Wednesday, January 6, 2016

The Girl and Her Book (Part 4)


sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang bercetak plus di bold itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA

---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION

Part 4

---The Girl and Her Book---


Piket kelas dihari selasa, dan hanya tampak seorang siswa yang membersihkan kelas, siapa lagi kalau bukan Haneul, selalu seperti ini, Haneul membersihkan semuanya sedangkan teman yang seharusnya namanya tertera untuk piket hari ini tidak pernah mengerjakan apapun.

Hari sudah sedikit sore, juga awan mendung yang memayungi kota hari ini terlihat cukup menyeramkan, harus cepat-cepat menyelesaikan semuanya kalau tidak ia bisa basah kuyup sampai ke apartemennya nanti.

Ia beruntung hujan masih belum turun saat dia menyelesaikan pekerjaannya, segera melangkahkan kakinya keparkiran sepeda. Terlihat ada sekumpulan murid yang masih berdiri diparkiran.
Haneul melewati mereka semua dan berlenggang ke arah sepedanya.

“Hei Haneul” sapa salah satu diantara mereka, Haneul cukup kenal dengan suara yang satu ini, siapa lagi kalau bukan Ban Suyoung.

Suara melengkingnya, mana bisa Haneul lupakan. Suyoung menghampiri Haneul, berjalan dengan sombongnya sambil melipat tangannya di depan dada.

“kau berhentilah mendekati Jinki”.

Heran, hanya itulah yang Haneul rasakan sekarang.

“kau, menyukainya?. Kalau aku akrab dengannya mungkin akan kusampaikan rasa sukamu, tapi aku sama sekali tidak dekat dengannya.” Jawab Haneul to the point.

“Kau…!!!”

“pulanglah, sebentar lagi hujan, kalian mau make-up kalian luntur?”

Haneul sudah berada di jok sepedanya. Ingin meninggalkan kumpulan wanita menyebalkan yang sekarang berada di hadapannya. Terlihat Ban Suyoung seperti menyuruh sesuatu kepada salah satu temannya yang berbadan cukup bongsor diantara mereka.

Kerah blazer haneul terangkat, tangan itu begitu berani menyeret Haneul menjauh dari sepedanya, kemudian badannya terhempas begitu saja ke bawah. Haneul hanya diam saja. Tasnya diambil paksa oleh salah seorang dari mereka, barang-barang di tas Haneul terlihat sudah berserakan di sampingnya.

“ah hujan, ayo teman-teman tinggalkan dia.”

Ban Suyoung seolah menjadi pemimpin diantara mereka. Meninggalkan Han Haneul dengan barangnya yang masih berserakan di tanah. Hal pertama yang diselamatkannya adalah buku hitamnya. Itu lebih berarti dari semua apapun yang ada di tasnya. Menatap tajam kearah mobil audy merah yang baru saja melintas di depannya.

‘Ini yang kedua kalinya Ban Suyoung, seberapa sulitnyapun dirimu, tidak akan kulepaskan.’

---The Girl and Her Book---

Riuh, itulah yang mengisi kelas sebelas A sekarang, siapa lagi yang memulai keributan kalau bukan si cucu pemilik sekolah –Ban Suyoung-. Ia dan beberapa temannya atau lebih tepatnya terlihat seperti pengikutnya itu sedang berkeliling kelas membagikan kartu berwarna biru terang kepada setiap kepala di dalam kelas.

Sepertinya itu sebuah undangan, semua sangat antusias menerima kartu itu, tapi berbeda dengan Haneul, party bukanlah kebiasaannya. Ia sama sekali tidak berharap untuk mendapat salah satu kartu yang ada di tangan Suyoung. Dan dia juga yakin, Suyoung tidak akan memberikan kartu itu kepadanya.

Sedangkan Jinki, dia belum datang. Suasana di kelas walaupun cukup ribut tetapi tanpa kehadiran Jinki, Haneul merasa ini masih masuk dalam daftar dengan keadaan kondusif.

SREKKKK

Pintu kelas tiba-tiba bergeser, Nampak kepala Jinki menyembul masuk kedalamnya.

Benar-benar berumur panjang pria yang satu ini, baru saja dibicarakan tiba-tiba saja sudah muncul. Jinki tanpa disuruhpun ia akan langsung melangkahkan kakinya kearah Haneul, Jinki melewati Suyoung yang tengah menyodorkan kartu undangan kepadanya.

Ya, seperti itulah Jinki, dia terlihat dingin untuk orang lain, tetapi jika sudah berhadapan dengan Haneul, Jinki berubah menjadi sosok yang sangat menyebalkan.

Suyoung masih diam di tempatnya, merasa marah karena di abaikan dan mungkin ia juga merasa malu terhadap yang lainnya yang telah melihat kejadian itu, pasalnya baru kali ini seorang Ban Suyoung di abaikan oleh seorang namja.

“bagaimana kau masih ingin mengundang Jinki?” Tanya teman Suyoung disebelahnya.

“tentu, dia sudah kumasukkan dalam daftar tamu istimewa.” Suyoung menjawab itu dengan entengnya.

“tapi bagaimana?, bahkan Jinki tidak pernah ngobrol denganmu?”

“sepertinya aku harus menambah satu nama untuk dimasukkan dalam daftar tamu istimewa.”

Pandangan Suyoung beralih kearah temannya –yang berkacamata- yang sedang membaca buku.
Waktu cepat sekali berlalu, hingga bel istirahat pertama sudah mengumandang. Seperti biasa suasana kelas perlahan-lahan akan semakin kosong, jika dahulu hanya menyisakan Haneul di dalamnya kini sudah beberapa hari kelas itu menyisakan dua orang, Haneul dan pastinya yang selalu mengekor pada Haneul –Lee Jinki-.

Tapi untuk hari ini sedikit berbeda, Suyoung dengan teman-temannya sama sekali tidak ikut keluar seperti siswa lainnya. Bagi Haneul itu bukanlah suatu masalah.

ige, kau harus datang, ini acara ulang tahunku” terlihat Suyoung yang tengah menyodorkan undangan kepada Haneul. Dan tentunya dengan wajah yang dibuat semanis mungkin, ada Jinki di sebelah Haneul.

“aku tidak bisa hadir”. Jawab Haneul

“ayolah kita tidak pernah akrab sebelumnya, padahal kitakan sudah satu tahun sekelas”. Ucap Suyoung manja.

Tunggu, sedikit ide terlintas di benak Haneul. Ada dua orang yang harus disingkirkannya dan dua orang itu sedang mencoba untuk akrab dengannya. Jika tidak bisa menjatuhkannya dengan kedudukan mereka, dia bisa menjatuhkannya dengan cara lain.

“baik aku akan datang, tetapi dengan Jinki yang juga akan ikut. Bagaimana, boleh?” ini sudah yang berkali-kalinya dia tersenyum sinis untuk orang yang sama.

Dan Suyoung, apalagi yang ditunggu wanita ini selain mengangguk, memang itulah tujuan awalnya, mengajak Haneul agar Jinki juga mau ikut, ternyata tidak susah untuk membujuk Haneul, pikirnya.
Setelah menatap Suyoung, Haneul membelokkan kepalanya menghadap Jinki.

“Bagaimana, kau mau menemaniku?”

Dan untuk kali ini Haneul tidak ingin menunjukkan senyumnya kepada Jinki. Jinki pasti tau kalau Haneul sedang berpikir licik.

“Tentu aku mau”. Jinki mana mungki menolak Haneul.

‘Gwe ternyata Haneul tidak sesulit yang kau katakan, pesta ini awal moment yang tepat Gwe.’

Setelah Haneul dan Jinki menyatakan keikutsertaan mereka dalam pesta, Suyoung mengambil ahli untuk berbicara kembali.

“pestanya akan diadakan di Jeju, di resort keluargaku, kita akan berkumpul dibandara, hari sabtu malam jam 20.00. Jangan terlambat.”

Dan kemudian Suyoung berlalu keluar dari kelas, ia sudah menyiapkan rencana untuk dua orang itu, masing-masing orang dengan rencana yang berbeda.

Mereka bertiga mempunyai rencana masing-masing, Haneul untuk Suyoung dan Jinki. Jinki untuk Haneul, dan Suyoung untuk Haneul dan Jinki.


Ketiga orang ini sebenarnya apa yang direncanakan mereka?, rencana mana yang paling picik? dan siapa yang akan berhasil menyelesaikan rencana masing-masing?. Sepertinya ada dendam yang berbeda-beda diantara ketiga orang tersebut.

---The Girl and Her Book---

Kedua roda sepeda itu berhenti di halaman parkir sebuah caffe yang terletak tepat didepan sebuah gedung management artis yang bisa dibilang paling terkemuka dari management-management artis lainnya.

Menyejajarkan sepedanya di samping barisan mobil-mobil mewah milik para pengunjung lainnya.

Klingg Klingg

Suara bel caffe itu berbunyi dua kali, menandakan ada pengunjung yang baru saja masuk atau yang keluar. Tapi untuk kali ini bel itu berbunyi karena baru saja ada yang masuk.

Ya, yang masuk itu adalah Haneul, dengan setelan kaos merah kedodoran dan jeans hitam, terlihat sangat bagus menempel di tubuhnya. Melangkah masuk lebih dalam lagi dan duduk di kursi depan namja muda yang memakai jasnya.

Di depannya sudah tersedia bubble tea untuknya.

Saat Haneul duduk namja didepannya malah bangkit dan menunduk hormat kearahnya.

“duduklah, sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan tuan Park”.

Ternyata yang sedang berhadapan dengan Haneul sekarang adalah namja yang sering di panggilnya tuan Park –sekertarisnya- selama ini. Jika dibayangkan tuan park pasti seorang pria dengan wajah sedikit tua. Ternyata salah, tuan Park yang satu ini kelihatan muda, mungkin 4 atau 5 tahun di atas umur Haneul, dengan wajah yang cukup tampan dan tinggi yang sangat keterlaluan. Hanya sekedar info tuan Park adalah mantan kekasih kakaknya dulu. Nama lengkapnya adalah Park Si Jae.

“berhentilah, memanggilku tuan park aku merasa seperti ajushi-ajushi yang telah berumur banyak.” Si Jae coba mengeles dihadapan Haneul, namun itu sama sekali tidak berhasil.

Semenjak kejadian beberapa tahun yang lalu, Haneul yang polos sudah berubah menjadi Haneul yang mengerikan, menyedihkan dan bermuka datar.

Melihat Haneul yang sama sekali tidak merespon, Si Jae langsung tau kalau ia harus bersikap layaknya atasan dengan bawahannya.

“Jinki”. Mata Haneul langsung melotot mendengar nama itu disebut.

“Jinki, dia pernah belajar dan menetap di Canada, menjadi siswa teladan disana, tinggal sendirian. Sebelum pindah ke Canada, Jinki tinggal di sebuah rumah di kawasan Gangnam, rumah itu sudah di tempati oleh orang lain. Sekarang ini ia tinggal di kawasan apartement hanya dua block dari sini, lantai 8 nomor pintu 83.” Jelas Si Jae Panjang lebar dan sepertinya Haneul sama sekali belum puas, bukan ini yang ingin di dengarnya dari pria di depannya ini.

“lalu bagaimana dengan status keluarganya, apakah dari keluarga pebisnis atau keluarga terpandang lainnya? Catatan buruknya apakah ada?”. Haneul selalu menanyakan hal itu pada Si Jae.

“aku belum bisa melacak keluarganya, selama di Canada dia tinggal sendiri, bahkan setelah kutanyai pada teman-temannya, mereka mengatakan Jinki bersekolah dengan beasiswa dan untuk hidupnya ia bekerja part time di salah satu toko buku. Catatan buruk, ia sama sekali tak memilikinya, ia terkenal pendiam.”

‘Pendiam apanya?, dia selalu merecokiku di kelas.’

“sepertinya mereka berdua sama sekali tidak mempunyai kelemahan, apa aku harus menyerah, oppa?”.

Benarkah yang baru saja di dengar oleh Si Jae. Haneul memanggilnya kembali dengan sebutan oppa?. Dan juga bahasa yang digunakannya tidak formal.

Gadis didepannya ini, sudah cukup lama Si Jae menyimpan perasaannya untuknya. Mungkin memang benar Si Jae belum bisa melupakan kakak dari Haneul –Hareul-. Awalnya memang Si Jae hanya merasa iba, peduli pada Haneul dan mencoba menjadi seseorang yang bisa menggantikan Hareul untuk menjaga adiknya.

Tapi terhitung dua tahun lalu perasaan itu mulai tumbuh, bukan hanya lagi perasaan iba atau sekedar menjadi sosok kakak yang menyayangi adiknya. Perasaan itu tumbuh menjadi seorang lelaki yang ingin melindungi wanitanya, terus menjaganya, tak ingin melihatnya dekat dengan lelaki lain, bukankah perasaan itu lebih cocok di sebut cinta?.

Ya, Si Jae menyukai Haneul ralat mencintai Haneul, walaupun dengan sifat dan sikapnya yang sudah berubah 180 derajat. Tapi sampai sekarang dia tidak pernah menyatakannya pada Haneul takut jikalau Haneul menjadi marah karena pria ini akan melupakan kakaknya, dan Haneul juga tidak bisa merasakannya. Perasaan Si Jae terbelenggu dan tertimbun oleh pekatnya dendam Haneul.

“kau baru saja memanggilku oppa?, tetaplah seperti itu Haneul”.

“berhenti membual tuan park, kau ku gaji bukan untuk itu.”

Sebelumnya Haneul sempat tertegun, benarkah tadi dia menyebutkan kata oppa?. Tapi dengan cepat Haneul kembali ke sikap awalnya, kembali tegas dan datar.

“kau tenanglah, mungkin Jinki memang cukup susah, tapi Suyoung aku baru saja menyelinap ke perusahaannya, ternyata selama ini dia mempunyai catatan buruk yang cukup banyak, terlebih tentang kasus pemakaian obat terlarang, dan juga keluar masuk hotel dengan namja yang berbeda, kasus ini tidak pernah terlihat kepermukaaan karena keluarganya menyembunyikan dan membayar orang-orang untuk menutupi kesalahan Ban Suyoung.”

Cukup terkejut dengan berita yang baru saja di dengarnya, setaunya Suyoung memanglah wanita yang tidak baik dikelas, suka membully dan apapun yang berkaitan dengan hal itu, tapi untuk pemakaian obat-obatan terlarang dan juga bermain dengan namja dihotel, Haneul sama sekali tidak menyangka hal itu.

“tapi aku rasa cukup sulit, karena aku dengar Suyoung sudah tidak melakukan dua hal itu lagi sekarang”.

“tidak ada yang sulit”. Jawab Haneul meyakinan, sekilas ia melihat kearah jam yang bertengger tepat ditengah-tengah dinding caffee.

“ouch, aku sudah terlambat bekerja, Sabtu malam aku akan pergi ke Jeju, apa-apa saja yang harus kau siapkan aku akan mengirimnya lewat pesan nanti.”

Haneul menyambar bubble tea yang ada didepannya, menyeruputnya sedikit dan berlenggang pergi keluar dari caffe tersebut.

Mungkin di Jeju nanti permainan akan menjadi semakin panas, Haneul tidak sabar menunggu hari itu datang.

---The Girl and Her Book---

To be-Continue

No comments:

Post a Comment