Tuesday, December 13, 2016

The Girl and Her Book (Part 9)


Kabar gembira untuk kita semua, TGNHB ada part barunya...
Ah sudah, Abaikan

Fanfiction The Girl and Her Book (Part 9)
Cast : Lee Jinki a.k.a Onew SHINee  
           Han Haneul (OC)
           Kim Gweboon a.k.a Straight Key SHINee
           Park Si Jae
This is romance, mysteri, school life and sadness

Dadanya naik turun, sesuai dengan kecepatannya berlari saat ini, dia bahkan melewatkan elevator untuk mencapai gedung yang paling atas, tangga dadurat berbunyi cukup keras melalui kakinya yang sedang menggunakan sepatu recis dengan tapak tebal keras, mungkin dia terlalu khawatir karena dia membuat Haneul menunggu hingga satu jam lebih di cuaca sedingin ini. Tinggal satu lantai lagi sampai ke atas. Melihat pintu yang ada didepannya seperti melihat gua rahasia dengan harta karun di dalamnya.

Pintu itu terbuka secara tiba-tiba, Si Jae melongo melihat sosok didepannya dengan keringat yang sudah mencetak di bagian tubuh depannya.

“dimana Haneul?”

“Apa?, bukankah dia sudah pulang denganmu?, setengah jam yang lalu kalau tidak salah”

“tidak!, aku baru saja datang, tadi ada urusan sedikit, tapi aku sudah memberikannya pesan, walau dia tidak membalasnya, aku tidak melihatnya dibawah, jadi aku kira dia menungguku”.

Si Jae panik, kenapa dia bisa tidak curiga sama sekali, saat pesan Haneul kunjung tidak masuk untuk mengabari bahwa dia sudah dijemput. Jinki sama paniknya, sungguh ini benar-benar kesalahannya.

“kau benar-benar tidak melihatnya dibawah?, mungkin dia menunggumu di kantin lantai 3, dia sering terlihat berada disana”.

Dua sosok laki-laki itu bergegas berlari kesana, semua orang yang dilewati hanya bisa terdiam, baru kali ini melihat atasan mereka terlihat sangat kacau, tidak perduli apa saja yang dilewatinya dan terlihat menghadang jalannya hingga sampai dikantin, maka akan merasakan disenggol bahkan bisa sampai terjatuh. Tapi, mana ada yang bisa marah padanya, ditempat wilayah kepemimpinannya.

Harapan mereka pupus saat sama sekali tidak melihat batang hidung Haneul disana, sudah berlari secepat mungkin tapi yang didapat hanya ketidak pastian. Saku menjadi satu-satunya daerah yang dituju tangannya dari semua pakaian mewah yang sekarang sedang dikenakannya. Merogoh semua yang bisa ia gapai, saku jas, kemeja dengan motif horizontal, celana kain kasual yang membentuk kakinya. Tapi, benda persegi panjang tipi situ tidak berada disana.

“Shitttt!” Si Jae mengutuk perilaku cerobohnya yang entah mengapa muncul disaat genting seperti ini. “Kau, telpon ponsel Haneul dan ikuti aku kembali keatas”.

Untuk beberapa kali panggilan itu tersambung tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa orang diseberang sana akan menjawabnya sama sekali. Yang terdengar hanyalah suara lembut operator wanita yang akan dengan otomatis menjawab panggilan setelah detik ke-30 jika panggilan itu tidak diangkat juga. Selembut apapun suara operator itu, tapi tetaplah suara Haneul yang bisa membuat Jinki berubah dari rasa kepanikannya.

“bagaimana apa belum diangkat juga?, apa kalian bertengkar?”. Si Jae mulai berasumsi yang lain-lain, sepertinya daerah dalam tubulus otaknya sedang macet, apapun yang terlintas dikepalanya langsung keluar begitu saja dimulutnya dan menjadi pertanyaan yang sama sekali tidak ada jawabannya. Dan Jinki, bagaimana mungkin dia bisa menjawab pertanyaan Si Jae yang benar-benar diluar nalarnya, apa dia bertengkar dengan Haneul?, tidak, tentu saja tidak, tidak ada hubungan yang sangat terikat dari Haneul dan Jinki hingga bisa membuat mereka bertengkar.

“aghh, dimana kuletakkan ponselku tadi,…. Ini dia”. Sebuah ponsel sama berharganya dengan peti harta karun Flying Deucthman disaat genting sekarang.

“apa kau punya cara lain untuk menghubunginya?, aku hanya mengetahui nomor ponselnya Si Jae”.

“ya, aku menghubungkan GPS nya langsung pada ponselku, aku harap ponselnya dalam keadaan hidup.”

‘Haneul berumur cukup dewasa untuk diawasi sedetail ini, sebenarnya apa yang coba kau lindungi Si Jae?’

Sebuah titik merah sedang berjalan cepat pada jalur satu arah menuju pantai Eurwangni, berbelok saat mendekati bibir pantai dan mulai berjalan lagi tetapi lebih pelan kemudian berhenti. Titik itu menandakan dimana keberadaan Haneul sekarang. Dua pasang mata itu mengamati terus hingga mereka sadar, apa yang dilakukan Haneul disana?. Mengapa Haneul mendekati pantai sedangkan ia benci akan hal itu, atau lebih tepatnya takut terhadap air yang tergenang cukup banyak.

“ada yang tidak beres dengannya, kau ingin ikut bersamaku?”, Si Jae mengambil kunci motornya dan turun dengan tergesa-gesa.

“ya aku juga akan kesana”.

Tiba-tiba saja ponsel Jinki berdering, nama Gweboon tertera dilayarnya, Jinki menjawab telpon itu sambil berlari kelantai bawah, isi dari percakapannya adalah tentang Gweboon yang meminta tumpangan pada Jinki untuk menjenguk ayahnya. Tanpa berpikir apapun Jinki mengiyakan kebisaannya untuk mengantar Gweboon dan pamit kepada Si Jae.

Sudah beberapa orang yang mengumpatnya karena ia mengendarai motornya secara ugal-ugalan di jalan, menerobos semua lampu merah dan menyalip sisi mobil ataupun sepeda motor lainnya. Si Jae begitu panik, ia terus menguhungi Haneul tapi setelah beberapa menit panggilan tersambung dia hanya bisa mendengar suara operator di sana.

Satu simpang lagi ia akan memarkirkan motornya tepat dibibir pantai, pantai tampak lenggang dari pengunjung. Ini memudahkannya mencari keberadaan Haneul, tapi anehnya, Haneul benar-benar tidak ada disana, melihat lagi GPSnya yang tersambung keponsel Haneul, titik merah itu masih menunjukkan lokasi yang sama.

Hingga satu pandangannya terarah ke depan dermaga kecil dipinggir kanan pantai, disana terdapat 4 wanita, mereka terlalu kecil untuk dilihat dari jarak pandangnya, jadi Si Jae mendekatinya secara perlahan dan melihat bahwa salah satu dari mereka adalah Haneul yang sedang dipegangi kedua tangannya dan terus diseret hingga keujung dermaga, Si Jae yang menyadari itu bertindak dengan cepat berlari kearah sana, tapi tempat itu masih cukup jauh dari tempat kakinya berpijak, belum sampai kesana, Haneul sudah diceburkan mereka kedalam air dalam keadaan terikat tangan dan kaki bahkan mulut yang di sumpal dengan sebuah sapu tangan, dalam keadaan tak terikat saja Haenul tidak bisa berbuat apa-apa jika di dalam air, apalagi dengan semua kondisinya seperti batu sekarang. Kemudian ketiga wanita itu langsung pergi dan masuk kedalam mobilnya, menginjak gas dengan cepat dan pergi menghilang.

Tanpa pikir panjang setelah sampai diujung dermaga Si Jae lansung lompat ke air, mencari keberadaan Haenul didalamnya, ombak yang kecil memudahkannya saat ini, sudah cukup dalam dan dia berhasil menemukan Haneul di sana yang mematung dengan mata terbuka, ditariknya Haneul sekuat tenaga keatas, berenang ketepi dan akhirnya sampai di bibir pantai, Haneul sudah tak sadarkan diri dan Si Jae mendekatkan telinganya kedada Haneul. Masih berdetak dan masih bernafas.

Haneul pasti menghirup air terlalu banyak keparu-parunya, terhitung Haneul tecebur selama hampir lebih lima menit, dan dia masih bisa bernafas, ini benar-benar melegakan. Si Jae mengambil nafas panjang kemudian mendekatkan bibirnya ke mulut Haneul untuk memberi napas buatan. Tidak terjadi apapun, kemudian dia menekan-nekan terus dada Haneul, berusaha untuk mengeluarkan air yang melingkupi paru-paru Haneul saat ini dan akhirnya itu berhasil.

Dengan terburu-buru Si Jae menelpon ambulance untuk membawa Haneul kerumah sakit, jika Haneul tersadar mungkin dia akan membunuh Si Jae karena memasukkannya kedalam mobil ambulance, tapi sekarang Haneul sedang tidak sadarkan diri, Si Jae begitu khawatir, bahkan dia meninggalkan sepeda motornya di pinggir pantai dan ikut naik kedalam ambulance, selama perjalanan dia terus memengangi tangan Haneul dan sedikit mencuri kesempatan untuk mengecup tangan itu beberapa kali. Menyalurkan rasa hangatnya ketubuh dingin Haneul yang basah kuyup.

---The Girl and Her Book---

Jinki terkejut saat dia membuka pintu ruangan rawat Haneul dan mendapati sosok diatas tempat tidur itu sudah membuka matanya. Dengan cepat dia menaruh nampan bubur ke atas nakas dan mengambil duduk disebelah ranjang rawat inap Haneul.

“kau tidak apa-apa?, kau butuh minum”

Haneul hanya diam, dia terus  memperhatikan wajah Jinki.

“apa kau yang menyelamatkanku?”
\
“tidak, Si Jae lah yang menyelamatkanmu, tadi, pagi-pagi sekali dia menelponku untuk menjagamu karena ada beberapa urusan penting di kantor agensi, jadi sebenarnya apa yang terjadi denganmu?”

“aku haus bisa kau ambilkan minum itu?”

Mana mungkin Haneul menceritakan bahwa, dia mendapatkan balas dendam dari musuh-musuhnya yang sudah dia jatuhkan dulu, mana mungkin dia berani menceritakan masa kelamnya, masa buruknya, masa dimana dia tengah berada di ujung lubang hitam kepada seseorang yang sekarang membuat masa hidupnya lebih bersinar, lebih penuh warna dan lebih menyenangkan.

Air mineral itu telah masuk ke kerongkongan Haneul setengahnya dipandanginya kembali Jinki yang sedang mencampurkan minyak wijen dalam bubur yang dia bawa tadi. Mengambil satu sendok penuh menyuguhkannya ke mulut Haneul.

Perlahan tapi pasti mulut Haneul terbuka menyambut suap demi suap yang disuguhkan tangan Jinki. Ini suasana baru, cara baru dalam hidupnya mendapatkan kebahagian, Haneul menemukan sosok yang dapat dipercayanya, setelah Si Jae. Bahkan kehadiran Jinki lebih berpengaruh kuat dari pada Si Jae.

Hingga suapan terakhir baru saja selesai beberapa detik yang lalu, Jinki mengulang pertanyaannya kembali.

“kenapa kau bisa sampai seperti ini?, apa sebenarnya yang terjadi denganmu?”

“itu…, aku juga lupa kenapa aku bisa berakhir dirumah sakit, kau bisa menanyakannya langsung ke Si Jae”. Kilah Haneul.


‘Kau menyembunyikan satu hal lagi Haneul’.

---The Girl and Her Book---

To be-Continue

No comments:

Post a Comment