Kami para three idiot, aku, Tuan 'D' dan Tuan 'R' selalu mengambil posisi di belakang three musketeers di kelas, lengkap sudah seperti pemandangan kumuh yang berdiri disamping perumahan elit.
Tuan 'D' adalah pengambil ahli keadaan kelas, berbadan gelap serta boncel, dia sebenarnya tidak bodoh hanya saja dia mempunyai jadwal yang sangat padat sehingga jarang memasuki perkuliahan, jadilah dia kadang bingung dengan pelajaran itu sendiri.
Sedangkan Tuan 'R' dia adalah seorang pekerja keras, mempunyai kerja sampingan sebagai penjaga rental PS dan warnet membuat dia harus menunda tidurnya hingga jam-jam ayam sudah berkuku ruyuk, aku selalu salut dengan usahanya yang menafkahi diri sendiri untuk kuliahnya, tidak sepertiku yang hanya bisa meminta dari orang tua, tapi itu dia, karena mendapatkan jatah tidur yang kurang, maka Tuan 'R' sering tertidur di kelas, untungnya teman-teman semua pada memaklumi.
Hanya ada 5 pria dikelas, selebihnya berbagai wanita dengan berbagai-bagai rupa. Jika di hitung, pria pertama yang aku ceritakan adalah Tuan 'I' si pendatang baru dikelas, kemudian Tuan 'D' dan 'R' dan tentunya aku, jika dijumlahkan aku sudah menceritakan 4 pria, dan pria yang terakhir biasa aku sebut dengan Tuan 'A'. Merantau cukup jauh untuk mengenyam pendidikan, dia berasal dari nagari si Malin Kundang, ya Sumatera Barat, melewati satu provinsi dari kota tempat kami berkuliah, Kota Medan. Aku tidak terlalu mengenalnya, tetapi satu hal yang tidak terlepas darinya yaitu angkuh dan sedikit kikir untuk beberapa hal.
Sekarang waktunya Aljabar, suatu mata kuliah yang bisa buat otakku terguncang, disamping bangku ku terlihat Tuan 'R' yang sudah mengantuk berat dan disamping kananku hanya ada bangku kosong yang biasanya ditempati Tuan 'D', sepertinya dia tidak datang lagi hari ini.
Mampuslah kami, pasalnya Tuan 'D' adalah satu satunya acuan untuk kami bisa terus mengerti pelajaran, tetapi dia malah tidak menampakkan batang hidungnya. Dan lebih parahnya dosen cantik yang ada di depan terlalu menaruh perhatian lebih kepada Tuan 'R' karena tampang mengantuknya itu.
Oke, mungkin sekarang waktunya untuk menyapa Nona 'N' dan meminta bantuannya, tetapi aku tetap belum berani buat bertindak. Tanpa melakukan apapun tiba-tiba saja Nona 'N' membalikkan badan ke belakang, menaruh pandangan ke arah Tuan 'R'.
"Ngerti nggak?" Dia menjelaskan cukup panjang kepada Tuan 'R' dan kami berdua hanya mengangguk-angguk secara bersamaan, tidak tahu dengan Tuan 'R', tapi kalau aku sama sekali tidak mengerti. Selama dia menjelaskan aku hanya memandangi wajahnya yang selalu dihiasi dengan selingan senyuman, aku melihat sedikit ketidak nyamanan disana, dia seperti wanita lugu yang jarang sekali mengobrol dengan seorang pria.
Ya, dia malu... Terlihat sangat jelas.
Sedangkan Tuan 'R' sedang serius memperhatikan bukunya yang sudah di corat-coret dengan macam-macam penjelasan dari Nona 'N'. Aku yakin dia juga pasti tidak mengerti sama sepertiku, ya pasalnya baru kali ini ada seorang wanita yang dengan tulus mengajarkan kami, tanpa diminta sebelumnya.
"Oke udah ngerti kan". Dia mengakhiri penjelasannya dengan senyuman penutup. "Kalo kamu Tuan 'A', ngeti nggak?" Siapa?, dia berbicara denganku atau Tuan 'A'. Padahal Tuan 'A' sedang jauh mengambil tempat duduk di depan. Mungkin dia masih belum mengenali aku, dan salah menyebutkan, pasalnya dia berbicara sambil menghadapku, bukan Tuan 'A'.
"Salah, aku bukan Tuan 'A', dia disana, di depan" Aku menunjuk lelaki yang sedang memakai kemeja biru dongker kotak-kotak di depan sebelah kanan.
"Ah, aku belum bisa bedain wajah kalian. Oke, yang didepan itu Tuan 'A' dan kau adalah...?" Hahaha seterkucilkannya aku di kelas, bahkan dia saja bisa mengingat si tukang tidur di kelas, masa denganku tidak bisa ingat?.
"Aku, aku adalah '3', kau bisa panggil aku itu".
(Apa Nona 'N' bisa mengingat aku?)

No comments:
Post a Comment