Tuesday, December 20, 2016

The Girl and Her Book (Part 11)

Fanfiction 
The Girl and Her Book (Part 11)
Cast : Lee Jinki a.k.a Onew SHINee  
           Han Haneul (OC)
           Kim Gweboon a.k.a Straight Key SHINee
           Park Si Jae (OC)
This is romance, mysteri, school life and sadness

---The Girl and Her Book---

Jinki tercengong saat melihat wanita itu, Haneul sudah ada di kursinya pagi ini, bukankah kejadian kemarin membuat wanita itu tertekan berat, walau masih terlihat pucat, tetapi dia tetap datang ke sekolah.

Kesunyian melanda keduanya, tidak ada gurauan Jinki seperti sebelumnya, rasa bersalah itu masih ada.

Kemarin Gweboon dan ayahnya datang lebih cepat dari perkiraan, masih sempat melihat Jinki menggendong Haneul menuju basemant, bagaimanapun ada rasa cemburu disana, ayahnya juga tidak percaya apa yang telah dilihatnya, apa Jinki berbalik arah memihak Haneul?, kehidupan mereka seperti teka-teki sulit, seperti permainan menemukan jalan keluar dari sebuah labirin.

Tentu paman Kim tidak ingin Jinki lari dari kehidupan mereka, dia butuh penjelasan lebih, itu yang membuat kehadiran Jinki di sebuah house caffe kemarin, Gweboon mengubah tempat bertemu mereka.

Setelah jemputan Si Jae kemarin, panggilan itu masuk, dengan baju basah kuyup membuat kebanyakan pengunjung kafe mengamatinya, tanpa sedikitpun risih, dia mencoba mencari keberadaan Gweboon dan paman Kim. Mereka tepat duduk di meja paling sudut, seperti dugaannya pasti kedua orang ini tercengong melihat keadaannya.

“selamat paman, akhirnya aku bisa melihat senyum Gweboon kembali”. Padahal sedang tidak ada senyuman di wajah Gweboon saat ini. Jinki ingin memeluk paman Kim, tapi melihat keadaannya, sepertinya itu mustahil. Mengambil tempat duduk di depan mereka, jinki sedikit risih saat pantat basahnya menyentuh kursi kafe.

“terima kasih nak. Jinki, apa yang membuatmu jadi seperti ini?”. itu paman Kim yang terlihat panik, menilik penampilan Jinki dari atas ke bawah. Di dukung dengan pandangan aneh Gweboon kepadanya.

“ini, sebenarnya saat kalian ingin datang tadi, Haneul ada di apartementku jadi aku mencoba mengantarnya…”

“aku sudah tau itu, kami melihatnya tadi, kau menggendongnya sampai kemobil kan?” Gweboon tidak sanggup untuk tidak memotong perkataan Jinki. “jadi, kalian sudah mulai akrab?, apa kau melupakan rencana awal kita?”

“bisakah aku melanjutkan perkataanku Gwe?,” melihat anggukan pelan dari Gweboon, itu tanda persetujuan darinya. “ya, aku sudah mulai akrab dengannya, tadi saat mengantarnya dengan mobil, tiba-tiba saja dia terbangun ditengah jalan, seperti orang gila terus menyuruhku berhenti dan dia dengan sembarangan keluar dari mobilku di tengah hujan deras, mau tidak mau aku harus ikut keluar bersamanya, aku hanya bisa menelepon Si Jae meminta bantuan, sekarang Haneul dengan Si Jae mungkin sudah di apartement gadis itu”.

Masih terlintas di benak Jinki bagaimana rasa takut Haneul tadi, ada rasa simpati kepada wanita itu, sekelam apa dulu kehidupannya?, mengapa Gweboon bisa mencapnya sebagai wanita monster?. Melebihi rasa balas dendam Gweboon, Jinki harus tahu semuanya, dia harus tahu kebenarannya, bukan hanya dari versi Gweboon dan paman Kim. Dia harus tahu juga dari sisi Haneul dan Si Jae, atau orang-orang lainnya yang dekat dengan mereka beberapa tahun silam.

“dia seperti orang gila di mobil?, haha… ternyata benar perkataan tiga gadis itu”. Mengerikan, ini sama seperti senyum licik Haneul pada saat itu, Gweboon tersenyum seperti monster?.

‘apa maksudmu, tiga gadis, sebenarnya apa yang tidak kau ungkapkan padaku Gweboon?’

Selebihnya pertemuan mereka membicarakan hal-hal pengalaman paman Kim selama di penjara, bagaimana para sipir yang ada disana?, bagaimana paman Kim bisa menjadi tambah kurus. Yah, seperti biasanya, percakapan seperti dalam lingkungan keluarga.

---The Girl and Her Book---

Detik-detik yang hening, sudah beberapa jam terlewati, beberapa tugas yang sudah dikumpulkan ke guru, 2 jam istirahat di waktu yang singkat yang di andalkan beberapa siswa dengan baik untuk belajar sebelum ujiian akhir beberapa hari lagi dimulai, tapi lihat saja satu anak adam dan satu anak hawa yang duduk di barisan paling belakang, tentu dengan tidak mengangkat kedua bokong itu sama sekali sejak tadi, tidak beranjak ke toilet ataupun sekedar pergi ke kantin mengisi kekosongan perut.

Keduanya hanya menatap kekosongan lamat-lamat. Satu pelajaran lagi, tidak ada juga satu katapun yang berani mereka keluarkan, ini menimbulkan kecurigaan untuk siswa lainnya, biasanya Jinki adalah orang yang pecicilan terhadap Haneul, tidak ada keributan yang dibuatnya hari ini, tidak ada suara kekesalan Haneul menghadapi pria ini seperti biasanya.

Tetapi siapa yang berani mencelanya, siapa yang berani mencela Jinki, setelah Ban Suyoung, cucu pemilik yayasan sekolah ini menghilang, tidak ada lagi yang mau untuk menggangu Jinki.

Penuh sudah satu hari tidak ada percakapan sama sekali dari mereka, kebiasaan Haneul yang membawa sepeda merahnya kembali terlihat, kendaraan itu sudah terparkir rapi di sana. Tadi pagi Jinki tidak menjemputnya seperti kemarin-kemarin, dia juga masih terlalu lemah untuk berjalan kaki dari apartement ke sekolahnya, untung saja sepeda merah itu masih berfungsi walau sudah lama tidak ia goes dan meminyaki rantainya.

Jinki terlihat menatap Haneul diparkiran, menunggu sampai wanita itu pergi melewati gerbang sekolah, tidak ada tawaran untuk mengantarnya seperti biasanya, sedari tadi mulutnya gatal untuk mengatakan kata maaf ke wanita ini, tapi tidak ada keberanian sejak tadi, tingkat emosional itu turun hingga nol persen.

Hingga pagi sudah menyambut kembali, kemarin adalah kesalahan besar bagi Jinki, belum ada kata maaf yang diucapkannya kepada wanita itu. Motor sport itu entah mengapa sudah mengarah ke arah apartement Haneul, tidak terkontrol hingga sudah berada di basemant. Dia bisa melihat dengan jelas sepeda Haneul masih terparkir rapi di sudut block c khusus tempat parkiran sepeda. Bibir itu sedikit tertarik keatas, entah apalagi yang tiba-tiba bisa membuatnya tersenyum, apa karena sepeda itu ada di tempatnya?, apa karena itu Haneul bisa kembali pergi ke sekolah bersamanya?. Pikiran pria ini sudah sedikit aneh sejak merasa bersalah pada Haneul kemarin.

Ia tetap duduk diatas motornya, sudah beberapa waktu terlewati tetapi Haneul juga tetap tidak tampak, kenapa dengan Haneul?, apa dia sakit?, mengingat wajah pucat Haneul semalam ia merasa tidak rela. Huh, apa yang sudah dilakukan Haneul pada otaknya?. Melihat pada arlojinya, pantas saja, dia datang terlalu cepat, tidak, ini bahkan masih subuh, tidak menyadari kalau langit dia luar sana masih gelap saat dia beranjak dari apartementnya tadi.

Tidak bisa menunggu waktu lagi agar lebih cepat berjalan, kaki itu sudah melangkah ke arah elevator dengan cepat, langsung menekan lantai 7 diantara tombol lainnya. Tidak tahu perasaan dari mana, tetapi ia ingin cepat-cepat melihat wajah Haneul, berharap tidak pucat lagi seperti kemarin.

‘Ini hanya perasaan ingin minta maaf cepat-cepatkan?’.

Iya, ini hanya karena dia tidak bisa menahan rasa permohonan maafnya terlalu lama lagi, tidak ada rasa lainkan?. Jangan sampai jatuh hati pada wanita itu, Gweboon melarangnya, bukankah dia harus menepati janjinya. Tidak boleh ada Haneul dalam hatinya, tugasnya hanya membuat Haneul mencintainya, masuk dalam kehidupan gadis itu dan melakukan beberapa hal yang di suruh Gweboon.

Bukankah ini semua demi Gweboon, gadis yang menjadi teman masa kecilnya, gadis yang sudah masuk lebih dulu ke dalam hatinya.

Pintu itu terbuka dengan sendirinya sebelum dia memencet bel, disana sudah berdiri Han Haneul dengan seragam lengkapnya, kedua mata itu terbelalak, sama-sama terkejut dengan keadaan yang tidak terprediksi.

Jinki memulainya dengan hal yang lebih tidak terprediksi lagi, tubuh itu dengan spontan memeluk Haneul, seperti itu, tidak ada percakapan hingga beberapa menit, kata-kata maaf yang ingin diucapkannya tadi, hilang melayang begitu saja saat melihat wajah Haneul yang masih pucat itu.

Merasa tangan Haneul secara perlahan ikut menyambutnya di belakang punggungnya, pelukan itu semakin mendekap, sesaat suara isakan Haneul menggema ke telinganya perasaan bersalah itu makin meluap.

“ma…maafkan aku Jinki”. Apa?, kenapa malah wanita itu yang meminta maaf kepada Jinki. “maafkan aku, hiks, hiks”. Maaf itu lagi?, ada apa dengan wanita ini. “kejadian memalukan itu, maafkan aku atas segalanya, maaf aku meneriakimu di mobil kemarin, aku sangat malu, memalukan”.

‘apa selembut ini perasaan wanita monster didepanku ini?’

Semakin kuat pelukan itu, semakin kuat pula isakan yang keluar dari mulut Haneul. Tidak ada yang berangkat ke sekolah hari ini, seolah beberapa jam bersama adalah tanggungan atas perasaan bersalah masing-masing, selama pelukan tadi Jinki terus mengusap-usap rambut gadis itu hingga tangisan itu berubah menjadi dengkuran halus, ya, Haneul tertidur.


Jinki membawa dan membaringkannya di sofa, ada hasrat untuk menggenggam tangan itu, menemaninya selama tidur, Jinki ikut tertidur dengan tangan masih tergenggam, Haneul yang berada di sofa dan dia yang terduduk di lantai. Tidur yang seharusnya mereka dua dapat karena satu sama lain, tanpa sepengetahuan mereka, tadi malam tidak ada yang bisa menutup matanya.

---The Girl and Her Book---

To be-Continue

No comments:

Post a Comment