Tuesday, March 29, 2016

Catatan Seorang Pria (Sebuah Mimpi di Kampung Orang)

Dia? Siapa? sedikit buram dan karena berada cukup jauh dari tempatku berdiri, kentara sekali di depan sana dia sedang tersenyum manis. Terus seperti itu, tidak ada yg bisa di katakan.

      Ini? Dimana ini? Hanya ada kami berdua yang terpisah cukup jauh, seperti berada di awang-awang dengan sesosok wanita misterius di depan sana, sedikit kabut tipis telah terhindar dari depan wajahnya, membuat pandangan ini lebih jelas memandang sosok itu, seorang wanita, berkerudung, masih tetap tersenyum. Apa aku mengenalnya? Atau apa kami bisa berkenalan? Di perhatikan lamat-lamat dengan lebih rinci.
Dia seperti...
Dia... Semakin jelas terlihat.
Dia... Si nona 'N'.
      Ya, aku tidak mungkin salah lihatkan?, kenapa hanya ada kami berdua? Dan dimana ini? Hey, dia mulai berbalik berjalan ke arah berlawanan dariku, semakin jauh, semakin jauh, hingga kabut tipis-tipis tadi seolah melenyapkan keberadaannya. Tinggal aku sendiri, di tengah kabut, sepi, dan tersingkir.

      Dunia berganti, oh tidak, itu cuma mimpi di kampung orang, aneh sekali, mimpi itu, aku tidak pernah memimpikan hal seperti itu sebelumnya selama tidur.

      Kenapa, orang baru itu? kenapa Nona 'N' yang tidak terjangkau itu? Seharusnya lebih banyak orang yang bisa hadir di dalam mimpiku, terlebih yang bisa dikatakan selalu dekat denganku. Kenapa tidak Tuan 'R' atau 'D', atau nona lainnya yang lebih terjangkau? mungkin ini hanya menjadi misteri tuhan, misteri alam mimpi yang tidak bisa di prediksi jalan ceritanya.

      Kumandang sahur dari warga sekitar perkampungan membuatku beranjak dan membangunkan tuan lainnya untuk sahur bersama dengan nona-nona temanku di rumah yang bersedia menampung kami.

      Dia belum keluar dari kamarnya, si Nona 'N', aku hanya ingin memastikan bahwa betul yang ada di mimpiku tadi adalah dia, aku ingin memastikan dengan melihat wajahnya secara langsung. Walau tetap saja aku yakin itu dia, siapa lagi orang yang ku kenal, berwajah bundar, bibir tebal dan mata sipit one eyelidnya, kalau bukan dia si Nona 'N'.

      Tapi, dia belum juga terlihat sampai kami selesai melakukan shalat subuh berjamaah. Kemana dia? Apa perlu kutanyakan? Tidak, itu akan menimbulkan berita gosip di antara nona-nona, dan aku benci gosip apalagi dijadikan bahan gosip itu sendiri.

      Seperti yang seharusnya ku tebak, kenapa tidak terfikir olehku, apalagi yang tidak membuatnya keluar kamar selain tamu bulanan, setahuku itu adalah hal menyebalkan yang melanda perempuan, ditambah dengan sakit yang sering mereka eluh-eluhkan di bagian perut saat tamu itu datang. Oh, tidak, apa dia sedang sakit sekarang?

      Apa ini? Kecemasanku karena sebuah mimpi? Apa yang ku istimewakan darinya?.

      Dia, masih mampu untuk ikut membersihkan masjid bersama-sama, masih mampu untuk mengadakan lomba antar anak-anak cilik di kampung, itu artinya dia baik-baik saja. Tidak pucat, tidak nampak kesakitan, dan itu sedikit menderukan di hati, dia baik-baik saja dan aku senang akan hal itu.

      Kesempatan suatu malam, dia yang ikut dalam boncengan Tuan 'D' mendadak sampai duluan dari pada yang lainnya ke rumah penampungan kami ini. Disana hanya masih ada aku, Tuan 'R' dan tentunya Tuan 'D' yang tadi memberikan tumpangan kilat untuknya.

      Kesempatan, walau sudah tau yang di dalam mimpi itu pasti dia, tapi kapan lagi bisa melihat wajahnya secara jelas dan lebih dekat. Jadi, kuperhatikan lamat-lamat lekukan itu, berharap tidak berbeda se-milimeterpun dari apa yang ku impikan, tentu disana, Tuan 'D' dan 'R' memandangku sengit dan tergepoh tidak percaya akan hal yang aku lancarkan ke Nona 'N'. Memperhatikan wajahnya dengan cukup dekat, sedikit lebih lama di depan wajah molek itu, tapi karena deru langkah ramai-ramai di belakang kami, serta riuh nona-nona yang suka bergosip, dan satu lagi yang mengejutkan yang menghentikanku dari aksi menatap wajah itu.

      "Tuan '3', apa yang kau lakukan dengan Nona 'N'?" Oh tidak, matilah aku, setelah itu pasti aku tidak akan luput dari buah bibir mereka. Dan Nona 'N' disitu tampak shock. Apa yang kulakukan padanya?.

(Nona 'N' kenapa kau harus masuk dalam mimpiku?)

2 comments:

  1. +Hheemm...
    Bener tu..? Jadi bagaiamana nasib 3 dalam Realita..? Terkadang dia bertanya dalam dirinya, tentang perasaan sesungguhnya si nona N terhadapnya. Pagi, siang dan malam dia selalu bertanya kabar nona N yang hari demi hari mulai sayup kabarnya ditelinga.
    (Ada apa dengan nona N..? Tuan D bertanya)

    ReplyDelete
    Replies
    1. buat yang ngakunya jadi tuan D,
      ini proyek imajinasi, jadi yang namanya realita kyknya nggak terjamah.
      nanti saya tanyain ke nona N nya dulu ya

      Delete