Wednesday, January 13, 2016

The Girl and Her Book (Part 5)


sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang bercetak plus di bold itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA

---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION

Part 5

---The Girl and Her Book---


“huh kemana anak aneh itu?, sudah beruntung ku undang tapi tidak datang juga”. Suyoung mengeluh atas keterlambatan Haneul.

Dari sisi jauh terlihat seorang wanita dengan pakaian serba hitamnya menggunakan tas ransel lumayan besar yang tersangkut di bahunya, berjalan dengan santainya seperti tidak ada masalah sama sekali, padahal dialah yang di tunggu sedari tadi.

“kalian, masih mau diam disana?, informasi keberangkatan pesawat penerbangan Jeju sudah memanggil!”. Haneul melewati kerumunan wanita yang sedang menatapnya geram. Jinki mengikutinya dari belakang.

“kalau saja Jinki mau menaiki pesawat tanpa Haneul, sudah kutinggalkan wanita aneh ini sedari tadi”. Rutuk Suyoung kepada teman-temannya dengan nada sedikit pelan.

Pesawat segera lepas landas, dan rombongan Suyoung baru saja memasukinya, mencari-cari kursi penumpang atas nama mereka masing-masing. Tentu saja Suyoung menyiapkan kursi Jinki tepat disampingnya. Tapi wanita ini memang sedikit membuat kesalahan, kursinya terletak di deret tengah, yang setiap satu barisnya menyediakan tiga kursi penumpang. Di sudut kiri adalah tempat duduknya Suyoung, di tengah Jinki dan paling kanan ternyata diduduki oleh orang yang salah, dan orang yang duduk di situ juga merasa sial.

Benar saja, baru saja Haneul menemukan tempat duduknya dan kenapa harus disamping Jinki? Atau lebih parahnya ditambah dengan kehadiran Suyoung disamping Jinki. Cukup untuk membuat dirinya risih.

“ah senangnya aku bisa duduk disampingmu Jinki” Suyoung sangat gembira, jelas saja ini terjadi, Suyoung kan sudah mengaturnya.

“kau lagi, kenapa aku harus disampingmu.” Dan yang satu ini adalah suara Haneul.

Kedua wanita disampingnya ini sama-sama cantik, sama-sama pintar, tapi kenapa tidak bisa sama-sama menyenangkan. Suyoung dengan sikap manis dan bahkan terlalu manis hingga Jinki merasa risih dan Haneul dengan pandangan sinisnya dan juga wajah yang datar sehingga membuat Jinki geram. Tidak adakah yang bisa bersikap biasa-biasa saja layaknya seorang teman begitu?

---The Girl and Her Book---

Langit malam Jeju sudah menyapa Suyoung dengan teman-temannya. Sekarang ini mereka sedang menunggu bagasi mereka keluar. Wanita-wanita centil itu, sebenarnya apa yang mereka bawa hanya untuk satu malam saja?, mengapa begitu banyak?.

Jinki terus tidak sabaran untuk menantikan proses itu selesai, matanya terus memutar kearah kanan dan kiri, mencari sosok Haneul yang sudah tidak terlihat semenjak mereka turun tadi. Karena Haneul hanya membawa sebuah ransel, dia jadi tidak perlu menunggu seperti yang lainnya. Baru kali ini lelaki ini bisa kehilangan jejak Haneul.

“Suyoung, kemana Haneul?” Tanya Jinki.

“ough, wanita itu, tadi katanya dia akan berkeliling dulu, dia akan langsung ke resort sendiri.” Jawab Haneul enteng.

‘Apa lagi yang sedang kau rencanakan Haneul?’

Sendirian di depan halaman resort, dia sampai duluan karena memang dia yang paling awal meninggalkan lokasi bandara. Haneul menyukai tempat ini, gelombang pantai yang sedikit naik memanjakan matanya dan juga semilir angin yang berhasil menerbangkan helai-perhelai rambut Haneul mampu membuat dirinya tenang. Ini baru yang namanya hidup.

Posisi resort tepat berada di atas tebing yang hanya berjarak sekitar lima meter saja dengan permukaan air pantai, terlebih kolam berenangnya yang –dibatasi oleh kaca bening tebal-seperti langsung tersambung ke pantai, sungguh pemandangan yang memanjakan mata, walau gelap, layar yang terkembang didepan matanya itu sungguh tampak menakjubkan, mungkin jika siang hari akan terlihat lebih indah, pikirnya.

Ternyata Suyoung memang benar-benar mewarisi kekayaan yang luar biasa, membuat Haneul semakin berkeinginan kuat untuk menjatuhkan wanita yang satu itu.

Akhirnya rombongan Suyoung datang juga, mobil tur yang memang disediakan sebagai fasilitas resort mengantar rombongan itu tepat kehadapan Haneul.

‘Mobil memang sangat lambat.’

FLASHBACK ON

Haneul langsung bergerak cepat setelah pesawat mendarat, langsung memberitahu Suyoung bahwa ia akan pergi ke resort sendiri. Tentu saja Suyoung sangat mengijinkan itu, ia sudah sangat bosan melihat Jinki yang terus menempel pada Haneul saat di pesawat tadi.

yobosseo, tuan Park dimana kau?”.

“parkiran timur, pergilah kesana kau akan langsung melihatku.”

Terlihat sepeda motor terpajang satu-satunya didaerah parkir itu dengan tuan Park yang berdiri di sampingnya. Jelas itu salah satu barang pesanan Haneul, yang wajib ada jika ia akan pergi kemanapun.

“kau yakin akan menggunakan ini ke resort?” Tanya tuan park cemas.

“Jeju, Seoul dimanapun itu aku tetap akan mengendarainya.” Bentak Haneul pada sekertaris kepercayaannya itu.

“bukan itu maksudku, kau tidak ingin naik mobil bersamaku?”. Tuan park memberikan pertanyaan yang paling dibenci Haneul.

“kau ingin membuatku mati.” Jawab Haneul dengan tatapan tajamnya.

“sungguh tidak, aku hanya…..”

Haneul benar-benar tidak sabar dengan pria yang satu ini, ini yang paling malas jika sudah bertemu dengan Park Si Jae, pria ini jika di telpon mereka sangat meminimalisir percakapan layaknya atasan dan bawahan, tetapi jika sudah bertemu pria ini selalu mengoceh, mencoba mengaturnya dan sangat bawel.

Ucapan Si Jae terpotong begitu saja. Haneul menyodorkan tangannya, seraya meminta.

“kunci, surat kendaraan berikan padaku sekarang.” Potong Haneul yang terlihat sudah tidak sabar. Setelah mendapatkannya, Haneul langsung tancap gas meninggalkan tuan Park yang terlihat semakin mengecil jika dilihat dari kaca spion motor Haneul.

Padahal pria yang satu ini masih ingin mengomel lebih panjang pada Haneul. Setidaknya dia ingin lebih banyak waktu bersama Haneul, bukan dengan ponsel yang terus-menerus mengeluarkan suara Haneul dari dalamnya, dan menyuruhnya melakukan tugas ini, itu.

FLASHBACK OFF

Pesta akan di mulai besok sore, beberapa orang sedang beristirahat di kamarnya masing-masing, dan beberapa lainnya memilih untuk berjalan-jalan, mengitari resort yang terbilang cukup luas.

Haneul mencoba untuk mengistirahatan tubuhnya di salah satu kamar di resort itu. Dia sudah cukup menikmati pemandangan tadi saat menunggu rombongan kelasnya sampai. Ponsel yang selalu diletakkannya di samping bantalnya tiba-tiba berbunyi. Ada satu pesan yang masuk dan Haneul sama sekali tidak mengetahui nomor siapa itu.

To Haneul,

“kau sudah tidur?, -Onew-”

Orang ini menganggu waktu istirahatnya, Haneul sering mendapatkan pesan asal seperti ini, tapi yang Haneul anehkan mengapa orang ini tahu kalau dia sedang dalam posisi ingin tidur?. Benar saja, inikan sudah malam tentu semua orang akan tidur. Haneul babo.

Biasanya Haneul tidak pernah membalasnya, tapi kali ini tangannya tegerak sendiri untuk membalas pesan masuk itu.

From Haneul,

“kau siapa?”

To Haneul,

“orang yang menyebalkan, –Onew-”

Huh, memang orang ini begitu menyebalkan, apa salahnya langsung menyebutkan nama?. Haneul tidak ingin membuang waktu atau pulsanya untuk membalas pesan ini. orang yang menyebalkan harus di lawan dengan sikap yang lebih menyebalkan pula, biarlah orang yang mengirimkan pesan disana merasa sebal karena Haneul tidak membalasnya.

Me-nonaktive-kan ponselnya dan kembali beranjak untuk tidur. Matanya sudah terpejam tapi pikirannya masih melayang terus ke pesan yang baru saja diterimanya.

‘Onew, Onew, Onew…’

Mata Haneul terbuka dengan cepatnya, sepertinya pengirim pesan itu berhasil mengganggunya. Kembali mengaktifkan ponselnya. Baru saja layar ponsel itu menyala untuk beberapa detik, sebuah pesan baru sudah kembali masuk ke ponselnya.

To Haneul,

“kau juga menyebalkan ternyata, -Onew-”

From Haneul,

“Onew, apa itu?” Haneul langsung menanyakan apa yang terus berputar-putar di kepalanya sedari tadi.

To Haneul,

“Bukan apa? tapi siapa?, itu aku Lee Jinki”

‘Jinki kau benar-benar.’

Haneul mencoba untuk menetralkan sistem pernapasannya yang tiba-tiba terasa buruk. Hanya dengan melihat nama pria menyebalkan yang selalu merusak harinya saja sudah seperti ini. karena benar-benar sudah tahu kalau si pengirim pesan itu adalah Jinki, Haneul tanpa aba-aba kembali men-nonaktive-kan ponselnya.

‘Dia, bagaimana bisa tahu nomor ponselku?, di kelas saja hanya satu dua orang yang mungkin mengetahuinya.’

Setelah ini Haneul yakin kalau mimpinya tidak akan menjadi indah malam ini, sebenarnya sejak kapan mimpi Haneul indah?.

‘Jinki bagaimana menyingkirkanmu?.’

Mungkin malam ini Haneul akan kembali berdoa –setelah sudah bertahun-tahun yang lalu ia tidak percaya akan adanya Tuhan-, semoga ia tidak memimpikan pria menyebalkan yang satu ini.

---The Girl and Her Book---

Pagi yang cerah di pulau Jeju, orang-orang di resort memulai harinya dengan berolahraga. Ada yang melakukan jogging pagi, ada yang bersepeda di sepanjang jalanan aspal kecil pesisir pantai dan ada juga yang hanya menikmati suasana pagi dengan duduk di pinggir pantai.

Udara Jeju sangat berbeda dengan Seoul, masih banyak cukup ketenangan dan kenyamanan yang di berikan alam Jeju.

Berbeda dengan Haneul, Jika hampir semua orang hanya menikmati pagi, maka Haneul tengah menyusun semua rencananya di kamar. Satu-satunya kesempatan untuk melancarkan aksi serangan agar Suyoung jatuh adalah hari ini. Ia terus sibuk dengan perbicangannya di telepon, tentu saja orang yang ada di ujung telepon adalah sekertarisnya –Park Si Jae-.

Pesta baru akan dimulai pukul 3 sore, Haneul masih mempunyai cukup banyak waktu agar rencana tersusun secara matang tanpa lubang kecil sama sekali. Beruntungnya dia, pria menyebalkan tidak mengusiknya hari ini, mungkin gadis-gadis genit diluar sedang mengerumuninya.

---The Girl and Her Book---

Semua telah beres dan waktu telah menunjukkan pukul setengah 2, cukup untuk Haneul beberes, ia telah menyiapkan sebuah dress berwarna biru gelap, dengan potongan bahu terbuka namun memiliki panjang tangan yang berbeda antara kanan dan kiri dan memiliki panjang di bawah lutut, cukup elegan tetapi tidak terlalu menggoda, Haneul merancangnya sendiri.

Jarang sekali melihat Haneul dengan wajah yang di poles make-up, walau hanya memakai bedak tipis, sedikit sapuan perona pipi dan pencerah bibir dengan warna softpink. Membuatnya sangat berbeda, jauh lebih cantik dari biasanya.

Haneul juga melepas kacamatanya dan menggantinya dengan lensa kontak berwarna hitam gelap, sehingga menutupi warna matanya yang coklat.

‘Sempurna’

Bahagia tengah dirasakan oleh Haneul, apalagi yang membuatnya seperti ini kalau bukan Suyoung yang akan hancur hari ini.

Terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya, ini memang waktunya untuk berpesta. Di depan pintu Haneul melihat Jinki dengan balutan jas yang mengepas di badannya, sebagai dalamannya Jinki menggunakan kaos bewarna biru tua dengan kerah v dan memadukan bawahannya dengan celana jeans hitam gantung. Jinki memakaikan pomet di rambutnya.

“wah, lihat kita serasi sekali”. Jinki sangat sumringah melihat penampilan mereka benar-benar cocok. Dan memang kebetulan yang datang entah darimana mereka memakai warna baju yang sama.

“kau melepas kacamatamu? Dan wajahmu, kau memolesnya dengan make-up”.

Jinki tiba-tiba saja menggandeng tangan Haenul di lengannya.

“kau berbeda sekali, seperti inilah setiap hari”. Mengerlingkan sebelah matanya, bermaksud menggoda wanita di sebelahnya.

Menarik Haenul agar ikut berjalan disisinya, tetapi Haneul masih diam ditempat. Jinki mendekatkan bibirnya ketelinga Haneul. Membisikkan sebuah mantera yang akan menghipnotis wanita manapun yang mendengarnya.

“wanita cantik harus bersama dengan pria tampan, kau cantik sekali Haneul”.

Apa-apaan ini?, Suara pria ini betul-betul menggoda, apa baru saja Jinki memuji Haenul?, berkata bahwa wanita ini cantik?, tanpa sadar wajah Haneul sedikit memerah, untung saja dia memakai perona pipi, sehingga tidak terlalu kelihatan. Haneul benar-benar tertegun dengan kalimat yang dilontarkan Jinki. Tanpa sadar Haneul mengikuti arah kemana Jinki membawanya.

Halaman resort tempat diadakannya pesta sudah dipenuhi oleh teman-teman kelasnya, sama halnya dengan Haneul mereka berpenampilan cukup elegan.

Jinki tidak melepaskan gandengannya di tangan Haenul, membuat Haneul risih karena terus mendapatkan tatapan tajam dari wanita-wanita pengagum Jinki. Sebagian lainnya menatap Haneul dengan takjub. Itik buruk rupa tengah berubah menjadi angsa yang cantik, setidaknya perumpamaan itu yang cocok untuk menggambarkan Haenul.

Kini Haneul dan Jinki sudah sampai di depan hadapan Suyoung, tentu wanita itu jengah melihat tangan Jinki dan Haneul tengah menempel seperti itu, Haneul yang tahu bagaimana perasaan Suyoung sekarang, menarik bibirnya membuat senyuman licik kembali.

“wanita yang cantik harus bersama dengan pria yang tampan.” Haneul berbicara sambil menatap Jinki, sekarang ia telah berhasil membalas Jinki.

‘Haneul kau benar-benar.’

Haneul menyerahkan tangan Jinki dan menyatukannya di tangan Suyoung. Dan ia tersenyum kembali, tetapi kali ini berbeda, Jinki tak menemukan kelicikan di dalam senyum itu. Jinki jadi ikut tersenyum, baru kali ini Haneul menampakkan senyum yang rupawan.

“Jinki, Suyoung cantik bukan?, kalian cocok.” Suyoung hanya merasa bahagia, dimata Haneul Suyoung benar-benar wanita gampangan.

ige, kado untuk yang berulang tahun”. Suyoung bertambah bahagia.

gomawo Jinki, kau tidak memiliki hadiah untukku juga Haneul?”.

“ada, bahkan kado yang sangat dahsyat, kau akan tahu nanti.”

“huh, tidak ada kado juga tidak apa-apa, aku tidak mengharapkan lebih darimu.” Cibir Suyoung.
Suyoung membawa Jinki mengikutinya, Haneul berhasil membuat Jinki menyingkir untuk saat ini.
Acara tiup lilin, bernyanyi dan pemotongan kue sudah selesai, dan jam baru menunjukkan pukul 6 petang, pesta hanya dilanjutkan dengan minum, berdansa dan lainnya. Sebagian lainnya tengah menyaksikan detik-detik matahari yang akan kembali keperaduannya. Tepat nanti jam tujuh, Haneul akan melaksanakan semuanya.

Para pria sedang melakukan aksi unik, mereka menyeburkan diri dari ketinggian tebing yang berjarak hanya lima meter ke air pantai. Dan wanita di atasnya hanya bersorak-sorak meneriaki nama-nama teman pria mereka.

Seorang pria memulai untuk menyeburkan seorang wanita. Dan itu memulai semuanya, para wanita juga ingin ikut bergabung di bawah. Haneul yang sedang melihat mereka dari atas tebing pendek itu juga ikut didorong oleh salah satu teman kelas mereka.

Byuurrr….

Haneul tercebur, Jinki yang sedari tadi memperhatikan Haneul, mencoba mencari keberadaan Haneul diantara teman-temannya yang sedang bermain air dibawah.

Air pantai tidak terlalu dalam, masih bisa menginjakkan kaki di pasirnya, tapi Haneul tidak muncul-muncul sedari tadi, tidak ada yang peduli kecuali Jinki.

‘Wanita itu, apa yang di lakukannya dibawah sana?.’

Jinki sedikit panik, ia ikut menyeburkan diri di sana, membenamkan kepalanya diair yang tidak dalam, mencari keberadaan Haneul, dan benar saja ia melihat Haneul hanya terpaku diam di dalam air. Ya, Haneul tenggelam.

‘Kenapa bisa?.’

Jinki membawa Haneul kepermukaan, menidurkannya di atas pasir. Sepertinya air cukup banyak masuk kedalam paru-parunya, Jinki mulai melakukan pertolongan pertama pada Haneul, menekan-nekan dada wanita itu, tidak berhasil air belum juga keluar.

Satu-satunya yang bisa dilakukannya hanyalah nafas buatan, tapi wanita ini pasti akan sangat marah padanya, apa boleh buat, Jinki tidak bisa melihat Haneul mati hanya Karena ini.

Mendekatkan bibirnya ke bibir Haneul, meraup oksigen sebanyak-banyaknya, secara tidak langsung mereka telihat sedang berciuman. Jinki sangat hati-hati dengan bibir Haneul.

‘Maafkan aku Gwe.’

Jinki mencobanya berulang-ulang, dan akhirnya berhasil, air berhasil keluar dari mulut Haneul. Jinki terlihat lega, tapi Haneul belum juga tersadar, sehingga Jinki harus membopongnya kekamar, menyuruh pelayan untuk mengganti pakaian Haneul yang basah, setelah selesai ia duduk di sofa kamar Haenul dan menunggu sampai wanita itu tersadar.

HANEUL SIDE

Air, air tengah mengepungku masuk kedalamnya, kaki ini, tangan ini, bahkan sekujur tubuhku, kenapa mereka tidak bisa bergerak?. Eonni apa aku akan mati?, eonni jangan menarikku seperti ini. eonni aku belum ingin bersamamu, tunggu aku sebentar saja. Aku masih membencimu, tunggu aku sampai rasa benci ini hilang, aku janji sebentar lagi.

Seseorang tolong aku!!!

Siapapun tolong aku!!!

Aku tidak ingin mati!!!

Aku melihatnya, seorang lelaki, menarik tanganku, berusaha mendekapku dan mengeluarkanku dari dalam air. Seseorang itu, siapa itu?

Itu… itu… Jinki.

Dan setelah itu aku hanya bisa jatuh kedalam kegelapan, pingsan.


---The Girl and Her Book---

To be-Continue

No comments:

Post a Comment