"Aku sudah terlalu sering dibeginikan, merasa bersalah di tengah krisis kesalahpahaman. Jika terus begini, harus bagaimana aku?"
Hai pena, maaf menggantikan mu dengan tombol-tombol keyboard.
Hai kertas maaf menolak dirimu untuk aku isi dengan tulisan.
Aku tidak melupakan kalian, aku juga tidak akan menjadikan kalian barang bekas. Karena, semua yang ada disini, dimulai dengan adanya kalian.
Langit terang yang terik jauh dari biasanya, matahari yang belum enggan untuk tergelincir, di hari menyebalkan yang selalu menjadi kutukan. Aku menulis kekesalanku...
***
Terus saja kepikiran, sedari tadi, sebelum aku bisa duduk di kelas ini, sebelum aku bisa sampai dengan tepat waktu, dan akhirnya aku tetap terlambat juga. Di tengah ujian yang sedang berlangsung, aku duduk terdepan diantara murid yang paling depan.
Pikiranku bercampur aduk, ujian bahkan baru kuhiraukan di menit-menit pertengahan, tugas-tugas bahkan baru bisa kuselesaikan setelah sholat subuh tadi. Padahal aku tidak menggunakan waktu efektifku tadi malam. Yang aku tahu, aku hanya merasa bersalah pada seseorang, tidak tahu karena apa. Bahkan aku tidak tahu itu karena diriku atau yang lainnya.
Harus aku akui, dirinya sedikit belum dewasa, begitu juga dengan diriku, jika marah kepada satu orang, semua akan tekena bencananya. Nah, ini nih yang sedang terjadi sekarang. Harus ku akui juga aku sedikit melankolis, jangankan di bentak begini. Di diamkan saja bisa buat aku menangis.
Tapi kali ini, berkat keramaian ini. Aku, berusaha untuk tidak membuat semua orang khawatir dengan air mataku. Aku berhasil menyembunyikan genangan kesedihan itu, aku berhasil.
Ku mohon, jangan seperti ini, untuk beberapa saat aku pikir semua ini masih bisa dibicarakan baik-baik, aku pikir semua ini hanya batasan kesalahan kecil, jauh lebih kecil dari masalah-masalah sebelumnya. Aku tidak tahu apa tepatnya yang menyinggungmu, aku tidak tahu apa yang sepertinya telah menggores tajam di benakmu. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa, tapi merasa bersalah luar biasa. Seperti beban kemarahanmu bertumpu di satu titik pundak kecilku.
Terlebih... Mungkin saat itu tidak ada yang memperhatikan, semua sibuk dengan pembahasan apa yang mereka jawab di kertas ujian tadi. Disaat itu, disaat keramaian memuncak menjadi kericuhan. Aku berinisiatif mengambil langkah takut-takut mengarah padamu, dengan iming-iming harapan, ah, mungkin itu hanya kemarahan sesaatmu, ambekan-ambekan kecil seperti yang lama-lama.
Aku tahu, kamu sedikit menghindar, mengalihkan pandangan jauh dari diriku, padahal aku sudah cukup dekat. Kamu seperti sibuk sendiri, diasaat itu aku lebih berani lagi, kupanggil namamu keras-keras seperti tidak terjadi apa-apa, seperti kita biasanya, jadi semua jangan sampai ada yang curiga bahwa kita sedang dalam masalah. Namun, tidak ada balasan apa-apa dari mu, matamu terus celingukan sana-sini, berasa sok sibuk dan tidak mendengar.
Jadi, aku putuskan menarik sedikit ujung untaian baju yang kamu gunakan dan akhirnya aku mendapatkan wajah itu, tapi hanya sesaat kamu memalingkannya lagi.
Jadi, kupikir aku harus lebih berani. Ku genggam sejumput kain lengan bajumu, kutarik sedikit memaksa, kamu menoleh dan aku mengeluarkan apa yang menyendat sedari tadi di ujung lidahku "We need to talk!" Aku kira ini akan berhasil. Sudah terbayang di kepalaku kalau aku akan menarikmu keluar dari keramaian dan kita bisa bicarakan masalah yang dari awal sebenarnya tidak kumengerti lurus-lurus.
Tapi, yang aku dapatkan hanya bentakan dari mulutmu, tanganmu yang menepis tanganku kasar sampai genggaman kuat tanganku di kain lengan bajumu tadi terlepas dengan cepat. Dan akhirnya kamu berpaling lagi, sok sibuk lagi.
Aku yang tidak percaya mendapatkan reaksi sekasar itu darimu, bahkan kemarahanmu yang dulu tidak pernah menjadikanmu sekasar itu. kamu hanya sekedar diam dan tetap ramah padaku dulu, ya dulu kamu masih seperti itu. aku yang tidak percaya akan semua yang baru terjadi tadi, hanya bisa manatapmu nanar, menatapmu yang sok sibuk lagi, dan akhirnya kamu pergi tanpa menoleh sedikitpun.
Disitu, aku seperti kembali ditarik secara paksa dalam keramaian, baru mengingat bahwa kami berada ditengah tukang-tukang gosip liar, menarik pandangan memutar dan menghembuskan napas lega, sepertinya tidak ada yang memperhatikan keanehan yang terjadi di antara kita barusan.
Tunggu, ini seperti adegan kacangan di televisi. adegan yang sering aku tertawakan dan bilang "mana ada yang kayak gitu di kehidupan nyata!" Aku, seperti termakan tertawaanku sendiri. Tunggu juga, lagipula siapa kita?, kita bahkan tidak berhubungan. Ini bukan adegan dimana si cewek diputuskan secara sepihak. Bukan seperti itu, tapi kenapa ini menjadi sangat rumit.
Kamu, mungkin saja bisa tahu. Yang aku harap hanya mohon jangan ditertawakan. Satu hal lagi, aku mohon jangan marah terlalu lama, karena sejumput kecil daging di dalam sini, berteriak menahan pilu. Aku hanya tidak suka menanggung kesalahan, karena aku akan selalu memikirkan kesalahan itu berulang-ulang. Walaupun sebenarnya itu bukan aku yang buat. Aku hanya terbiasa bercanda tawa denganmu, bukan malah diam-diaman membisu waktu.
Tapi, jika kamu memang benar-benar tidak bisa lagi kembali, kita tidak bisa lagi tertawa berbarengan, kita tidak bisa lagi jalan-jalan bersama. Bukan, bukan tidak bisa, tapi sepertinya kamu yang tidak mau.
Aku terima... Semua orang punya keputusan masing-masing. Jadi, jika tidak bisa diteruskan seperti biasa. Sepertinya, ini waktu yang tepat untuk aku mengatakan "terima kasih". Terima kasih sudah mengisi daftar nama di salah satu absensi hidupku. Terima kasih banyak.
Yang perlu kamu ketahui...
"Sesuatu yang pernah mampir lama, tidak akan semudah itu pergi dengan cepat."
😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢
ReplyDelete