Kabar gembira untuk kita semua, TGNHB ada part barunya...
Ah sudah, Abaikan
Fanfiction The Girl and Her Book (Part 9)
Cast : Lee Jinki a.k.a Onew SHINee
Han Haneul (OC)
Kim Gweboon a.k.a Straight Key SHINee
Park Si Jae
This is romance, mysteri, school life and sadness
Dadanya naik turun, sesuai dengan
kecepatannya berlari saat ini, dia bahkan melewatkan elevator untuk mencapai
gedung yang paling atas, tangga dadurat berbunyi cukup keras melalui kakinya
yang sedang menggunakan sepatu recis dengan tapak tebal keras, mungkin dia
terlalu khawatir karena dia membuat Haneul menunggu hingga satu jam lebih di
cuaca sedingin ini. Tinggal satu lantai lagi sampai ke atas. Melihat pintu yang
ada didepannya seperti melihat gua rahasia dengan harta karun di dalamnya.
Pintu itu terbuka secara tiba-tiba,
Si Jae melongo melihat sosok didepannya dengan keringat yang sudah mencetak di
bagian tubuh depannya.
“dimana Haneul?”
“Apa?, bukankah dia sudah pulang
denganmu?, setengah jam yang lalu kalau tidak salah”
“tidak!, aku baru saja datang, tadi
ada urusan sedikit, tapi aku sudah memberikannya pesan, walau dia tidak
membalasnya, aku tidak melihatnya dibawah, jadi aku kira dia menungguku”.
Si Jae panik, kenapa dia bisa tidak
curiga sama sekali, saat pesan Haneul kunjung tidak masuk untuk mengabari bahwa
dia sudah dijemput. Jinki sama paniknya, sungguh ini benar-benar kesalahannya.
“kau benar-benar tidak melihatnya
dibawah?, mungkin dia menunggumu di kantin lantai 3, dia sering terlihat berada
disana”.
Dua sosok laki-laki itu bergegas
berlari kesana, semua orang yang dilewati hanya bisa terdiam, baru kali ini
melihat atasan mereka terlihat sangat kacau, tidak perduli apa saja yang
dilewatinya dan terlihat menghadang jalannya hingga sampai dikantin, maka akan
merasakan disenggol bahkan bisa sampai terjatuh. Tapi, mana ada yang bisa marah
padanya, ditempat wilayah kepemimpinannya.
Harapan mereka pupus saat sama
sekali tidak melihat batang hidung Haneul disana, sudah berlari secepat mungkin
tapi yang didapat hanya ketidak pastian. Saku menjadi satu-satunya daerah yang
dituju tangannya dari semua pakaian mewah yang sekarang sedang dikenakannya.
Merogoh semua yang bisa ia gapai, saku jas, kemeja dengan motif horizontal,
celana kain kasual yang membentuk kakinya. Tapi, benda persegi panjang tipi
situ tidak berada disana.
“Shitttt!” Si Jae mengutuk perilaku
cerobohnya yang entah mengapa muncul disaat genting seperti ini. “Kau, telpon
ponsel Haneul dan ikuti aku kembali keatas”.
Untuk beberapa kali panggilan itu
tersambung tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa orang diseberang sana akan
menjawabnya sama sekali. Yang terdengar hanyalah suara lembut operator wanita
yang akan dengan otomatis menjawab panggilan setelah detik ke-30 jika panggilan
itu tidak diangkat juga. Selembut apapun suara operator itu, tapi tetaplah
suara Haneul yang bisa membuat Jinki berubah dari rasa kepanikannya.
“bagaimana apa belum diangkat juga?,
apa kalian bertengkar?”. Si Jae mulai berasumsi yang lain-lain, sepertinya
daerah dalam tubulus otaknya sedang macet, apapun yang terlintas dikepalanya
langsung keluar begitu saja dimulutnya dan menjadi pertanyaan yang sama sekali
tidak ada jawabannya. Dan Jinki, bagaimana mungkin dia bisa menjawab pertanyaan
Si Jae yang benar-benar diluar nalarnya, apa dia bertengkar dengan Haneul?,
tidak, tentu saja tidak, tidak ada hubungan yang sangat terikat dari Haneul dan
Jinki hingga bisa membuat mereka bertengkar.
“aghh, dimana kuletakkan ponselku
tadi,…. Ini dia”. Sebuah ponsel sama berharganya dengan peti harta karun Flying
Deucthman disaat genting sekarang.
“apa kau punya cara lain untuk
menghubunginya?, aku hanya mengetahui nomor ponselnya Si Jae”.
“ya, aku menghubungkan GPS nya
langsung pada ponselku, aku harap ponselnya dalam keadaan hidup.”
‘Haneul berumur cukup dewasa untuk
diawasi sedetail ini, sebenarnya apa yang coba kau lindungi Si Jae?’
Sebuah titik merah sedang berjalan
cepat pada jalur satu arah menuju pantai Eurwangni, berbelok saat mendekati
bibir pantai dan mulai berjalan lagi tetapi lebih pelan kemudian berhenti.
Titik itu menandakan dimana keberadaan Haneul sekarang. Dua pasang mata itu
mengamati terus hingga mereka sadar, apa yang dilakukan Haneul disana?. Mengapa
Haneul mendekati pantai sedangkan ia benci akan hal itu, atau lebih tepatnya
takut terhadap air yang tergenang cukup banyak.
“ada yang tidak beres dengannya, kau
ingin ikut bersamaku?”, Si Jae mengambil kunci motornya dan turun dengan
tergesa-gesa.
“ya aku juga akan kesana”.
Tiba-tiba saja ponsel Jinki
berdering, nama Gweboon tertera dilayarnya, Jinki menjawab telpon itu sambil
berlari kelantai bawah, isi dari percakapannya adalah tentang Gweboon yang
meminta tumpangan pada Jinki untuk menjenguk ayahnya. Tanpa berpikir apapun
Jinki mengiyakan kebisaannya untuk mengantar Gweboon dan pamit kepada Si Jae.
Sudah beberapa orang yang
mengumpatnya karena ia mengendarai motornya secara ugal-ugalan di jalan,
menerobos semua lampu merah dan menyalip sisi mobil ataupun sepeda motor
lainnya. Si Jae begitu panik, ia terus menguhungi Haneul tapi setelah beberapa
menit panggilan tersambung dia hanya bisa mendengar suara operator di sana.
Satu simpang lagi ia akan
memarkirkan motornya tepat dibibir pantai, pantai tampak lenggang dari
pengunjung. Ini memudahkannya mencari keberadaan Haneul, tapi anehnya, Haneul
benar-benar tidak ada disana, melihat lagi GPSnya yang tersambung keponsel
Haneul, titik merah itu masih menunjukkan lokasi yang sama.
Hingga satu pandangannya terarah ke
depan dermaga kecil dipinggir kanan pantai, disana terdapat 4 wanita, mereka
terlalu kecil untuk dilihat dari jarak pandangnya, jadi Si Jae mendekatinya
secara perlahan dan melihat bahwa salah satu dari mereka adalah Haneul yang
sedang dipegangi kedua tangannya dan terus diseret hingga keujung dermaga, Si
Jae yang menyadari itu bertindak dengan cepat berlari kearah sana, tapi tempat
itu masih cukup jauh dari tempat kakinya berpijak, belum sampai kesana, Haneul
sudah diceburkan mereka kedalam air dalam keadaan terikat tangan dan kaki
bahkan mulut yang di sumpal dengan sebuah sapu tangan, dalam keadaan tak
terikat saja Haenul tidak bisa berbuat apa-apa jika di dalam air, apalagi
dengan semua kondisinya seperti batu sekarang. Kemudian ketiga wanita itu
langsung pergi dan masuk kedalam mobilnya, menginjak gas dengan cepat dan pergi
menghilang.
Tanpa pikir panjang setelah sampai
diujung dermaga Si Jae lansung lompat ke air, mencari keberadaan Haenul
didalamnya, ombak yang kecil memudahkannya saat ini, sudah cukup dalam dan dia
berhasil menemukan Haneul di sana yang mematung dengan mata terbuka, ditariknya
Haneul sekuat tenaga keatas, berenang ketepi dan akhirnya sampai di bibir
pantai, Haneul sudah tak sadarkan diri dan Si Jae mendekatkan telinganya kedada
Haneul. Masih berdetak dan masih bernafas.
Haneul pasti menghirup air terlalu
banyak keparu-parunya, terhitung Haneul tecebur selama hampir lebih lima menit,
dan dia masih bisa bernafas, ini benar-benar melegakan. Si Jae mengambil nafas
panjang kemudian mendekatkan bibirnya ke mulut Haneul untuk memberi napas
buatan. Tidak terjadi apapun, kemudian dia menekan-nekan terus dada Haneul,
berusaha untuk mengeluarkan air yang melingkupi paru-paru Haneul saat ini dan
akhirnya itu berhasil.
Dengan terburu-buru Si Jae menelpon
ambulance untuk membawa Haneul kerumah sakit, jika Haneul tersadar mungkin dia
akan membunuh Si Jae karena memasukkannya kedalam mobil ambulance, tapi
sekarang Haneul sedang tidak sadarkan diri, Si Jae begitu khawatir, bahkan dia
meninggalkan sepeda motornya di pinggir pantai dan ikut naik kedalam ambulance,
selama perjalanan dia terus memengangi tangan Haneul dan sedikit mencuri
kesempatan untuk mengecup tangan itu beberapa kali. Menyalurkan rasa hangatnya
ketubuh dingin Haneul yang basah kuyup.
---The Girl and Her Book---
Jinki terkejut saat dia membuka
pintu ruangan rawat Haneul dan mendapati sosok diatas tempat tidur itu sudah
membuka matanya. Dengan cepat dia menaruh nampan bubur ke atas nakas dan
mengambil duduk disebelah ranjang rawat inap Haneul.
“kau tidak apa-apa?, kau butuh
minum”
Haneul hanya diam, dia terus memperhatikan wajah Jinki.
“apa kau yang menyelamatkanku?”
\
“tidak, Si Jae lah yang
menyelamatkanmu, tadi, pagi-pagi sekali dia menelponku untuk menjagamu karena
ada beberapa urusan penting di kantor agensi, jadi sebenarnya apa yang terjadi
denganmu?”
“aku haus bisa kau ambilkan minum
itu?”
Mana mungkin Haneul menceritakan
bahwa, dia mendapatkan balas dendam dari musuh-musuhnya yang sudah dia jatuhkan
dulu, mana mungkin dia berani menceritakan masa kelamnya, masa buruknya, masa
dimana dia tengah berada di ujung lubang hitam kepada seseorang yang sekarang
membuat masa hidupnya lebih bersinar, lebih penuh warna dan lebih menyenangkan.
Air mineral itu telah masuk ke
kerongkongan Haneul setengahnya dipandanginya kembali Jinki yang sedang mencampurkan
minyak wijen dalam bubur yang dia bawa tadi. Mengambil satu sendok penuh
menyuguhkannya ke mulut Haneul.
Perlahan tapi pasti mulut Haneul
terbuka menyambut suap demi suap yang disuguhkan tangan Jinki. Ini suasana
baru, cara baru dalam hidupnya mendapatkan kebahagian, Haneul menemukan sosok
yang dapat dipercayanya, setelah Si Jae. Bahkan kehadiran Jinki lebih
berpengaruh kuat dari pada Si Jae.
Hingga suapan terakhir baru saja
selesai beberapa detik yang lalu, Jinki mengulang pertanyaannya kembali.
“kenapa kau bisa sampai seperti
ini?, apa sebenarnya yang terjadi denganmu?”
“itu…, aku juga lupa kenapa aku bisa
berakhir dirumah sakit, kau bisa menanyakannya langsung ke Si Jae”. Kilah
Haneul.
‘Kau menyembunyikan satu hal lagi
Haneul’.
---The Girl and Her Book---
To be-Continue

No comments:
Post a Comment