Dia? Siapa? sedikit buram
dan karena berada cukup jauh dari tempatku berdiri, kentara sekali di depan
sana dia sedang tersenyum manis. Terus seperti itu, tidak ada yg bisa di
katakan.
Ini? Dimana ini? Hanya ada
kami berdua yang terpisah cukup jauh, seperti berada di awang-awang dengan
sesosok wanita misterius di depan sana, sedikit kabut tipis telah terhindar
dari depan wajahnya, membuat pandangan ini lebih jelas memandang sosok itu, seorang wanita, berkerudung,
masih tetap tersenyum. Apa aku mengenalnya? Atau apa kami bisa berkenalan? Di
perhatikan lamat-lamat dengan lebih rinci.
Dia seperti...
Dia... Semakin jelas terlihat.
Ya, aku tidak mungkin salah
lihatkan?, kenapa hanya ada kami berdua? Dan dimana ini? Hey, dia mulai berbalik
berjalan ke arah berlawanan dariku, semakin jauh, semakin jauh, hingga kabut
tipis-tipis tadi seolah melenyapkan keberadaannya. Tinggal aku sendiri, di
tengah kabut, sepi, dan tersingkir.
Dunia berganti, oh tidak, itu
cuma mimpi di kampung orang, aneh sekali, mimpi itu, aku tidak pernah
memimpikan hal seperti itu sebelumnya selama tidur.
Kenapa, orang baru itu? kenapa Nona 'N' yang tidak terjangkau itu? Seharusnya lebih banyak orang yang
bisa hadir di dalam mimpiku, terlebih yang bisa dikatakan selalu dekat
denganku. Kenapa tidak Tuan 'R' atau 'D', atau nona lainnya yang lebih
terjangkau? mungkin ini hanya menjadi misteri tuhan, misteri alam mimpi yang
tidak bisa di prediksi jalan ceritanya.
Kumandang sahur dari warga
sekitar perkampungan membuatku beranjak dan membangunkan tuan lainnya untuk
sahur bersama dengan nona-nona temanku di rumah yang bersedia menampung kami.
Dia belum keluar dari
kamarnya, si Nona 'N', aku hanya ingin memastikan bahwa betul yang ada di
mimpiku tadi adalah dia, aku ingin memastikan dengan melihat wajahnya secara
langsung. Walau tetap saja aku yakin itu dia, siapa lagi orang yang ku kenal,
berwajah bundar, bibir tebal dan mata sipit one eyelidnya, kalau bukan dia si Nona 'N'.
Tapi, dia belum juga terlihat
sampai kami selesai melakukan shalat subuh berjamaah. Kemana dia? Apa perlu kutanyakan? Tidak, itu akan menimbulkan berita gosip di antara nona-nona, dan
aku benci gosip apalagi dijadikan bahan gosip itu sendiri.
Seperti yang seharusnya ku
tebak, kenapa tidak terfikir olehku, apalagi yang tidak membuatnya keluar kamar
selain tamu bulanan, setahuku itu adalah hal menyebalkan yang melanda
perempuan, ditambah dengan sakit yang sering mereka eluh-eluhkan di bagian
perut saat tamu itu datang. Oh, tidak, apa dia sedang sakit sekarang?
Apa ini? Kecemasanku karena
sebuah mimpi? Apa yang ku istimewakan darinya?.
Dia, masih mampu untuk ikut
membersihkan masjid bersama-sama, masih mampu untuk mengadakan lomba antar
anak-anak cilik di kampung, itu artinya dia baik-baik saja. Tidak pucat, tidak
nampak kesakitan, dan itu sedikit menderukan di hati, dia baik-baik saja dan
aku senang akan hal itu.
Kesempatan suatu malam, dia
yang ikut dalam boncengan Tuan 'D' mendadak sampai duluan dari pada yang
lainnya ke rumah penampungan kami ini. Disana hanya masih ada aku, Tuan 'R' dan
tentunya Tuan 'D' yang tadi memberikan tumpangan kilat untuknya.
Kesempatan, walau sudah tau
yang di dalam mimpi itu pasti dia, tapi kapan lagi bisa melihat wajahnya secara
jelas dan lebih dekat. Jadi, kuperhatikan lamat-lamat lekukan itu, berharap
tidak berbeda se-milimeterpun dari apa yang ku impikan, tentu disana, Tuan 'D'
dan 'R' memandangku sengit dan tergepoh tidak percaya akan hal yang aku
lancarkan ke Nona 'N'. Memperhatikan wajahnya dengan cukup dekat, sedikit lebih
lama di depan wajah molek itu, tapi karena deru langkah ramai-ramai di belakang
kami, serta riuh nona-nona yang suka bergosip, dan satu lagi yang mengejutkan
yang menghentikanku dari aksi menatap wajah itu.
"Tuan '3', apa yang kau
lakukan dengan Nona 'N'?" Oh tidak, matilah aku, setelah itu pasti aku
tidak akan luput dari buah bibir mereka. Dan Nona 'N' disitu tampak shock. Apa
yang kulakukan padanya?.
(Nona 'N' kenapa kau harus
masuk dalam mimpiku?)

+Hheemm...
ReplyDeleteBener tu..? Jadi bagaiamana nasib 3 dalam Realita..? Terkadang dia bertanya dalam dirinya, tentang perasaan sesungguhnya si nona N terhadapnya. Pagi, siang dan malam dia selalu bertanya kabar nona N yang hari demi hari mulai sayup kabarnya ditelinga.
(Ada apa dengan nona N..? Tuan D bertanya)
buat yang ngakunya jadi tuan D,
Deleteini proyek imajinasi, jadi yang namanya realita kyknya nggak terjamah.
nanti saya tanyain ke nona N nya dulu ya