Fanfiction
The Girl and Her Book (Part 11)
Cast : Lee Jinki a.k.a Onew SHINee
Han Haneul (OC)
Kim Gweboon a.k.a Straight Key SHINee
Park Si Jae (OC)
This is romance, mysteri, school life and sadness
---The Girl and Her Book---
Jinki tercengong saat melihat wanita
itu, Haneul sudah ada di kursinya pagi ini, bukankah kejadian kemarin membuat
wanita itu tertekan berat, walau masih terlihat pucat, tetapi dia tetap datang
ke sekolah.
Kesunyian melanda keduanya, tidak ada
gurauan Jinki seperti sebelumnya, rasa bersalah itu masih ada.
Kemarin Gweboon dan ayahnya datang
lebih cepat dari perkiraan, masih sempat melihat Jinki menggendong Haneul
menuju basemant, bagaimanapun ada rasa cemburu disana, ayahnya juga
tidak percaya apa yang telah dilihatnya, apa Jinki berbalik arah memihak
Haneul?, kehidupan mereka seperti teka-teki sulit, seperti permainan menemukan
jalan keluar dari sebuah labirin.
Tentu paman Kim tidak ingin Jinki
lari dari kehidupan mereka, dia butuh penjelasan lebih, itu yang membuat
kehadiran Jinki di sebuah house caffe kemarin, Gweboon mengubah tempat
bertemu mereka.
Setelah jemputan Si Jae kemarin,
panggilan itu masuk, dengan baju basah kuyup membuat kebanyakan pengunjung kafe
mengamatinya, tanpa sedikitpun risih, dia mencoba mencari keberadaan Gweboon
dan paman Kim. Mereka tepat duduk di meja paling sudut, seperti dugaannya pasti
kedua orang ini tercengong melihat keadaannya.
“selamat paman, akhirnya aku bisa
melihat senyum Gweboon kembali”. Padahal sedang tidak ada senyuman di wajah
Gweboon saat ini. Jinki ingin memeluk paman Kim, tapi melihat keadaannya,
sepertinya itu mustahil. Mengambil tempat duduk di depan mereka, jinki sedikit
risih saat pantat basahnya menyentuh kursi kafe.
“terima kasih nak. Jinki, apa yang
membuatmu jadi seperti ini?”. itu paman Kim yang terlihat panik, menilik
penampilan Jinki dari atas ke bawah. Di dukung dengan pandangan aneh Gweboon
kepadanya.
“ini, sebenarnya saat kalian ingin
datang tadi, Haneul ada di apartementku jadi aku mencoba mengantarnya…”
“aku sudah tau itu, kami melihatnya
tadi, kau menggendongnya sampai kemobil kan?” Gweboon tidak sanggup untuk tidak
memotong perkataan Jinki. “jadi, kalian sudah mulai akrab?, apa kau melupakan
rencana awal kita?”
“bisakah aku melanjutkan perkataanku
Gwe?,” melihat anggukan pelan dari Gweboon, itu tanda persetujuan darinya. “ya,
aku sudah mulai akrab dengannya, tadi saat mengantarnya dengan mobil, tiba-tiba
saja dia terbangun ditengah jalan, seperti orang gila terus menyuruhku berhenti
dan dia dengan sembarangan keluar dari mobilku di tengah hujan deras, mau tidak
mau aku harus ikut keluar bersamanya, aku hanya bisa menelepon Si Jae meminta
bantuan, sekarang Haneul dengan Si Jae mungkin sudah di apartement gadis itu”.
Masih terlintas di benak Jinki
bagaimana rasa takut Haneul tadi, ada rasa simpati kepada wanita itu, sekelam
apa dulu kehidupannya?, mengapa Gweboon bisa mencapnya sebagai wanita monster?.
Melebihi rasa balas dendam Gweboon, Jinki harus tahu semuanya, dia harus tahu
kebenarannya, bukan hanya dari versi Gweboon dan paman Kim. Dia harus tahu juga
dari sisi Haneul dan Si Jae, atau orang-orang lainnya yang dekat dengan mereka
beberapa tahun silam.
“dia seperti orang gila di mobil?,
haha… ternyata benar perkataan tiga gadis itu”. Mengerikan, ini sama seperti
senyum licik Haneul pada saat itu, Gweboon tersenyum seperti monster?.
‘apa maksudmu, tiga gadis,
sebenarnya apa yang tidak kau ungkapkan padaku Gweboon?’
Selebihnya pertemuan mereka
membicarakan hal-hal pengalaman paman Kim selama di penjara, bagaimana para
sipir yang ada disana?, bagaimana paman Kim bisa menjadi tambah kurus. Yah,
seperti biasanya, percakapan seperti dalam lingkungan keluarga.
---The Girl and Her Book---
Detik-detik yang hening, sudah
beberapa jam terlewati, beberapa tugas yang sudah dikumpulkan ke guru, 2 jam
istirahat di waktu yang singkat yang di andalkan beberapa siswa dengan baik
untuk belajar sebelum ujiian akhir beberapa hari lagi dimulai, tapi lihat saja
satu anak adam dan satu anak hawa yang duduk di barisan paling belakang, tentu
dengan tidak mengangkat kedua bokong itu sama sekali sejak tadi, tidak beranjak
ke toilet ataupun sekedar pergi ke kantin mengisi kekosongan perut.
Keduanya hanya menatap kekosongan
lamat-lamat. Satu pelajaran lagi, tidak ada juga satu katapun yang berani
mereka keluarkan, ini menimbulkan kecurigaan untuk siswa lainnya, biasanya
Jinki adalah orang yang pecicilan terhadap Haneul, tidak ada keributan yang
dibuatnya hari ini, tidak ada suara kekesalan Haneul menghadapi pria ini seperti
biasanya.
Tetapi siapa yang berani mencelanya,
siapa yang berani mencela Jinki, setelah Ban Suyoung, cucu pemilik yayasan
sekolah ini menghilang, tidak ada lagi yang mau untuk menggangu Jinki.
Penuh sudah satu hari tidak ada
percakapan sama sekali dari mereka, kebiasaan Haneul yang membawa sepeda
merahnya kembali terlihat, kendaraan itu sudah terparkir rapi di sana. Tadi
pagi Jinki tidak menjemputnya seperti kemarin-kemarin, dia juga masih terlalu
lemah untuk berjalan kaki dari apartement ke sekolahnya, untung saja sepeda
merah itu masih berfungsi walau sudah lama tidak ia goes dan meminyaki rantainya.
Jinki terlihat menatap Haneul
diparkiran, menunggu sampai wanita itu pergi melewati gerbang sekolah, tidak
ada tawaran untuk mengantarnya seperti biasanya, sedari tadi mulutnya gatal
untuk mengatakan kata maaf ke wanita ini, tapi tidak ada keberanian sejak tadi,
tingkat emosional itu turun hingga nol persen.
Hingga pagi sudah menyambut kembali,
kemarin adalah kesalahan besar bagi Jinki, belum ada kata maaf yang
diucapkannya kepada wanita itu. Motor sport itu entah mengapa sudah mengarah ke
arah apartement Haneul, tidak terkontrol hingga sudah berada di basemant.
Dia bisa melihat dengan jelas sepeda Haneul masih terparkir rapi di sudut block
c khusus tempat parkiran sepeda. Bibir itu sedikit tertarik keatas, entah
apalagi yang tiba-tiba bisa membuatnya tersenyum, apa karena sepeda itu
ada di tempatnya?, apa karena itu Haneul
bisa kembali pergi ke sekolah bersamanya?. Pikiran pria ini sudah sedikit aneh
sejak merasa bersalah pada Haneul kemarin.
Ia tetap duduk diatas motornya,
sudah beberapa waktu terlewati tetapi Haneul juga tetap tidak tampak, kenapa
dengan Haneul?, apa dia sakit?, mengingat wajah pucat Haneul semalam ia merasa
tidak rela. Huh, apa yang sudah dilakukan Haneul pada otaknya?. Melihat pada
arlojinya, pantas saja, dia datang terlalu cepat, tidak, ini bahkan masih
subuh, tidak menyadari kalau langit dia luar sana masih gelap saat dia beranjak
dari apartementnya tadi.
Tidak bisa menunggu waktu lagi agar
lebih cepat berjalan, kaki itu sudah melangkah ke arah elevator dengan
cepat, langsung menekan lantai 7 diantara tombol lainnya. Tidak tahu perasaan
dari mana, tetapi ia ingin cepat-cepat melihat wajah Haneul, berharap tidak
pucat lagi seperti kemarin.
‘Ini hanya perasaan ingin minta maaf
cepat-cepatkan?’.
Iya, ini hanya karena dia tidak bisa
menahan rasa permohonan maafnya terlalu lama lagi, tidak ada rasa lainkan?.
Jangan sampai jatuh hati pada wanita itu, Gweboon melarangnya, bukankah dia
harus menepati janjinya. Tidak boleh ada Haneul dalam hatinya, tugasnya hanya
membuat Haneul mencintainya, masuk dalam kehidupan gadis itu dan melakukan
beberapa hal yang di suruh Gweboon.
Bukankah ini semua demi Gweboon,
gadis yang menjadi teman masa kecilnya, gadis yang sudah masuk lebih dulu ke
dalam hatinya.
Pintu itu terbuka dengan sendirinya
sebelum dia memencet bel, disana sudah berdiri Han Haneul dengan seragam
lengkapnya, kedua mata itu terbelalak, sama-sama terkejut dengan keadaan yang
tidak terprediksi.
Jinki memulainya dengan hal yang
lebih tidak terprediksi lagi, tubuh itu dengan spontan memeluk Haneul, seperti
itu, tidak ada percakapan hingga beberapa menit, kata-kata maaf yang ingin
diucapkannya tadi, hilang melayang begitu saja saat melihat wajah Haneul yang
masih pucat itu.
Merasa tangan Haneul secara perlahan
ikut menyambutnya di belakang punggungnya, pelukan itu semakin mendekap, sesaat
suara isakan Haneul menggema ke telinganya perasaan bersalah itu makin meluap.
“ma…maafkan aku Jinki”. Apa?, kenapa
malah wanita itu yang meminta maaf kepada Jinki. “maafkan aku, hiks, hiks”.
Maaf itu lagi?, ada apa dengan wanita ini. “kejadian memalukan itu, maafkan aku
atas segalanya, maaf aku meneriakimu di mobil kemarin, aku sangat malu,
memalukan”.
‘apa selembut ini perasaan wanita
monster didepanku ini?’
Semakin kuat pelukan itu, semakin
kuat pula isakan yang keluar dari mulut Haneul. Tidak ada yang berangkat ke
sekolah hari ini, seolah beberapa jam bersama adalah tanggungan atas perasaan
bersalah masing-masing, selama pelukan tadi Jinki terus mengusap-usap rambut
gadis itu hingga tangisan itu berubah menjadi dengkuran halus, ya, Haneul
tertidur.
Jinki membawa dan membaringkannya di
sofa, ada hasrat untuk menggenggam tangan itu, menemaninya selama tidur, Jinki
ikut tertidur dengan tangan masih tergenggam, Haneul yang berada di sofa dan
dia yang terduduk di lantai. Tidur yang seharusnya mereka dua dapat karena satu
sama lain, tanpa sepengetahuan mereka, tadi malam tidak ada yang bisa menutup
matanya.
---The Girl and Her Book---
To be-Continue

No comments:
Post a Comment