
mengenaskan, air wajah yang sudah sangat pucat dengan dipenuhi air mata yang
tidak berhentinya mengalir, kedua tangan yang naik keatas, satu mengepal
menepuk-nepuk dadanya dengan sangat kuat, satunya lagi mengarah kelehernya
seperti tercekik, tiba-tiba saja wajah itu mengarah ke arah Jinki, masih dengan
kedua tangannya yang terus bekerja.
“kakak….”. kemudian tiba-tiba saja
Haneul membuka pintu itu, diluar masih hujan, malah semakin deras dari yang
tadi, wanita itu merangkak keluar, tubuhnya langsung basah akibat guyuran dari
atas, berjalan membungkuk di trotoar dan saat sudah ditepi, Haneul meringkuk,
menyatukan kedua lututnya, menopang dagunya di atas sana, menyedekap lutut itu
akan semakin rapat, ditengah guyuran hujan, dari ujung kaki sampai keatas, tubuh
wanita itu bergetar kencang, pandangan itu kosong dan sedikit ada ketakutan
disana.
Tentu semua kejadian ini membuat
Jinki panik, dia tidak mempunyai apapun untuk menutupi tubuh itu dari deraian
hujan, terlintas wajah Si Jae si orang kepercayaan Haneul, dengan cepat Jinki
meneleponnya, Si Jae mengangkat itu di dering ke dua. Jinki menarik napasnya
panjang, walau itu sulit di tengah hujan, tidak boleh ada nada panik dalam
dirinya.
Dengan melihat iba pada Haenul, tidak
ada yang bisa dilakukan Jinki selain menutupi tubuh Haneul dengan tubuhnya,
agar tubuh itu tidak langsung bersentuhan dengan air hujan, Jinki menunggu Si
Jae untuk datang dengan motornya. Hingga beberapa menit kemudian lampu motor Si
Jae menerpa kedua tubuh yang sudah basah kuyup itu.
Turun dari motornya Si Jae
melepaskan dua pukulan tepat di pipi sebelah kanan Jinki.
“itu untuk kau, karena telah
membuatnya seperti ini”.
Lelaki itu membopong
tubuh Haenul yang masih bergetar agar naik ke motor, menyampirkan jeket
kulitnya kebahu Haenul, sebelum dia menggas motornya, Si Jae menarik tangan
pucat itu untuk memeluk di sekitar perutnya, menarik dua lengan jeket itu dan
mengikatnya melewati bahunya, menambahkan pengamanan agar Haneul tidak jatuh.
---The Girl and Her Book---
To-be Continue

No comments:
Post a Comment