sebelum membaca saya ingin memberi tahu kalau, kata yang bercetak plus di bold itu adalah kata hati dari Haneul atau Jinki, tebak sendiri ya, saat itu Haneul yang lagi membatin atau malah Jinki,
SELAMAT MEMBACA
---The Girl and Her Book---
Lee Jinki-Han Haneul
Sad, Romance, Misteri
Jenis Part
FANFICTION
Part 4
---The Girl and Her Book---
Piket kelas dihari selasa, dan hanya
tampak seorang siswa yang membersihkan kelas, siapa lagi kalau bukan Haneul,
selalu seperti ini, Haneul membersihkan semuanya sedangkan teman yang
seharusnya namanya tertera untuk piket hari ini tidak pernah mengerjakan
apapun.
Hari sudah sedikit sore, juga awan
mendung yang memayungi kota hari ini terlihat cukup menyeramkan, harus
cepat-cepat menyelesaikan semuanya kalau tidak ia bisa basah kuyup sampai ke
apartemennya nanti.
Ia beruntung hujan masih belum turun
saat dia menyelesaikan pekerjaannya, segera melangkahkan kakinya keparkiran
sepeda. Terlihat ada sekumpulan murid yang masih berdiri diparkiran.
Haneul melewati mereka semua dan
berlenggang ke arah sepedanya.
“Hei Haneul” sapa salah satu
diantara mereka, Haneul cukup kenal dengan suara yang satu ini, siapa lagi
kalau bukan Ban Suyoung.
Suara melengkingnya, mana bisa
Haneul lupakan. Suyoung menghampiri Haneul, berjalan dengan sombongnya sambil
melipat tangannya di depan dada.
“kau berhentilah mendekati Jinki”.
Heran, hanya itulah yang Haneul
rasakan sekarang.
“kau, menyukainya?. Kalau aku akrab
dengannya mungkin akan kusampaikan rasa sukamu, tapi aku sama sekali tidak
dekat dengannya.” Jawab Haneul to the point.
“Kau…!!!”
“pulanglah, sebentar lagi hujan,
kalian mau make-up kalian luntur?”
Haneul sudah berada di jok
sepedanya. Ingin meninggalkan kumpulan wanita menyebalkan yang sekarang berada
di hadapannya. Terlihat Ban Suyoung seperti menyuruh sesuatu kepada salah satu
temannya yang berbadan cukup bongsor diantara mereka.
Kerah blazer haneul terangkat,
tangan itu begitu berani menyeret Haneul menjauh dari sepedanya, kemudian
badannya terhempas begitu saja ke bawah. Haneul hanya diam saja. Tasnya diambil
paksa oleh salah seorang dari mereka, barang-barang di tas Haneul terlihat sudah
berserakan di sampingnya.
“ah hujan, ayo teman-teman
tinggalkan dia.”
Ban Suyoung seolah menjadi pemimpin
diantara mereka. Meninggalkan Han Haneul dengan barangnya yang masih berserakan
di tanah. Hal pertama yang diselamatkannya adalah buku hitamnya. Itu lebih
berarti dari semua apapun yang ada di tasnya. Menatap tajam kearah mobil audy
merah yang baru saja melintas di depannya.
‘Ini yang kedua kalinya Ban Suyoung,
seberapa sulitnyapun dirimu, tidak akan kulepaskan.’
---The Girl and Her Book---
Riuh, itulah yang mengisi kelas
sebelas A sekarang, siapa lagi yang memulai keributan kalau bukan si cucu
pemilik sekolah –Ban Suyoung-. Ia dan beberapa temannya atau lebih tepatnya
terlihat seperti pengikutnya itu sedang berkeliling kelas membagikan kartu
berwarna biru terang kepada setiap kepala di dalam kelas.
Sepertinya itu sebuah undangan,
semua sangat antusias menerima kartu itu, tapi berbeda dengan Haneul, party
bukanlah kebiasaannya. Ia sama sekali tidak berharap untuk mendapat salah satu
kartu yang ada di tangan Suyoung. Dan dia juga yakin, Suyoung tidak akan
memberikan kartu itu kepadanya.
Sedangkan Jinki, dia belum datang.
Suasana di kelas walaupun cukup ribut tetapi tanpa kehadiran Jinki, Haneul
merasa ini masih masuk dalam daftar dengan keadaan kondusif.
SREKKKK
Pintu kelas tiba-tiba bergeser,
Nampak kepala Jinki menyembul masuk kedalamnya.
Benar-benar berumur panjang pria
yang satu ini, baru saja dibicarakan tiba-tiba saja sudah muncul. Jinki tanpa
disuruhpun ia akan langsung melangkahkan kakinya kearah Haneul, Jinki melewati
Suyoung yang tengah menyodorkan kartu undangan kepadanya.
Ya, seperti itulah Jinki, dia
terlihat dingin untuk orang lain, tetapi jika sudah berhadapan dengan Haneul,
Jinki berubah menjadi sosok yang sangat menyebalkan.
Suyoung masih diam di tempatnya,
merasa marah karena di abaikan dan mungkin ia juga merasa malu terhadap yang
lainnya yang telah melihat kejadian itu, pasalnya baru kali ini seorang Ban
Suyoung di abaikan oleh seorang namja.
“bagaimana kau masih ingin
mengundang Jinki?” Tanya teman Suyoung disebelahnya.
“tentu, dia sudah kumasukkan dalam
daftar tamu istimewa.” Suyoung menjawab itu dengan entengnya.
“tapi bagaimana?, bahkan Jinki tidak
pernah ngobrol denganmu?”
“sepertinya aku harus menambah satu
nama untuk dimasukkan dalam daftar tamu istimewa.”
Pandangan Suyoung beralih
kearah temannya –yang berkacamata- yang sedang membaca buku.
Waktu cepat sekali berlalu, hingga
bel istirahat pertama sudah mengumandang. Seperti biasa suasana kelas
perlahan-lahan akan semakin kosong, jika dahulu hanya menyisakan Haneul di
dalamnya kini sudah beberapa hari kelas itu menyisakan dua orang, Haneul dan
pastinya yang selalu mengekor pada Haneul –Lee Jinki-.
Tapi untuk hari ini sedikit berbeda,
Suyoung dengan teman-temannya sama sekali tidak ikut keluar seperti siswa
lainnya. Bagi Haneul itu bukanlah suatu masalah.
“ige, kau harus datang, ini
acara ulang tahunku” terlihat Suyoung yang tengah menyodorkan undangan kepada
Haneul. Dan tentunya dengan wajah yang dibuat semanis mungkin, ada Jinki di
sebelah Haneul.
“aku tidak bisa hadir”. Jawab Haneul
“ayolah kita tidak pernah akrab
sebelumnya, padahal kitakan sudah satu tahun sekelas”. Ucap Suyoung manja.
Tunggu, sedikit ide terlintas di
benak Haneul. Ada dua orang yang harus disingkirkannya dan dua orang itu sedang
mencoba untuk akrab dengannya. Jika tidak bisa menjatuhkannya dengan kedudukan
mereka, dia bisa menjatuhkannya dengan cara lain.
“baik aku akan datang, tetapi dengan
Jinki yang juga akan ikut. Bagaimana, boleh?” ini sudah yang berkali-kalinya
dia tersenyum sinis untuk orang yang sama.
Dan Suyoung, apalagi yang ditunggu
wanita ini selain mengangguk, memang itulah tujuan awalnya, mengajak Haneul
agar Jinki juga mau ikut, ternyata tidak susah untuk membujuk Haneul, pikirnya.
Setelah menatap Suyoung, Haneul
membelokkan kepalanya menghadap Jinki.
“Bagaimana, kau mau menemaniku?”
Dan untuk kali ini Haneul tidak
ingin menunjukkan senyumnya kepada Jinki. Jinki pasti tau kalau Haneul sedang
berpikir licik.
“Tentu aku mau”. Jinki mana mungki
menolak Haneul.
‘Gwe ternyata Haneul tidak sesulit
yang kau katakan, pesta ini awal moment yang tepat Gwe.’
Setelah Haneul dan Jinki menyatakan
keikutsertaan mereka dalam pesta, Suyoung mengambil ahli untuk berbicara
kembali.
“pestanya akan diadakan di Jeju, di
resort keluargaku, kita akan berkumpul dibandara, hari sabtu malam jam 20.00. Jangan
terlambat.”
Dan kemudian Suyoung berlalu keluar
dari kelas, ia sudah menyiapkan rencana untuk dua orang itu, masing-masing
orang dengan rencana yang berbeda.
Mereka bertiga mempunyai rencana
masing-masing, Haneul untuk Suyoung dan Jinki. Jinki untuk Haneul, dan Suyoung
untuk Haneul dan Jinki.
Ketiga orang ini sebenarnya apa yang
direncanakan mereka?, rencana mana yang paling picik? dan siapa yang akan
berhasil menyelesaikan rencana masing-masing?. Sepertinya ada dendam yang
berbeda-beda diantara ketiga orang tersebut.
---The Girl and Her Book---
Kedua roda sepeda itu berhenti di
halaman parkir sebuah caffe yang terletak tepat didepan sebuah gedung management
artis yang bisa dibilang paling terkemuka dari management-management artis
lainnya.
Menyejajarkan sepedanya di samping
barisan mobil-mobil mewah milik para pengunjung lainnya.
Klingg Klingg
Suara bel caffe itu berbunyi
dua kali, menandakan ada pengunjung yang baru saja masuk atau yang keluar. Tapi
untuk kali ini bel itu berbunyi karena baru saja ada yang masuk.
Ya, yang masuk itu adalah Haneul,
dengan setelan kaos merah kedodoran dan jeans hitam, terlihat sangat
bagus menempel di tubuhnya. Melangkah masuk lebih dalam lagi dan duduk di kursi
depan namja muda yang memakai jasnya.
Di depannya sudah tersedia bubble
tea untuknya.
Saat Haneul duduk namja
didepannya malah bangkit dan menunduk hormat kearahnya.
“duduklah, sebenarnya apa yang ingin
kau sampaikan tuan Park”.
Ternyata yang sedang berhadapan
dengan Haneul sekarang adalah namja yang sering di panggilnya tuan Park
–sekertarisnya- selama ini. Jika dibayangkan tuan park pasti seorang pria
dengan wajah sedikit tua. Ternyata salah, tuan Park yang satu ini kelihatan
muda, mungkin 4 atau 5 tahun di atas umur Haneul, dengan wajah yang cukup
tampan dan tinggi yang sangat keterlaluan. Hanya sekedar info tuan Park adalah
mantan kekasih kakaknya dulu. Nama lengkapnya adalah Park Si Jae.
“berhentilah, memanggilku tuan park
aku merasa seperti ajushi-ajushi yang telah berumur banyak.” Si Jae coba
mengeles dihadapan Haneul, namun itu sama sekali tidak berhasil.
Semenjak kejadian beberapa tahun
yang lalu, Haneul yang polos sudah berubah menjadi Haneul yang mengerikan,
menyedihkan dan bermuka datar.
Melihat Haneul yang sama sekali
tidak merespon, Si Jae langsung tau kalau ia harus bersikap layaknya atasan
dengan bawahannya.
“Jinki”. Mata Haneul langsung
melotot mendengar nama itu disebut.
“Jinki, dia pernah belajar dan
menetap di Canada, menjadi siswa teladan disana, tinggal sendirian. Sebelum
pindah ke Canada, Jinki tinggal di sebuah rumah di kawasan Gangnam, rumah itu
sudah di tempati oleh orang lain. Sekarang ini ia tinggal di kawasan apartement
hanya dua block dari sini, lantai 8 nomor pintu 83.” Jelas Si Jae
Panjang lebar dan sepertinya Haneul sama sekali belum puas, bukan ini yang
ingin di dengarnya dari pria di depannya ini.
“lalu bagaimana dengan status
keluarganya, apakah dari keluarga pebisnis atau keluarga terpandang lainnya?
Catatan buruknya apakah ada?”. Haneul selalu menanyakan hal itu pada Si Jae.
“aku belum bisa melacak keluarganya,
selama di Canada dia tinggal sendiri, bahkan setelah kutanyai pada
teman-temannya, mereka mengatakan Jinki bersekolah dengan beasiswa dan untuk
hidupnya ia bekerja part time di salah satu toko buku. Catatan buruk, ia
sama sekali tak memilikinya, ia terkenal pendiam.”
‘Pendiam apanya?, dia selalu
merecokiku di kelas.’
“sepertinya mereka berdua sama
sekali tidak mempunyai kelemahan, apa aku harus menyerah, oppa?”.
Benarkah yang baru saja di dengar
oleh Si Jae. Haneul memanggilnya kembali dengan sebutan oppa?. Dan juga
bahasa yang digunakannya tidak formal.
Gadis didepannya ini, sudah cukup
lama Si Jae menyimpan perasaannya untuknya. Mungkin memang benar Si Jae belum
bisa melupakan kakak dari Haneul –Hareul-. Awalnya memang Si Jae hanya merasa
iba, peduli pada Haneul dan mencoba menjadi seseorang yang bisa menggantikan
Hareul untuk menjaga adiknya.
Tapi terhitung dua tahun lalu
perasaan itu mulai tumbuh, bukan hanya lagi perasaan iba atau sekedar menjadi
sosok kakak yang menyayangi adiknya. Perasaan itu tumbuh menjadi seorang lelaki
yang ingin melindungi wanitanya, terus menjaganya, tak ingin melihatnya dekat
dengan lelaki lain, bukankah perasaan itu lebih cocok di sebut cinta?.
Ya, Si Jae menyukai Haneul ralat
mencintai Haneul, walaupun dengan sifat dan sikapnya yang sudah berubah 180
derajat. Tapi sampai sekarang dia tidak pernah menyatakannya pada Haneul takut
jikalau Haneul menjadi marah karena pria ini akan melupakan kakaknya, dan
Haneul juga tidak bisa merasakannya. Perasaan Si Jae terbelenggu dan tertimbun
oleh pekatnya dendam Haneul.
“kau baru saja memanggilku oppa?,
tetaplah seperti itu Haneul”.
“berhenti membual tuan park, kau ku
gaji bukan untuk itu.”
Sebelumnya Haneul sempat tertegun,
benarkah tadi dia menyebutkan kata oppa?. Tapi dengan cepat Haneul
kembali ke sikap awalnya, kembali tegas dan datar.
“kau tenanglah, mungkin Jinki memang
cukup susah, tapi Suyoung aku baru saja menyelinap ke perusahaannya, ternyata
selama ini dia mempunyai catatan buruk yang cukup banyak, terlebih tentang
kasus pemakaian obat terlarang, dan juga keluar masuk hotel dengan namja
yang berbeda, kasus ini tidak pernah terlihat kepermukaaan karena keluarganya
menyembunyikan dan membayar orang-orang untuk menutupi kesalahan Ban Suyoung.”
Cukup terkejut dengan berita yang
baru saja di dengarnya, setaunya Suyoung memanglah wanita yang tidak baik
dikelas, suka membully dan apapun yang berkaitan dengan hal itu, tapi
untuk pemakaian obat-obatan terlarang dan juga bermain dengan namja dihotel,
Haneul sama sekali tidak menyangka hal itu.
“tapi aku rasa cukup sulit, karena
aku dengar Suyoung sudah tidak melakukan dua hal itu lagi sekarang”.
“tidak ada yang sulit”. Jawab Haneul
meyakinan, sekilas ia melihat kearah jam yang bertengger tepat ditengah-tengah
dinding caffee.
“ouch, aku sudah terlambat bekerja,
Sabtu malam aku akan pergi ke Jeju, apa-apa saja yang harus kau siapkan aku
akan mengirimnya lewat pesan nanti.”
Haneul menyambar bubble tea
yang ada didepannya, menyeruputnya sedikit dan berlenggang pergi keluar dari caffe
tersebut.
Mungkin di Jeju nanti permainan akan
menjadi semakin panas, Haneul tidak sabar menunggu hari itu datang.
---The Girl and Her Book---
To be-Continue

No comments:
Post a Comment