sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang bercetak plus di bold itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA
---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION
Part 5
---The Girl and Her Book---
“huh kemana anak aneh itu?, sudah
beruntung ku undang tapi tidak datang juga”. Suyoung mengeluh atas
keterlambatan Haneul.
Dari sisi jauh terlihat seorang
wanita dengan pakaian serba hitamnya menggunakan tas ransel lumayan besar yang
tersangkut di bahunya, berjalan dengan santainya seperti tidak ada masalah sama
sekali, padahal dialah yang di tunggu sedari tadi.
“kalian, masih mau diam disana?,
informasi keberangkatan pesawat penerbangan Jeju sudah memanggil!”. Haneul
melewati kerumunan wanita yang sedang menatapnya geram. Jinki mengikutinya dari
belakang.
“kalau saja Jinki mau menaiki
pesawat tanpa Haneul, sudah kutinggalkan wanita aneh ini sedari tadi”. Rutuk
Suyoung kepada teman-temannya dengan nada sedikit pelan.
Pesawat segera lepas landas, dan
rombongan Suyoung baru saja memasukinya, mencari-cari kursi penumpang atas nama
mereka masing-masing. Tentu saja Suyoung menyiapkan kursi Jinki tepat
disampingnya. Tapi wanita ini memang sedikit membuat kesalahan, kursinya terletak
di deret tengah, yang setiap satu barisnya menyediakan tiga kursi penumpang. Di
sudut kiri adalah tempat duduknya Suyoung, di tengah Jinki dan paling kanan
ternyata diduduki oleh orang yang salah, dan orang yang duduk di situ juga
merasa sial.
Benar saja, baru saja Haneul
menemukan tempat duduknya dan kenapa harus disamping Jinki? Atau lebih parahnya
ditambah dengan kehadiran Suyoung disamping Jinki. Cukup untuk membuat dirinya
risih.
“ah senangnya aku bisa duduk
disampingmu Jinki” Suyoung sangat gembira, jelas saja ini terjadi, Suyoung kan
sudah mengaturnya.
“kau lagi, kenapa aku harus
disampingmu.” Dan yang satu ini adalah suara Haneul.
Kedua wanita disampingnya ini
sama-sama cantik, sama-sama pintar, tapi kenapa tidak bisa sama-sama
menyenangkan. Suyoung dengan sikap manis dan bahkan terlalu manis hingga Jinki
merasa risih dan Haneul dengan pandangan sinisnya dan juga wajah yang datar
sehingga membuat Jinki geram. Tidak adakah yang bisa bersikap biasa-biasa saja
layaknya seorang teman begitu?
---The Girl and Her Book---
Langit malam Jeju sudah menyapa
Suyoung dengan teman-temannya. Sekarang ini mereka sedang menunggu bagasi
mereka keluar. Wanita-wanita centil itu, sebenarnya apa yang mereka bawa hanya
untuk satu malam saja?, mengapa begitu banyak?.
Jinki terus tidak sabaran untuk
menantikan proses itu selesai, matanya terus memutar kearah kanan dan kiri,
mencari sosok Haneul yang sudah tidak terlihat semenjak mereka turun tadi.
Karena Haneul hanya membawa sebuah ransel, dia jadi tidak perlu menunggu seperti
yang lainnya. Baru kali ini lelaki ini bisa kehilangan jejak Haneul.
“Suyoung, kemana Haneul?” Tanya
Jinki.
“ough, wanita itu, tadi katanya dia
akan berkeliling dulu, dia akan langsung ke resort sendiri.” Jawab
Haneul enteng.
‘Apa lagi yang sedang kau rencanakan
Haneul?’
Sendirian di depan halaman resort,
dia sampai duluan karena memang dia yang paling awal meninggalkan lokasi
bandara. Haneul menyukai tempat ini, gelombang pantai yang sedikit naik
memanjakan matanya dan juga semilir angin yang berhasil menerbangkan helai-perhelai
rambut Haneul mampu membuat dirinya tenang. Ini baru yang namanya hidup.
Posisi resort tepat berada di
atas tebing yang hanya berjarak sekitar lima meter saja dengan permukaan air
pantai, terlebih kolam berenangnya yang –dibatasi oleh kaca bening tebal-seperti
langsung tersambung ke pantai, sungguh pemandangan yang memanjakan mata, walau
gelap, layar yang terkembang didepan matanya itu sungguh tampak menakjubkan,
mungkin jika siang hari akan terlihat lebih indah, pikirnya.
Ternyata Suyoung memang benar-benar
mewarisi kekayaan yang luar biasa, membuat Haneul semakin berkeinginan kuat
untuk menjatuhkan wanita yang satu itu.
Akhirnya rombongan Suyoung datang
juga, mobil tur yang memang disediakan sebagai fasilitas resort
mengantar rombongan itu tepat kehadapan Haneul.
‘Mobil memang sangat lambat.’
FLASHBACK ON
Haneul langsung bergerak cepat
setelah pesawat mendarat, langsung memberitahu Suyoung bahwa ia akan pergi ke resort
sendiri. Tentu saja Suyoung sangat mengijinkan itu, ia sudah sangat bosan
melihat Jinki yang terus menempel pada Haneul saat di pesawat tadi.
“yobosseo, tuan Park dimana
kau?”.
“parkiran timur, pergilah kesana kau
akan langsung melihatku.”
Terlihat sepeda motor terpajang
satu-satunya didaerah parkir itu dengan tuan Park yang berdiri di sampingnya.
Jelas itu salah satu barang pesanan Haneul, yang wajib ada jika ia akan pergi
kemanapun.
“kau yakin akan menggunakan ini ke resort?”
Tanya tuan park cemas.
“Jeju, Seoul dimanapun itu aku tetap
akan mengendarainya.” Bentak Haneul pada sekertaris kepercayaannya itu.
“bukan itu maksudku, kau tidak ingin
naik mobil bersamaku?”. Tuan park memberikan pertanyaan yang paling dibenci
Haneul.
“kau ingin membuatku mati.” Jawab
Haneul dengan tatapan tajamnya.
“sungguh tidak, aku hanya…..”
Haneul benar-benar tidak sabar
dengan pria yang satu ini, ini yang paling malas jika sudah bertemu dengan Park
Si Jae, pria ini jika di telpon mereka sangat meminimalisir percakapan layaknya
atasan dan bawahan, tetapi jika sudah bertemu pria ini selalu mengoceh, mencoba
mengaturnya dan sangat bawel.
Ucapan Si Jae terpotong begitu saja.
Haneul menyodorkan tangannya, seraya meminta.
“kunci, surat kendaraan berikan
padaku sekarang.” Potong Haneul yang terlihat sudah tidak sabar. Setelah mendapatkannya,
Haneul langsung tancap gas meninggalkan tuan Park yang terlihat semakin
mengecil jika dilihat dari kaca spion motor Haneul.
Padahal pria yang satu ini masih
ingin mengomel lebih panjang pada Haneul. Setidaknya dia ingin lebih banyak
waktu bersama Haneul, bukan dengan ponsel yang terus-menerus mengeluarkan suara
Haneul dari dalamnya, dan menyuruhnya melakukan tugas ini, itu.
FLASHBACK OFF
Pesta akan di mulai besok sore,
beberapa orang sedang beristirahat di kamarnya masing-masing, dan beberapa lainnya
memilih untuk berjalan-jalan, mengitari resort yang terbilang cukup
luas.
Haneul mencoba untuk mengistirahatan
tubuhnya di salah satu kamar di resort itu. Dia sudah cukup menikmati
pemandangan tadi saat menunggu rombongan kelasnya sampai. Ponsel yang selalu
diletakkannya di samping bantalnya tiba-tiba berbunyi. Ada satu pesan yang
masuk dan Haneul sama sekali tidak mengetahui nomor siapa itu.
To Haneul,
“kau sudah tidur?, -Onew-”
Orang ini menganggu waktu
istirahatnya, Haneul sering mendapatkan pesan asal seperti ini, tapi yang
Haneul anehkan mengapa orang ini tahu kalau dia sedang dalam posisi ingin
tidur?. Benar saja, inikan sudah malam tentu semua orang akan tidur. Haneul babo.
Biasanya Haneul tidak pernah
membalasnya, tapi kali ini tangannya tegerak sendiri untuk membalas pesan masuk
itu.
From Haneul,
“kau siapa?”
To Haneul,
“orang yang menyebalkan, –Onew-”
Huh, memang orang ini begitu
menyebalkan, apa salahnya langsung menyebutkan nama?. Haneul tidak ingin
membuang waktu atau pulsanya untuk membalas pesan ini. orang yang menyebalkan
harus di lawan dengan sikap yang lebih menyebalkan pula, biarlah orang yang
mengirimkan pesan disana merasa sebal karena Haneul tidak membalasnya.
Me-nonaktive-kan ponselnya
dan kembali beranjak untuk tidur. Matanya sudah terpejam tapi pikirannya masih
melayang terus ke pesan yang baru saja diterimanya.
‘Onew, Onew, Onew…’
Mata Haneul terbuka dengan cepatnya,
sepertinya pengirim pesan itu berhasil mengganggunya. Kembali mengaktifkan
ponselnya. Baru saja layar ponsel itu menyala untuk beberapa detik, sebuah
pesan baru sudah kembali masuk ke ponselnya.
To Haneul,
“kau juga menyebalkan ternyata,
-Onew-”
From Haneul,
“Onew, apa itu?” Haneul langsung
menanyakan apa yang terus berputar-putar di kepalanya sedari tadi.
To Haneul,
“Bukan apa? tapi siapa?, itu aku Lee
Jinki”
‘Jinki kau benar-benar.’
Haneul mencoba untuk menetralkan
sistem pernapasannya yang tiba-tiba terasa buruk. Hanya dengan melihat nama
pria menyebalkan yang selalu merusak harinya saja sudah seperti ini. karena
benar-benar sudah tahu kalau si pengirim pesan itu adalah Jinki, Haneul tanpa
aba-aba kembali men-nonaktive-kan ponselnya.
‘Dia, bagaimana bisa tahu nomor ponselku?,
di kelas saja hanya satu dua orang yang mungkin mengetahuinya.’
Setelah ini Haneul yakin kalau
mimpinya tidak akan menjadi indah malam ini, sebenarnya sejak kapan mimpi
Haneul indah?.
‘Jinki bagaimana menyingkirkanmu?.’
Mungkin malam ini Haneul akan
kembali berdoa –setelah sudah bertahun-tahun yang lalu ia tidak percaya akan
adanya Tuhan-, semoga ia tidak memimpikan pria menyebalkan yang satu ini.
---The Girl and Her Book---
Pagi yang cerah di pulau Jeju,
orang-orang di resort memulai harinya dengan berolahraga. Ada yang
melakukan jogging pagi, ada yang bersepeda di sepanjang jalanan aspal
kecil pesisir pantai dan ada juga yang hanya menikmati suasana pagi dengan
duduk di pinggir pantai.
Udara Jeju sangat berbeda dengan
Seoul, masih banyak cukup ketenangan dan kenyamanan yang di berikan alam Jeju.
Berbeda dengan Haneul, Jika hampir
semua orang hanya menikmati pagi, maka Haneul tengah menyusun semua rencananya
di kamar. Satu-satunya kesempatan untuk melancarkan aksi serangan agar Suyoung
jatuh adalah hari ini. Ia terus sibuk dengan perbicangannya di telepon, tentu
saja orang yang ada di ujung telepon adalah sekertarisnya –Park Si Jae-.
Pesta baru akan dimulai pukul 3
sore, Haneul masih mempunyai cukup banyak waktu agar rencana tersusun secara
matang tanpa lubang kecil sama sekali. Beruntungnya dia, pria menyebalkan tidak
mengusiknya hari ini, mungkin gadis-gadis genit diluar sedang mengerumuninya.
---The Girl and Her Book---
Semua telah beres dan waktu telah
menunjukkan pukul setengah 2, cukup untuk Haneul beberes, ia telah menyiapkan
sebuah dress berwarna biru gelap, dengan potongan bahu terbuka namun
memiliki panjang tangan yang berbeda antara kanan dan kiri dan memiliki panjang
di bawah lutut, cukup elegan tetapi tidak terlalu menggoda, Haneul merancangnya
sendiri.
Jarang sekali melihat Haneul dengan
wajah yang di poles make-up, walau hanya memakai bedak tipis, sedikit
sapuan perona pipi dan pencerah bibir dengan warna softpink. Membuatnya
sangat berbeda, jauh lebih cantik dari biasanya.
Haneul juga melepas kacamatanya dan
menggantinya dengan lensa kontak berwarna hitam gelap, sehingga menutupi warna
matanya yang coklat.
‘Sempurna’
Bahagia tengah dirasakan oleh
Haneul, apalagi yang membuatnya seperti ini kalau bukan Suyoung yang akan
hancur hari ini.
Terdengar suara ketukan dari pintu
kamarnya, ini memang waktunya untuk berpesta. Di depan pintu Haneul melihat
Jinki dengan balutan jas yang mengepas di badannya, sebagai dalamannya Jinki
menggunakan kaos bewarna biru tua dengan kerah v dan memadukan bawahannya
dengan celana jeans hitam gantung. Jinki memakaikan pomet di rambutnya.
“wah, lihat kita serasi sekali”.
Jinki sangat sumringah melihat penampilan mereka benar-benar cocok. Dan memang
kebetulan yang datang entah darimana mereka memakai warna baju yang sama.
“kau melepas kacamatamu? Dan
wajahmu, kau memolesnya dengan make-up”.
Jinki tiba-tiba saja menggandeng
tangan Haenul di lengannya.
“kau berbeda sekali, seperti inilah
setiap hari”. Mengerlingkan sebelah matanya, bermaksud menggoda wanita di
sebelahnya.
Menarik Haenul agar ikut berjalan
disisinya, tetapi Haneul masih diam ditempat. Jinki mendekatkan bibirnya
ketelinga Haneul. Membisikkan sebuah mantera yang akan menghipnotis wanita
manapun yang mendengarnya.
“wanita cantik harus bersama dengan
pria tampan, kau cantik sekali Haneul”.
Apa-apaan ini?, Suara pria ini
betul-betul menggoda, apa baru saja Jinki memuji Haenul?, berkata bahwa wanita
ini cantik?, tanpa sadar wajah Haneul sedikit memerah, untung saja dia memakai
perona pipi, sehingga tidak terlalu kelihatan. Haneul benar-benar tertegun
dengan kalimat yang dilontarkan Jinki. Tanpa sadar Haneul mengikuti arah kemana
Jinki membawanya.
Halaman resort tempat
diadakannya pesta sudah dipenuhi oleh teman-teman kelasnya, sama halnya dengan
Haneul mereka berpenampilan cukup elegan.
Jinki tidak melepaskan gandengannya
di tangan Haenul, membuat Haneul risih karena terus mendapatkan tatapan tajam
dari wanita-wanita pengagum Jinki. Sebagian lainnya menatap Haneul dengan
takjub. Itik buruk rupa tengah berubah menjadi angsa yang cantik, setidaknya
perumpamaan itu yang cocok untuk menggambarkan Haenul.
Kini Haneul dan Jinki sudah sampai
di depan hadapan Suyoung, tentu wanita itu jengah melihat tangan Jinki dan
Haneul tengah menempel seperti itu, Haneul yang tahu bagaimana perasaan Suyoung
sekarang, menarik bibirnya membuat senyuman licik kembali.
“wanita yang cantik harus bersama
dengan pria yang tampan.” Haneul berbicara sambil menatap Jinki, sekarang ia
telah berhasil membalas Jinki.
‘Haneul kau benar-benar.’
Haneul menyerahkan tangan Jinki dan
menyatukannya di tangan Suyoung. Dan ia tersenyum kembali, tetapi kali ini
berbeda, Jinki tak menemukan kelicikan di dalam senyum itu. Jinki jadi ikut
tersenyum, baru kali ini Haneul menampakkan senyum yang rupawan.
“Jinki, Suyoung cantik bukan?,
kalian cocok.” Suyoung hanya merasa bahagia, dimata Haneul Suyoung benar-benar
wanita gampangan.
“ige, kado untuk yang
berulang tahun”. Suyoung bertambah bahagia.
“gomawo Jinki, kau tidak
memiliki hadiah untukku juga Haneul?”.
“ada, bahkan kado yang sangat
dahsyat, kau akan tahu nanti.”
“huh, tidak ada kado juga tidak
apa-apa, aku tidak mengharapkan lebih darimu.” Cibir Suyoung.
Suyoung membawa Jinki mengikutinya, Haneul
berhasil membuat Jinki menyingkir untuk saat ini.
Acara tiup lilin, bernyanyi dan
pemotongan kue sudah selesai, dan jam baru menunjukkan pukul 6 petang, pesta
hanya dilanjutkan dengan minum, berdansa dan lainnya. Sebagian lainnya tengah
menyaksikan detik-detik matahari yang akan kembali keperaduannya. Tepat nanti jam
tujuh, Haneul akan melaksanakan semuanya.
Para pria sedang melakukan aksi
unik, mereka menyeburkan diri dari ketinggian tebing yang berjarak hanya lima
meter ke air pantai. Dan wanita di atasnya hanya bersorak-sorak meneriaki
nama-nama teman pria mereka.
Seorang pria memulai untuk
menyeburkan seorang wanita. Dan itu memulai semuanya, para wanita juga ingin
ikut bergabung di bawah. Haneul yang sedang melihat mereka dari atas tebing
pendek itu juga ikut didorong oleh salah satu teman kelas mereka.
Byuurrr….
Haneul tercebur, Jinki yang sedari
tadi memperhatikan Haneul, mencoba mencari keberadaan Haneul diantara
teman-temannya yang sedang bermain air dibawah.
Air pantai tidak terlalu dalam,
masih bisa menginjakkan kaki di pasirnya, tapi Haneul tidak muncul-muncul
sedari tadi, tidak ada yang peduli kecuali Jinki.
‘Wanita itu, apa yang di lakukannya
dibawah sana?.’
Jinki sedikit panik, ia ikut
menyeburkan diri di sana, membenamkan kepalanya diair yang tidak dalam, mencari
keberadaan Haneul, dan benar saja ia melihat Haneul hanya terpaku diam di dalam
air. Ya, Haneul tenggelam.
‘Kenapa bisa?.’
Jinki membawa Haneul kepermukaan,
menidurkannya di atas pasir. Sepertinya air cukup banyak masuk kedalam
paru-parunya, Jinki mulai melakukan pertolongan pertama pada Haneul,
menekan-nekan dada wanita itu, tidak berhasil air belum juga keluar.
Satu-satunya yang bisa dilakukannya
hanyalah nafas buatan, tapi wanita ini pasti akan sangat marah padanya, apa
boleh buat, Jinki tidak bisa melihat Haneul mati hanya Karena ini.
Mendekatkan bibirnya ke bibir
Haneul, meraup oksigen sebanyak-banyaknya, secara tidak langsung mereka telihat
sedang berciuman. Jinki sangat hati-hati dengan bibir Haneul.
‘Maafkan aku Gwe.’
Jinki mencobanya berulang-ulang, dan
akhirnya berhasil, air berhasil keluar dari mulut Haneul. Jinki terlihat lega,
tapi Haneul belum juga tersadar, sehingga Jinki harus membopongnya kekamar,
menyuruh pelayan untuk mengganti pakaian Haneul yang basah, setelah selesai ia
duduk di sofa kamar Haenul dan menunggu sampai wanita itu tersadar.
HANEUL SIDE
Air, air tengah mengepungku masuk
kedalamnya, kaki ini, tangan ini, bahkan sekujur tubuhku, kenapa mereka tidak
bisa bergerak?. Eonni apa aku akan mati?, eonni jangan menarikku
seperti ini. eonni aku belum ingin bersamamu, tunggu aku sebentar saja.
Aku masih membencimu, tunggu aku sampai rasa benci ini hilang, aku janji
sebentar lagi.
Seseorang tolong aku!!!
Siapapun tolong aku!!!
Aku tidak ingin mati!!!
Aku melihatnya, seorang lelaki,
menarik tanganku, berusaha mendekapku dan mengeluarkanku dari dalam air.
Seseorang itu, siapa itu?
Itu… itu… Jinki.
Dan setelah itu aku hanya bisa jatuh
kedalam kegelapan, pingsan.
---The Girl and Her Book---
To be-Continue

No comments:
Post a Comment